Film Riba (Istimewa)
Horor tak melulu soal hantu, Beauty. Film Riba produksi Verona Films datang dengan ketegangan yang berbeda yakni rasa bersalah dan karma dari keputusan fatal manusia.
FYI nih Beauty, film Riba merupakan karya perdana Verona Films yang sebelumnya berjudul Getih Anak. Adanya perubahan judul dilakukan karena kisahnya lebih berfokus pada sisi sosial dan moral ketimbang teror supranatural semata.
“Judul Getih Anak terlalu menekankan kesan horor yang eksplisit. Padahal, cerita ini lebih dalam, menyentuh isu sosial yang relevan di masyarakat,” tulis Verona Films dalam keterangan resminya.
Menggandeng produser berpengalaman, Titin Suryani dan sutradara muda berbakat Adhe Dharmastriya, Riba diadaptasi dari thread viral di akun @mitologue di platform X (dulu Twitter) yang telah dibaca lebih dari 3,9 juta kali dengan lebih dari 20 ribu likes.
Konon, cerita ini diangkat dari kisah nyata yang memadukan unsur spiritual, ekonomi, dan psikologis hingga menciptakan horor yang tak kasat mata namun terasa menekan.
“Kami ingin penonton film Indonesia merasakan horor yang tidak hanya datang dari sosok makhluk gaib, tetapi juga dari dosa dan karma yang tak terhindarkan,” ungkap Titin Suryani.
Ia menambahkan, film ini menawarkan pengalaman baru dalam genre horor, yakni ketakutan yang tumbuh dari dalam diri sendiri.
Riba tak hanya berusaha menakuti, tapi juga menyampaikan pesan moral tentang bahaya praktik ekonomi yang dilarang agama.
Melalui kisahnya, film ini mengingatkan bahwa utang, keserakahan, dan keputusan keliru dapat menghancurkan keharmonisan hidup dan keluarga.
Verona Films berharap Riba bisa membuka ruang refleksi bagi penonton untuk melihat bahwa ketakutan sejati sering kali tidak datang dari luar, melainkan dari konsekuensi perbuatan manusia sendiri.
Kalau kamu tertarik, siap-siap nantikan film ini di seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Desember 2025, ya!