Ilustrasi gagal ginjal akut pada anak (Getty Images/Edited By HerStory)
Difteri memiliki sejarah panjang, dengan wabah pertama yang tercatat terjadi di Spanyol pada abad ke-16. Penyakit ini pernah menjadi penyebab utama kematian anak-anak di banyak bagian dunia.
Kini, penyakit difteri kembali muncul di abad ke-21. Yuk, simak penjelasan lebih lengkap mengenai penyakit difteri!
Difteri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyakit ini terutama mempengaruhi sistem pernapasan dan juga dapat menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal, dan sistem saraf.
Gejala difteri dapat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan infeksi. Gejala awal penyakit ini mungkin termasuk sakit tenggorokan, demam, dan menggigil.
Seiring perkembangan penyakit, membran putih keabu-abuan yang tebal dapat terbentuk di tenggorokan atau hidung, yang dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan menelan.
Dalam kasus yang parah, membran dapat menyebar ke bagian lain dari tubuh, seperti jantung dan sistem saraf, yang dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian.
Salah satu alasan munculnya kembali difteri adalah meningkatnya kecenderungan keragu-raguan vaksin. Keragu-raguan vaksin mengacu pada keengganan atau penolakan untuk memvaksinasi meskipun vaksin tersedia.
Selain itu, faktor lain yang berkontribusi terhadap kebangkitan difteri adalah kurangnya akses vaksin di beberapa bagian dunia. Di negara berpenghasilan rendah, banyak anak tidak memiliki akses ke vaksin karena keterbatasan sumber daya dan infrastruktur.