Menu

Tak Hanya Lansia, Usia Produktif Juga Perlu Waspada terhadap Diabetes

04 Agustus 2026 17:51 WIB

Sumber: istimewa

HerStory, Jakarta —

Diabetes tidak lagi identik dengan kelompok lanjut usia. Data menunjukkan penyakit ini juga banyak ditemukan pada masyarakat usia produktif, sementara kepatuhan menjalani pengobatan dan pemeriksaan rutin masih menjadi tantangan. Kondisi tersebut mendorong pentingnya upaya pencegahan, deteksi dini, hingga pendampingan jangka panjang agar penyandang diabetes dapat menjaga kualitas hidupnya.

Menyoroti pentingnya pengelolaan diabetes yang berkelanjutan, PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) menggelar Media Discussion bertajuk "End-to-End Diabetes Ecosystem Support: Dari Pencegahan hingga Manajemen Jangka Panjang". Melalui forum ini, Kalbe mendorong kolaborasi berbagai pihak dalam membangun ekosistem yang mendukung penyandang diabetes sejak tahap pencegahan hingga pengelolaan penyakit dalam jangka panjang.

Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), Indonesia menempati peringkat kelima dunia dengan lebih dari 20 juta penyandang diabetes. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi diabetes mencapai 11,7 persen pada penduduk berusia 15 tahun ke atas. Meski demikian, kepatuhan menjalani terapi dan pemeriksaan ulang masih tergolong rendah, terutama pada kelompok usia produktif.

Pharma Director PT Kalbe Farma Tbk, dr. Selvinna, M.Biomed, mengatakan diabetes merupakan penyakit yang membutuhkan pengelolaan secara berkesinambungan, bukan terapi sesaat.

"Diabetes bukan penyakit yang dapat dikelola dengan terapi sesaat. Penyandang diabetes membutuhkan pendampingan sejak memahami faktor risiko, menjalani deteksi dini, memulai terapi, hingga mengelola penyakit dalam jangka panjang. Melalui pendekatan End-to-End Diabetes Ecosystem Support, Kalbe berupaya menghadirkan ekosistem yang menghubungkan setiap tahapan tersebut agar pasien memperoleh dukungan yang berkesinambungan," ujar dr. Selvinna.

Ia menambahkan, keberhasilan pengelolaan diabetes juga dipengaruhi oleh kepatuhan pasien dalam menjalankan terapi sesuai anjuran tenaga kesehatan. Karena itu, dukungan yang menyeluruh dinilai penting agar pasien dapat menjalani pengobatan secara konsisten.

Pandangan tersebut sejalan dengan Ketua Perkumpulan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI), dr. Ida Ayu Made Kshanti, Sp.PD-KEMD, yang menilai edukasi menjadi fondasi penting dalam pengelolaan diabetes. Menurutnya, pemahaman yang baik membantu masyarakat mengenali faktor risiko, melakukan deteksi dini, sekaligus meningkatkan kepatuhan terhadap terapi.

"Keberhasilan pengelolaan diabetes tidak hanya ditentukan oleh obat atau teknologi kesehatan. Pasien juga perlu memahami penyakitnya agar mampu menjalankan tata laksana medis secara konsisten. Edukasi yang berkelanjutan membantu pasien membangun kepatuhan terapi sekaligus mencegah terjadinya komplikasi," tutur dr. Ida Ayu.

Hal serupa disampaikan Ketua Cabang PERSADIA Jakarta Barat, dr. Marshell Tendean, Sp.PD, Subsp. E.M.D., FINASIM. Ia menjelaskan masih banyak pasien yang baru mendapatkan penanganan ketika komplikasi telah muncul akibat keterlambatan diagnosis atau terapi yang tidak dijalankan secara konsisten. Menurutnya, pendampingan sejak deteksi dini hingga manajemen jangka panjang menjadi kunci untuk membantu pasien mempertahankan kualitas hidup.

Perspektif tersebut juga diperkuat oleh Epie Suryono dari Komunitas Pandu Diabetes. Ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar penyandang diabetes bukan hanya mengonsumsi obat, tetapi juga menjaga disiplin dalam menjalankan tata laksana medis setiap hari. Dukungan keluarga, komunitas, dan tenaga kesehatan dinilai berperan penting untuk menjaga motivasi pasien dalam menjalani terapi.

Melalui pendekatan End-to-End Diabetes Ecosystem Support, Kalbe mendorong sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, akademisi, komunitas pasien, industri kesehatan, hingga keluarga untuk mendukung pencegahan, deteksi dini, diagnosis, terapi, pemantauan, dan pengelolaan diabetes secara berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu penyandang diabetes memperoleh pendampingan yang lebih komprehensif sekaligus mengurangi risiko komplikasi.

Sebagai bagian dari inisiatif tersebut, Kalbe juga mengembangkan Diabetes Total Solution (DTS), sebuah ekosistem yang mencakup program edukasi berbasis komunitas, deteksi dini, pencegahan komplikasi, portofolio produk untuk pengelolaan diabetes, hingga platform digital yang menghubungkan pasien dengan berbagai layanan kesehatan. Melalui pendekatan yang terintegrasi, Kalbe berharap lebih banyak penyandang diabetes dapat mengelola penyakitnya secara konsisten sehingga tetap sehat, aktif, dan produktif.

Share Artikel:

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Artikel Pilihan