Menu

Dari Rusunawa ke Runway, Batik Marunda Curi Perhatian di Indonesia Fashion Week 2026

01 Agustus 2026 22:35 WIB

Batik Marunda (Istimewa)

HerStory, Jakarta —

Batik Jakarta kini tak lagi sekadar menghadirkan corak yang indah di atas kain. Di panggung BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026, batik menjelma menjadi medium yang merekam cerita tentang ibu kota, mulai dari keberagaman budaya, ikon kota, hingga kisah perempuan-perempuan pembatik yang mengubah keterampilan menjadi karya bernilai. Salah satunya datang dari Batik Marunda, yang seluruh kainnya dibuat oleh ibu-ibu penghuni Rusunawa Marunda.

Kisah tersebut hadir dalam gelaran RAGAMKULTURA JAKARTA, panggung khusus yang menghadirkan sembilan jenama wastra Jakarta dengan dukungan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) DKI Jakarta. 

Melalui koleksi yang ditampilkan, para penggiat wastra mengangkat wajah Jakarta dari sudut pandang yang berbeda, menjadikan batik bukan sekadar busana, melainkan arsip visual perjalanan sebuah kota.

Perintis Batik Marunda, Irma Dharma Sinurat, mengangkat tema Sampir Jakarta, sebuah interpretasi modern dari sampir Betawi yang melambangkan pelukan hangat dan keterbukaan Jakarta sebagai rumah bagi beragam budaya.

"Sampir tidak menutupi, tidak membatasi, melainkan disampirkan hangat di bahu sebagai simbol kota selama berabad-abad memberi ruang bagi siapa saja untuk datang, bertumbuh, dan menjadi bagian dari kisah Jakarta. Kami ingin bercerita tentang betapa indahnya Jakarta lewat sehelai kain, dan itu akan menjadi legacy untuk kota Jakarta," ujar Irma.

Beauty, di balik setiap helai Batik Marunda tersimpan cerita yang tak kalah menarik. Seluruh batik dalam koleksi tersebut merupakan hasil karya perempuan-perempuan penghuni Rusunawa Marunda. Berawal dari program pemberdayaan masyarakat, mereka belajar membatik tulis hingga mampu menghasilkan karya yang kini tampil di salah satu panggung mode terbesar di Indonesia.

Motif yang mereka ciptakan menghadirkan beragam identitas Jakarta, mulai dari flora, fauna, landmark, hingga keberagaman budaya yang dikemas menjadi batik urban dengan sentuhan modern.

Cerita serupa juga dihadirkan Riana Kusuma Astuti melalui Batik Riana. Berbeda dari inspirasi yang lahir dari bangunan ikonik, Riana justru mengangkat keindahan Kembang Sepatu yang tumbuh di tepi jalan ibu kota.

"Karena saya bukan desainer. Saya penggiat batik. Jadi ide-ide kreatif itu muncul dari kebiasaan sehari-hari, seperti melihat Kembang Sepatu lalu dijadikan batik lalu dikreasikan sehingga jadi satu cerita tersendiri tentang Jakarta," kata Riana.

Motif Kembang Sepatu kemudian dipadukan dengan ornamen Tumpal Pasung Betawi untuk menghadirkan narasi tentang Jakarta yang tetap tumbuh di tengah dinamika kota modern.

Sementara itu, Uty Wulandari dari Batik Mamauty memilih menghadirkan wastra bergaya kasual agar lebih dekat dengan generasi muda.

"Jadi pembuatan koleksi ini sesuai karakter saya dengan bahan atau dengan motif lebih beragam, agar menyentuh Jakarta sebagai kota dengan ragam kultur," ujarnya.

Melalui Ragamkultura Jakarta, batik tampil sebagai bahasa visual yang menceritakan wajah ibu kota dari berbagai sudut. Monumen Nasional, Ondel-Ondel, Elang Bondol, Kembang Sepatu, ornamen rumah Betawi, hingga lanskap pesisir diterjemahkan menjadi elemen desain yang memperlihatkan bahwa Jakarta bukan hanya dikenal lewat gedung-gedung tinggi, tetapi juga melalui wastra yang menyimpan cerita tentang budaya, masyarakat, dan kehidupan kotanya.

Share Artikel:

Oleh: Azka Elfriza

Artikel Pilihan