Indo Leather & Footwear (ILF) Expo dan Indo Garment & Textile (IGT) Expo 2026 (istimewa)
Kesadaran akan pentingnya fashion ramah lingkungan kini tidak hanya datang dari konsumen, tetapi juga semakin menjadi perhatian pelaku industri. Hal tersebut terlihat dalam penyelenggaraan Indo Leather & Footwear (ILF) Expo dan Indo Garment & Textile (IGT) Expo 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, yang menempatkan penggunaan material berkelanjutan, transformasi digital, hingga modernisasi proses produksi sebagai salah satu fokus utama pembahasan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen mulai bergerak menuju sistem produksi yang tidak hanya mengejar kualitas produk, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.
Beauty, perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan industri fesyen yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan.
Pameran yang memasuki penyelenggaraan ke-19 ini diikuti oleh 210 peserta, termasuk 50 UMKM lokal serta perusahaan dari 14 negara.
Berbagai inovasi diperkenalkan, mulai dari produk kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen hingga mesin produksi, teknologi otomasi, serta solusi manufaktur yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung praktik industri yang lebih berkelanjutan.
Selain menampilkan berbagai inovasi, ILF Expo dan IGT Expo 2026 juga menghadirkan sejumlah forum diskusi yang mengangkat isu-isu penting dalam industri fesyen.
Salah satu topik yang menjadi perhatian adalah penggunaan material ramah lingkungan sebagai bagian dari transformasi industri agar mampu menjawab tuntutan pasar global yang semakin mengedepankan keberlanjutan.
Seminar Nasional Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI) mengusung tema "Membangun Industri TPT yang Kompetitif, Berkelanjutan, dan Menjadi Pemain Utama dalam Rantai Pasok Nasional dan Internasional." Forum tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, asosiasi, hingga pelaku usaha untuk membahas strategi memperkuat industri tekstil melalui inovasi, peningkatan daya saing, dan pengembangan rantai pasok yang lebih kokoh.
Isu serupa juga dibahas dalam ILF–IGT Manufacturing Forum 2026 bertema "Jaya di Pasar Domestik, Unggul di Pasar Global." Berbagai pihak menyoroti pentingnya modernisasi industri, peningkatan investasi, pemberdayaan UMKM dan industri kecil menengah, serta pemanfaatan peluang ekspor agar produk Indonesia semakin kompetitif di pasar internasional.
Tak hanya itu, penyelenggaraan The Fashion Show turut menampilkan berbagai karya terbaru dari industri kulit, alas kaki, tekstil, dan fesyen nasional. Ajang ini memperlihatkan bagaimana inovasi tidak lagi sebatas pada desain, tetapi juga menyentuh pemilihan material dan proses produksi yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Sementara itu, program Business Matching melalui Networking Cocktail Dinner mempertemukan produsen lokal dengan pembeli, investor, dan berbagai asosiasi industri untuk membuka peluang kolaborasi yang lebih luas. Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi, memperkuat investasi, sekaligus mendorong produk fesyen Indonesia semakin kompetitif di pasar global.
Melalui berbagai inovasi yang ditampilkan, ILF Expo dan IGT Expo 2026 menggambarkan bahwa arah perkembangan industri fesyen kini tidak lagi hanya berfokus pada tren dan kualitas produk.
Penggunaan material ramah lingkungan, efisiensi produksi, dan penerapan teknologi modern menjadi bagian penting dalam membangun industri fesyen yang lebih berkelanjutan dan siap menjawab kebutuhan masa depan.