Menu

Empat Kunci, Satu Pintu, Ini Makna Toleransi dari Alumni Pangudi Luhur

23 Oktober 2025 23:25 WIB

Alumni SMA Pangudi Luhur (Istimewa)

HerStory, Jakarta —

Terowongan Silaturahim yang menghubungkan Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal. Di tempat yang jadi simbol toleransi ini, Ikatan Alumni SMA Pangudi Luhur Jakarta (IKPL) menggelar kegiatan bertajuk “Empat Kunci, Satu Pintu Persaudaraan.”

Diketahui bahwa acara ini menjadi bagian dari rangkaian Road to Lustrum XII menuju puncak perayaan pada 15 November 2025 mendatang.

Empat lembaga besar yakni Keuskupan Agung Jakarta, Masjid Istiqlal, Yayasan Pangudi Luhur, dan SMA Pangudi Luhur dipertemukan dalam momen bersejarah ini.

Mereka berjalan dari dua arah terowongan, bertemu di tengah, lalu bersama-sama “membuka” simbolik pintu persaudaraan menggunakan empat kunci yang melambangkan kasih, kedamaian, pendidikan, dan brotherhood lintas generasi.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, Suparman, menegaskan makna kegiatan ini sebagai cermin kebersamaan bangsa.

“Kita tidak perlu mempertentangkan perbedaan, karena semua agama mengajarkan kasih. Islam mengenal Ar-Rahman Ar-Rahim, Kristen mengajarkan kasih sesama manusia, demikian pula agama lainnya. Perbedaan itu nyata, tetapi bukan untuk dipertentangkan,” ujarnya.

Ketua IKPL, Ichsan Perwira Kurniagung, menambahkan bahwa semangat Lustrum XII bukan sekadar nostalgia sekolah, tapi juga wujud nilai kemanusiaan yang dihidupi alumni.

“Toleransi bukan slogan, tetapi komitmen. Keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan untuk saling merangkul,” katanya.

Kehadiran keluarga Silaban, arsitek Masjid Istiqlal, menjadi penanda hubungan batin antara dua rumah ibadah terbesar di Indonesia.

Ketua Yayasan Pangudi Luhur, Bruder Fransiskus Asisi Dwiyatno, FIC, menyebut kegiatan ini sebagai wujud pendidikan humanis yang diajarkan sejak lama.

“Anak-anak Pangudi Luhur belajar hidup bersaudara lintas budaya dan agama, sebagai satu keluarga besar bangsa Indonesia,” tuturnya.

Rangkaian kegiatan Road to Lustrum XII juga mencakup aksi sosial seperti BrotherCare di RSAB Harapan Kita bersama anak-anak penderita kanker, serta kegiatan budaya dan olahraga.

Sejak berdiri pada 1965, SMA Pangudi Luhur dikenal menanamkan nilai kasih, tanggung jawab, dan solidaritas lintas iman, nilai yang kini kembali hidup di jantung kota Jakarta, di bawah Terowongan Silaturahim yang menjadi saksi nyata harmoni antarumat beragama.

Share Artikel:

Oleh: Azka Elfriza

Artikel Pilihan