House of Djuita (istimewa)
Warisan budaya tidak harus berhenti sebagai simbol masa lalu. Di tangan desainer yang tepat, kain tradisional justru mampu menemukan ruang baru dalam dunia mode kontemporer. Itulah yang ditunjukkan House of Djuita melalui koleksi Ulos Simetria pada BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026.
Mengusung tema besar Ulos Simetria, House of Djuita menghadirkan interpretasi baru terhadap Tenun Sadum, salah satu wastra khas Batak, melalui pendekatan modest couture yang menjadi identitas label tersebut. Hasilnya bukan sekadar koleksi busana, tetapi sebuah dialog antara budaya, craftsmanship, dan perempuan Indonesia masa kini.
Founder & Creative Director House of Djuita Hullia Ratu Tiara menjelaskan bahwa koleksi ini lahir dari eksplorasi bersama perajin Jabu Bonang dan Tobatenun. Tenun Sadum kemudian diterjemahkan ke dalam siluet lembut dengan sentuhan embroidery, lace, beadwork, serta teknik layering yang menjadi ciri khas House of Djuita.
“Warisan budaya tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga terus dihidupkan melalui desain yang relevan dengan perempuan Indonesia masa kini. Kolaborasi tersebut sama sekali tidak bertujuan mengubah identitas tenun Sadum. Sebaliknya, House of Djuita ingin membangun dialog harmonis antara kekayaan budaya Batak dengan karakter modest couture yang feminin, elegan, dan timeless. Tenun Sadum menjadi jiwa yang memperkaya keseluruhan koleksi kami,” papar Hullia.
Bagi House of Djuita, couture bukanlah elemen yang harus mendominasi kain tradisional. Founder & Design Director House of Djuita Ratu Ocsandhara menegaskan bahwa seluruh proses desain justru berangkat dari penghormatan terhadap wastra.
Ratu berkata, “Kami memperlakukan Tenun Sadum sebagai focal point. Motif, tekstur, dan nilai budayanya tetap menjadi pusat perhatian, sedangkan elemen couture hadir untuk memperkuat karakter wastra tersebut, bukan mendominasinya,” jelasnya. Prinsip tersebut diterapkan secara konsisten dalam setiap rancangan. Setiap detail embroidery, lace maupun embellishment dipilih secara selektif, agar tidak mengurangi kekuatan visual tenun.” Hullia menambahkan bahwa dalam setiap look, tim desain selalu mengajukan satu pertanyaan penting. “Apakah detail ini membuat orang semakin mengapresiasi tenunnya? Jika justru mengalihkan perhatian dari wastra, maka detail tersebut kami kurangi,” ujarnya.
Salah satu hal yang paling mencuri perhatian dalam koleksi ini adalah penggunaan warna-warna pastel. Jika selama ini Tenun Sadum identik dengan warna-warna kuat, House of Djuita menghadirkan nuansa yang lebih lembut, romantis, sekaligus modern.
Menurut Hullia, pendekatan warna tersebut memperlihatkan sisi lain Tenun Sadum tanpa menghilangkan identitas budaya Batak yang melekat di dalamnya. Sementara itu, Ratu menilai warna pastel justru memberi ruang bagi tekstur tenun dan kualitas craftsmanship tampil lebih menonjol. “Kami ingin menunjukkan bahwa Tenun Sadum memiliki fleksibilitas yang sangat luas untuk berkembang menjadi fashion kontemporer,” ujarnya.
Di balik koleksi ini, Hullia dan Ratu memiliki peran yang saling melengkapi. Hullia membangun konsep besar koleksi, mulai dari storytelling, arah kreatif, positioning House of Djuita hingga bagaimana warisan budaya dapat diterjemahkan untuk perempuan modern.
Sementara Ratu bertanggung jawab menerjemahkan konsep tersebut menjadi busana melalui eksplorasi siluet, konstruksi, pemilihan material, hingga penempatan detail couture agar tetap harmonis dengan karakter Tenun Sadum.Kolaborasi kreatif tersebut menghasilkan koleksi yang tetap membawa identitas House of Djuita tanpa menghilangkan esensi budaya Batak.
Melalui koleksi Ulos Simetria, House of Djuita ingin menggambarkan sosok perempuan Indonesia yang percaya diri terhadap akar budayanya, namun tetap memiliki perspektif global. Perempuan ini bangga mengenakan wastra Nusantara dalam berbagai kesempatan, bukan hanya pada acara seremonial. Dari sisi desain, karakter itu diterjemahkan melalui siluet yang anggun, nyaman, dan tetap memiliki sentuhan couture sehingga perempuan dapat tampil elegan tanpa kehilangan identitas dirinya.
Menariknya, Tenun Sadum juga membawa pengalaman baru bagi House of Djuita dalam proses desain. Menurut Ratu struktur visual dan karakter tenun tersebut mendorong eksplorasi layering, draping, hingga proporsi yang berbeda dibandingkan koleksi-koleksi House of Djuita sebelumnya.
Sementara Hullia mengakui bahwa kolaborasi dengan Jabu Bonang dan Tobatenun membuka perspektif baru. Ia berkata, “Setiap wastra memiliki bahasa desainnya sendiri. Tugas kami adalah menerjemahkannya agar tetap relevan di panggung Indonesia Fashion Week maupun dalam kehidupan sehari-hari.”
House of Djuita berharap generasi muda tidak lagi memandang wastra Nusantara sebagai busana yang hanya dikenakan pada acara adat. Bagi Hullia, setiap kain tradisional memiliki cerita, filosofi, dan craftsmanship yang menjadi bagian penting dari identitas bangsa.
“Tantangannya hari ini bukan hanya bagaimana melestarikannya, tetapi bagaimana membuatnya tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika wastra dapat dikenakan dengan percaya diri dalam berbagai kesempatan, budaya tidak hanya dikenang, tetapi juga terus hidup dan berkembang bersama generasi berikutnya,” ujarnya.
Ratu menambahkan bahwa inovasi dan pelestarian bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Melalui eksplorasi desain, siluet, dan teknik yang lebih kontemporer, wastra Nusantara justru memiliki peluang besar untuk terus berkembang tanpa kehilangan nilai budayanya.
Bagi House of Djuita, kolaborasi di BTN Indonesia Fashion Week 2026 bukanlah akhir perjalanan, melainkan langkah awal untuk terus mengeksplorasi kekayaan wastra Nusantara melalui pendekatan couture modern. Tenun Sadum sendiri masih menyimpan begitu banyak potensi yang dapat diterjemahkan dalam berbagai interpretasi baru.
Hullia optimistis masa depan fashion Indonesia semakin menjanjikan karena dunia kini semakin menghargai authenticity, craftsmanship, dan cultural storytelling. “Indonesia memiliki semua kekayaan tersebut. Melalui ajang seperti Indonesia Fashion Week 2026, kita memiliki kesempatan menunjukkan bahwa wastra Indonesia tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga layak bersaing sebagai luxury fashion di pasar global,” lanjutnya.
Hal senada disampaikan Ratu. Menurutnya, modest couture berbasis wastra Indonesia memiliki karakter yang sangat khas dan sulit ditiru. Keunikan inilah yang diyakini menjadi kekuatan House of Djuita untuk membawa karya berbasis budaya Indonesia menuju panggung mode internasional.