Menu

Digitalisasi Kesehatan Anak, Cermata Hadirkan Solusi di Sekolah!

10 Oktober 2025 08:46 WIB

Cermata (Istimewa)

HerStory, Jakarta —

Sekolah kini tak sekadar tempat belajar, tetapi juga menjadi pintu penting dalam menjaga kesehatan anak. Melalui inovasi digital bernama Cermata, skrining kesehatan mata dan jiwa kini bisa dilakukan langsung di sekolah, bahkan bagi anak dengan disabilitas.

Program ini diluncurkan oleh Health Collaborative Center (HCC), Laulima Eye Health Initiative, dan Indonesian Health Development Center (IHDC) sebagai langkah nyata memperkuat kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. 

FYI nih Beauty, Cermata merupakan adaptasi lokal dari platform WHOeyes yang hadir menjawab keterbatasan skrining konvensional di sekolah dasar.

Menurut Dr. Kianti Raisa Darusman, SpM(K) selaku Project Leader dan Peneliti Utama, Cermata menawarkan pendekatan holistik dengan menggabungkan pemeriksaan penglihatan dan kesehatan mental anak.

“Cermata ini belum pernah dilakukan di Indonesia dan terbukti efektif meningkatkan cakupan serta efektivitas deteksi dini untuk gangguan penglihatan dan kesehatan jiwa anak selama proses belajar,” ujar dr. Kianti, Kamis (10/10/2025).

Dari hasil uji coba terhadap lebih dari 1.200 anak SD di Jakarta, platform ini menunjukkan bahwa 40% anak mengalami gangguan penglihatan, 70% memiliki indikasi gangguan emosional, 50% mengalami masalah perilaku, dan 27% menunjukkan gejala hiperaktivitas. 

Adanya fakta ini menegaskan pentingnya peran sekolah dalam mendeteksi dini masalah yang sering luput dari perhatian orang tua.

Dr. Kianti menambahkan, Cermata juga membantu guru mengenali anak-anak yang mungkin mengalami kecemasan akibat gangguan penglihatan. 

“Guru merasa sangat terbantu karena bisa memantau kondisi anak dan memahami perilaku belajar mereka,” ujarnya.

Cermata dikembangkan antara Mei hingga Oktober 2025 dengan melibatkan 11 pakar multidisiplin, 128 pendamping anak, serta uji validasi di 849 pelajar SD dan SLB. 

Selain itu, platform ini terintegrasi dengan kuesioner PedEyeQ, yang menilai fungsi visual, keterbatasan sosial, hingga kekhawatiran anak.

Mantan Menteri Kesehatan RI Prof. Nila F. Moeloek, selaku Penasehat Utama Cermata, menyebut inovasi ini sebagai langkah penting untuk kesehatan publik.

“Melalui digitalisasi, skrining bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, termasuk di sekolah. Cermata juga dirancang inklusif bagi anak disabilitas dan telah memenuhi standar validitas ilmiah,” ungkapnya.

Prof. Nila menegaskan, Cermata bukan sekadar alat skrining, tetapi gerakan kolaboratif antara guru, orang tua, dan tenaga kesehatan. 

Nantinya, hasil pemeriksaan ini akan menjadi pintu masuk jejaring rujukan ke puskesmas dan fasilitas kesehatan lanjutan agar setiap anak mendapat penanganan tepat sejak dini.

Share Artikel:

Oleh: Azka Elfriza

Latest Articles

Top Stories

Artikel Pilihan