Sumber konten: istimewa
Oleh: dr. Ika Ayu Windyasari
"Kisah seorang anak yang memilih jalan kepemimpinan sejak dini, bukan demi gengsi atau kuasa, tapi demi cinta kepada ibu dan adiknya."
Sejak duduk di bangku kelas 2 SMP, Dylan telah menunjukkan arah hidup yang jelas: ia memilih untuk masuk SMAN Taruna demi menggapai cita-citanya menjadi perwira tinggi TNI Angkatan Laut. Dalam sebuah percakapan keluarga, ia pernah berkata, “Saya ingin menjadi kuat agar bisa melindungi Ibu dan adik saya.”
Ucapan yang mungkin terdengar sederhana, namun sarat makna. Dari sanalah tampak benih tanggung jawab yang tumbuh dari cinta, nilai luhur yang tak mudah ditemukan di usia muda.
Pilihan itu bukan didorong oleh ambisi kosong, melainkan lahir dari kesadaran diri yang kuat. Dylan menapaki jalannya dengan kedisiplinan: melatih fisik secara rutin, mengelola emosi dengan stabil, dan tetap rendah hati dalam prosesnya. Orang tuanya menyaksikan proses tersebut, proses yang sunyi, stabil, dan dipenuhi tekad. Di balik itu semua, terdapat satu kekuatan pendorong: cinta yang menghidupkan daya juang.
Dalam perspektif Islam, tanggung jawab terhadap keluarga bukan hanya etika sosial, tetapi amanah spiritual. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Dylan memaknai kekuatan bukan sebagai alat untuk berkuasa, melainkan sebagai kemampuan untuk menjaga. Dan semangat menjaga itu tumbuh dari relasi yang hangat, penuh kelekatan emosional. Dalam kajian psikologi perkembangan, pola pengasuhan ini dikenal sebagai secure attachment, yang menurut Waters et al. (2020) berkontribusi besar terhadap resiliensi jangka panjang seorang anak.
Dua hal penting dalam pengasuhan yang efektif, menurut Soenens & Vansteenkiste (2020), adalah:
Orang tua Dylan tampaknya telah menerapkan prinsip ini secara seimbang. Mereka tidak bertindak sebagai pengarah yang kaku, melainkan sebagai penjaga nilai dan pendukung setia. Dylan diberi ruang untuk merancang tujuannya sendiri. Ia tidak dikontrol, justru dikokohkan.
Dalam hadits Nabi Muhammad SAW disebutkan:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Peran kepemimpinan ini mulai ditumbuhkan sejak dini di rumah, bukan dengan ceramah ataupun paksaan, namun melalui tanggung jawab kecil yang dijalani konsisten: aktif di kegiatan sekolah, belajar mandiri, serta berlatih fisik secara rutin.
Banyak orang tua bertanya, “Bagaimana membentuk karakter anak?” Jawaban dari para pakar pendidikan karakter masa kini tidak sekadar menunjuk pada teori atau ceramah, melainkan pada praktik keseharian yang bermakna.
Trilling dan Fadel (2015) menegaskan bahwa pendidikan karakter abad ke-21 harus berbasis pada pengalaman nyata dan emosi yang relevan, bukan semata hafalan atau slogan. Dalam hal ini, cinta Dylan terhadap keluarganya menjadi fondasi terdalam dari semangat perjuangannya.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua (orang tuamu) dengan penuh kasih sayang…” (QS. Al-Isra’: 24)
Nilai ini tidak diajarkan melalui buku teks, tetapi dihidupkan dari rumah.
Ksatria yang Lahir dari Keikhlasan
Kini, Dylan telah resmi diterima di SMAN Taruna. Namun jauh sebelum itu, ia telah menapaki jalan seorang ksatria. Lebih dari sekadar karena seragam atau gagah-gagahan, melainkan karena niat suci untuk mengabdi dan melindungi.
Masya Allah, Tabarakallah. Semoga kelak Dylan tumbuh menjadi perwira yang bukan semata-mata menjaga tanah air, sekaligus juga menjaga nilai-nilai luhur bangsanya. Harapan itu bukan hanya untuk Dylan, tetapi juga untuk anak-anak Indonesia lainnya, agar mereka tumbuh sebagai ksatria tangguh: kuat karena cinta, tenang karena iman, dan pulang dengan kehormatan.
Ika Ayu Windyasari adalah dokter estetika dan anti-penuaan, praktik di Bulungan Clinic Center (BCC) Jakarta. Seorang ibu yang memiliki minat pada isu keseimbangan peran perempuan dalam keluarga modern.
Daftar Referensi