Menu

Ulos Naik Kelas, Hadir Lebih Segar di IFW 2026

03 Agustus 2026 23:30 WIB

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana di BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 (istimewa)

HerStory, Jakarta —

Beauty, ulos tak lagi hanya identik dengan upacara adat. Di panggung BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 yang berlangsung pada 29 Juli hingga 2 Agustus, kain tradisional khas Sumatra Utara itu tampil dalam wajah baru yang lebih modern, dinamis, dan dekat dengan selera generasi muda melalui tema Ulos Simetria.

Transformasi tersebut terlihat dari berbagai koleksi adibusana yang memadukan ulos dengan kekayaan tenun tradisional Sumatra Utara lainnya, seperti songket, tenun ikat, dobel lungsi, sirat, hingga marsimata. 

Para desainer mengeksplorasi wastra tersebut lewat siluet yang lebih dinamis, pewarnaan alami dengan sentuhan warna pastel atau soft color, serta beragam ornamen sebagai aksen sehingga menghadirkan tampilan yang lebih segar tanpa meninggalkan identitas budayanya.

Selama lima hari penyelenggaraan, BTN Indonesia Fashion Week 2026 menjadi ruang bertemunya karya para desainer, pelaku industri kreatif, serta masyarakat yang ingin melihat perkembangan fesyen Indonesia. Ribuan pengunjung menyaksikan bagaimana wastra Nusantara diolah menjadi koleksi yang relevan dengan tren fesyen masa kini.

Ketua Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) sekaligus Presiden Indonesia Fashion Week, Poppy Dharsono, mengatakan tema Ulos Simetria membawa pesan bahwa inovasi dan budaya dapat berjalan beriringan.

"Melalui tema Ulos Simetria, kita diajak untuk memahami bahwa kemajuan harus berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai budaya, bahwa tradisi dan inovasi bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dua kekuatan saling melengkapi untuk membangun masa depan industri mode Indonesia," kata Poppy.

Ulos sendiri merupakan kain tenun tradisional khas suku Batak di Sumatra Utara yang selama ini dikenal sebagai simbol kasih sayang, restu, dan kehangatan. Kain tersebut umumnya digunakan atau diberikan dalam momen penting, seperti kelahiran, pernikahan, hingga kematian. 

Di IFW 2026, nilai budaya tersebut tetap dipertahankan, namun diterjemahkan ke dalam desain yang lebih kontemporer sehingga dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai pendekatan tersebut membuat masyarakat lebih mudah mengenal budaya Indonesia melalui fesyen. 

Menurutnya, ketika seseorang pertama kali melihat ulos di atas runway, rasa ingin tahu terhadap asal-usul kain dan budayanya dapat tumbuh.

"Rasa ingin tahu itu menjadi awal dari diplomasi budaya. Dari situlah lahir keinginan untuk datang, mengenal lebih dekat, lalu kembali suatu hari ke daerah tersebut," kata Widiyanti.

Tahun ini, BTN Indonesia Fashion Week menghadirkan lebih dari 200 desainer dan 500 tenant UMKM dari seluruh Indonesia. 

Programnya mencakup fashion show, pameran dagang, talkshow, forum kreatif, pertunjukan hiburan, hingga sajian kuliner. 

Selama lima hari penyelenggaraan, ajang tersebut juga mencatat lebih dari 35 ribu pengunjung dengan total transaksi melampaui Rp10 miliar, sekaligus menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap perkembangan fesyen berbasis wastra Nusantara.

Share Artikel:

Oleh: Azka Elfriza

Artikel Pilihan