Menu

Keterampilan Tak Cukup, Perempuan Juga Perlu Ilmu Membangun Bisnis

21 Juli 2026 01:57 WIB

Bluebird Kartini BISA (Istimewa)

HerStory, Jakarta —

Beauty, memiliki keterampilan seperti memasak, menjahit, atau merias wajah memang bisa menjadi modal awal untuk memulai usaha. 

Namun, agar bisnis mampu bertahan dan terus berkembang, perempuan juga perlu memahami cara mengelola usaha, mulai dari menghitung biaya, menyusun strategi pemasaran, hingga membangun model bisnis yang tepat.

Pandangan tersebut menjadi dasar lahirnya program inkubasi Kartini BISA (Kartini Bikin Usaha) yang dikembangkan Bluebird Group sebagai lanjutan dari program pemberdayaan perempuan Kartini Bluebird. Berbeda dengan pelatihan keterampilan pada umumnya, program ini menggabungkan pembelajaran terstruktur, pendampingan intensif, hingga kesempatan menguji model bisnis secara langsung agar peserta memiliki fondasi usaha yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Chief Marketing Officer PT Blue Bird Tbk Monita Moerdani mengatakan, selama lebih dari satu dekade penyelenggaraan Kartini Bluebird, pihaknya melihat semakin banyak istri dan putri pengemudi yang memiliki keterampilan sekaligus semangat untuk berwirausaha. Namun, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar meningkatkan kemampuan teknis.

"Kartini BISA lahir sebagai langkah lanjutan dari perjalanan tersebut. Kami ingin menghadirkan lebih dari sekadar pelatihan, tetapi sebuah proses pendampingan yang membantu peserta memahami bagaimana membangun usaha secara menyeluruh, mulai dari mengembangkan produk, menghitung biaya, menentukan strategi pemasaran, hingga memiliki model bisnis yang lebih siap berkembang. Ketika perempuan memiliki akses terhadap pengetahuan, jejaring, dan pendampingan yang tepat, mereka memiliki peluang yang lebih besar untuk membangun kemandirian ekonomi bagi dirinya maupun keluarganya," ujar Monita.

Program tersebut merupakan pengembangan dari Kartini Bluebird yang telah berjalan sejak 2014. Awalnya, komunitas ini menghadirkan kelas menjahit, kemudian berkembang dengan pelatihan tata boga, tata rias, hingga pengembangan soft skill. 

Hingga kini, program tersebut telah menjangkau 1.416 istri dan putri pengemudi di berbagai kota di Indonesia.

Pada tahun pertama penyelenggaraan Kartini BISA, sebanyak 30 peserta terpilih mengikuti program inkubasi. Mereka merupakan anggota Kartini Bluebird yang telah mengikuti sedikitnya tiga kegiatan, memiliki komitmen untuk berwirausaha, serta berasal dari keluarga pengemudi dengan rekam jejak yang baik.

Selama enam bulan, peserta memperoleh pembelajaran, praktik, penugasan, serta pendampingan dari mentor dan praktisi. Kurikulumnya mencakup pengembangan produk, pengelolaan biaya, strategi pemasaran, hingga penyusunan model bisnis. Peserta juga akan mempresentasikan usahanya di hadapan dewan juri serta memperkenalkan produknya melalui bazar sebagai bagian dari proses validasi pasar.

Salah satu peserta, Euis Dian Anggraeni (53 tahun), mengaku pendampingan yang diterimanya memberikan manfaat lebih dari sekadar tambahan pengetahuan bisnis. 

Istri pengemudi Bluebird Pool Cimanggis itu mengatakan perubahan pola pikir menjadi bekal penting dalam mengembangkan usaha kuliner rumahan yang dijalaninya.

"Manfaat terbesarnya justru terletak pada perubahan pola pikir. Berbekal keterampilan yang diperoleh selama pelatihan, saya kini mampu mengembangkan usaha kuliner rumahan menjadi sumber pendapatan baru bagi keluarga," kata Euis.

Monita menambahkan, keberhasilan program tidak diukur dari banyaknya usaha yang lahir, melainkan dari tumbuhnya kepercayaan diri dan kapasitas peserta untuk membangun bisnis secara mandiri. 

Di akhir program yang diperkirakan bulan November mendatang, tiga peserta terbaik akan menerima penghargaan termasuk modal untuk melanjutkan bisnis, sementara seluruh peserta tetap memperoleh pendampingan dan akses pelatihan lanjutan agar usahanya dapat berkembang secara berkelanjutan.

Artikel Pilihan