Menu

Atmakanta Dorong Talenta Muda Pahami Realitas Sosial Lewat Antropologi Visual

10 November 2025 23:53 WIB

Sumber: istimewa

HerStory, Jakarta —

Agensi etnografi visual Atmakanta resmi meluncurkan Internship in Visual Anthropology (IVA) 2025, program magang antropologi visual pertama di Indonesia. Inisiatif ini bertujuan menumbuhkan talenta muda di bidang penceritaan visual dengan perspektif riset sosial.

Program perdana ini diikuti tiga peserta magang yang terpilih dari Universitas Indonesia, Universitas Udayana, dan Universitas Tadulako. Peluncuran resmi berlangsung pada Sabtu, 8 November 2025, melalui diskusi panel daring bertajuk “Visual Intervention: Understanding, Interpreting, and Framing Realities through Images.”

Diskusi menghadirkan sejumlah pakar kreatif dan perfilman, antara lain Lamtiar Simorangkir (sutradara dan produser film), Yonri Revolt (pembuat film dan jurnalis foto), serta Taufiqurrahman Kifu (seniman interdisiplin). Turut hadir sebagai panelis penanggap Rhino Ariefiansyah, antropolog dari Universitas Indonesia, dan Rugun Sirait, etnografer digital.

“Harapannya, IVA menjadi babak penting dalam pengembangan diri para magang di karier pilihan mereka masing-masing, entah itu di dunia riset, perfilman, fotografi, pendidikan, kesenian, dan lain-lain,” ujar Moses Parlindungan Ompusunggu, pendiri sekaligus CEO Atmakanta, dikutip Senin (10/11/2025).

Menurut Moses, peluncuran IVA menjadi langkah awal untuk menempatkan praktisi visual sebagai intelektual publik yang berperan membentuk perspektif masyarakat terhadap realitas sosial.

“Perbincangan ini hendak menempatkan praktisi visual, dalam hal ini para pembuat film, sebagai intelektual publik. Bukan sekadar di balik layar, tetapi juga membentuk perspektif masyarakat dalam melihat realitas sosial,” ujarnya.

Program IVA berlangsung selama tiga bulan dengan rangkaian pelatihan konsep kreatif, praktik visual, pemikiran kritis, dan pengelolaan proyek. Para peserta juga akan mengikuti master class bersama sejumlah pakar. Di akhir program, mereka diwajibkan memproduksi proyek visual yang menelusuri realitas sosial di sekitar mereka.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sektor ekonomi kreatif berkontribusi lebih dari 9% terhadap total ekspor nasional sepanjang 2024, dengan nilai mencapai 13 miliar dolar AS hingga pertengahan 2025. Sektor ini juga tumbuh positif dengan peningkatan PDB 5,69 menyerap lebih dari 26 juta tenaga kerja.

Melalui IVA 2025, Atmakanta berharap generasi muda dapat menjadi pembuat visual yang tidak hanya menghasilkan karya estetis, tetapi juga memiliki pesan sosial yang kuat.

Share Artikel:

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Artikel Pilihan