Ilustrasi sakit karena demam berdarah. (Pinterest/Freepik)
Di tengah meningkatnya risiko penularan dengue akibat perubahan iklim dan datangnya musim hujan lebih awal, Takeda bersama pemerintah dan pemangku kepentingan sektor kesehatan menggelar media briefing bertajuk “Urgensi dan Kepemimpinan Indonesia dalam Perjuangan Melawan Dengue”, Senin (3/11/2025).
Acara ini menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan dalam pengendalian dengue sebagai bagian dari target nasional “Zero Dengue Deaths 2030.”
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan 2025/2026 akan dimulai lebih awal pada Agustus dengan puncak antara November 2025 hingga Februari 2026. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir dan genangan air yang dapat mempercepat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Derek Wallace, President Global Vaccine Business Unit Takeda Pharmaceuticals, menyatakan peningkatan global kasus dengue menuntut langkah kolaboratif yang lebih kuat.
“Hingga April 2024, WHO mencatat lebih dari 7,6 juta kasus dengue di dunia, termasuk 16.000 kasus berat dan 3.000 kematian. Indonesia masih menjadi salah satu penyumbang terbesar kematian akibat dengue di Asia. Namun pada 2025, Indonesia menunjukkan capaian signifikan dalam menekan kasus, berkat komitmen pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.
Pelaksana Harian Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, dr. Prima Yosephine, MKM, menjelaskan, hingga 28 Oktober 2025 tercatat 131.393 kasus dengue dengan 544 kematian.
“Kementerian Kesehatan terus memperkuat surveilans, pengendalian vektor, serta edukasi masyarakat melalui Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021–2025. Upaya ini mencerminkan kepemimpinan kuat Indonesia untuk mencapai Zero Dengue Deaths pada 2030,” katanya.
Dari sisi pembiayaan, Direktur Utama BPJS Kesehatan Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, MSc, PhD, mengungkapkan beban ekonomi akibat dengue meningkat tajam.
“Klaim biaya perawatan pasien dengue naik dari Rp626 miliar pada 2021 menjadi Rp2,9 triliun pada 2024, dengan lebih dari satu juta kasus rawat inap,” jelasnya. Ia menegaskan seluruh peserta JKN dijamin mendapat pelayanan dengue sesuai standar medis di fasilitas kesehatan.
Penasihat Satgas Imunisasi PAPDI, Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, Sp.PD, KAI, menekankan pentingnya deteksi dini dan vaksinasi.
“Infeksi dengue pada pasien dengan komorbiditas dapat meningkatkan risiko komplikasi hingga tujuh kali lipat. Pencegahan melalui imunisasi perlu diperluas ke kelompok dewasa,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K), menegaskan anak-anak masih menjadi kelompok paling rentan. “Sekitar 43% kasus dengue terjadi pada anak di bawah 14 tahun. Pencegahan 3M plus dan imunisasi sejak usia empat tahun menjadi langkah krusial,” jelasnya.
Ketua Harian Koalisi Bersama Lawan Dengue (KOBAR), dr. Asik Surya, menambahkan bahwa kepemimpinan kolaboratif menjadi kunci mencapai Zero Dengue Deaths 2030.
“Diperlukan sinergi lintas sektor—pemerintah, akademisi, komunitas, dan swasta—untuk memastikan strategi pengendalian dengue berjalan efektif dan berkelanjutan,” katanya.