Menu

Nutrisi Jadi Kunci Pencegahan Masalah Kesehatan Anak, Moms Simak Yuk Penjelasannya

02 September 2025 00:09 WIB

sumber: istimewa

HerStory, Jakarta —

Indonesia masih menghadapi tantangan besar di bidang kesehatan anak. Data Survei Kesehatan Indonesia 2024 mencatat 23,8% anak balita mengalami anemia, sementara 19,8% lainnya menderita stunting. Kondisi ini, ditambah tingginya angka kelahiran prematur dan meningkatnya kasus alergi susu sapi, bukan hanya mengganggu tumbuh kembang optimal anak, tetapi juga mengancam kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Isu strategis ini menjadi sorotan dalam Healthcare Innovation Leaders Asia 2025, forum internasional yang digelar di Jakarta pada 27–28 Agustus 2025. Forum ini mempertemukan pemimpin kesehatan, pembuat kebijakan, dan inovator global untuk membahas tantangan kesehatan Asia, mulai dari transformasi digital, rumah sakit pintar berbasis AI, hingga penguatan kolaborasi publik-swasta.

Medical & Scientific Affairs Director Nutricia Sarihusada, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menekankan bahwa pencegahan adalah investasi yang penting dan berdampak luas.

“Riset menunjukkan intervensi preventif efektif jika biayanya terjangkau, mencegah perawatan lanjutan yang mahal, dan menjangkau populasi dalam skala besar sehingga dampaknya signifikan. Hal ini sangat relevan dengan situasi di Indonesia, dimana masalah stunting, anemia, kelahiran prematur, hingga alergi protein susu sapi masih menjadi tantangan besar yang jika tidak dicegah akan berdampak serius pada kualitas hidup anak serta menambah beban biaya kesehatan nasional. Deteksi dini menjadi kunci pencegahan masalah kesehatan pada anak, salah satunya dengan inovasi seperti ‘Iron Calculator’ maupun pemeriksaan digital non-invasif yang kami inisiasi, risiko kesehatan anak dapat dikenali lebih cepat sehingga intervensi tepat bisa dilakukan sebelum terlambat,” jelas dr. Ray.

Pandangan ini diperkuat hasil studi Departemen Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang menyebutkan bahwa skrining dini dan intervensi nutrisi berperan penting dalam menurunkan risiko masalah kesehatan anak serta biaya perawatan jangka panjang.

Menurut dr. Ray, pencegahan anemia dapat dilakukan melalui suplementasi zat besi, vitamin C, dan fortifikasi makanan, sementara pencegahan stunting perlu dimulai sejak masa kehamilan dengan pemenuhan nutrisi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, dan asupan protein hewani.

Direktur Perencanaan Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan, Laode Musafin, SKM, M.Kes, menambahkan bahwa pemerintah terus menguatkan ekosistem kesehatan preventif berbasis teknologi dan data. Melalui platform DREAMS, Kemenkes menyediakan data kesehatan terintegrasi sebagai panduan bagi daerah dalam menentukan prioritas intervensi.

Partisipasi Danone Specialized Nutrition Indonesia dalam forum ini menegaskan komitmennya mendukung strategi nasional pencegahan stunting dan anemia melalui edukasi, riset ilmiah, dan kolaborasi lintas sektor.

Upaya ini sejalan dengan rekomendasi World Bank yang menilai bahwa investasi pada nutrisi berpotensi meningkatkan produktivitas ekonomi negara berpendapatan menengah dan rendah hingga 110 miliar dolar AS, serta pandangan WHO bahwa gizi yang lebih baik akan berdampak pada kesehatan jangka panjang anak dan ibu.

Share Artikel:

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Artikel Pilihan