Menu

Merdeka dari DBD pada 2030, Mengapa Peran Keluarga Jadi Penting?

05 September 2026 22:43 WIB

Nyamuk Aedes Aegypti pemicu DBD (Istimewa)

HerStory, Jakarta —

 Semangat kemerdekaan yang identik dengan keberanian, persatuan, dan tindakan bersama dinilai dapat menjadi pengingat untuk menghadapi tantangan kesehatan yang masih berlangsung hingga kini, salah satunya Demam Berdarah Dengue (DBD).

Dengue pertama kali tercatat di Indonesia pada 1968 melalui kejadian luar biasa (KLB) di Jakarta dan Surabaya. Saat itu, tercatat 58 kasus dengan 24 kematian atau tingkat kematian mencapai 41,3 persen. Setelah hampir enam dekade, Indonesia telah mengalami kemajuan dalam penanganan DBD melalui tata laksana kasus dan berbagai upaya pengendalian yang berhasil menekan tingkat kematian hingga di bawah 1 persen.

Meski demikian, DBD masih menjadi ancaman yang dapat terjadi sepanjang tahun. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia, tempat tinggal, maupun gaya hidup. Karena tidak hanya muncul pada musim hujan, kewaspadaan terhadap DBD juga perlu dijaga sepanjang tahun.

Dampaknya Tak Hanya pada Kesehatan

Besarnya dampak DBD juga terlihat dari studi Burden of Disease yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada. Kajian tersebut memperkirakan lebih dari 2 juta rawat inap akibat DBD terjadi di Indonesia pada 2024, dengan beban ekonomi mencapai hampir Rp9 triliun.

Di balik angka tersebut, terdapat keluarga yang harus menghadapi biaya perawatan, kehilangan waktu produktif, hingga kekhawatiran ketika kondisi anggota keluarga memburuk.

Dokter sekaligus kreator konten, dr. Gia Pratama Putra, mengatakan bahwa pasien DBD dapat datang dengan gejala yang pada awalnya terlihat seperti demam biasa. Namun, kondisi pasien dapat berubah dengan cepat.

“Pada fase awal, DBD dapat sulit dibedakan dari penyakit demam lainnya. Yang membuat dengue berbahaya adalah ketika keluarga merasa demamnya sudah membaik, padahal justru pada fase tertentu kondisi pasien bisa memburuk cepat,” ujar dr. Gia.

Karena itu, keluarga perlu memantau kondisi pasien dengan cermat dan segera mencari pertolongan medis apabila muncul tanda bahaya, seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, tubuh terasa sangat lemas, gelisah, atau penurunan kesadaran. Penanganan yang cepat dan tepat menjadi penting untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat.

Pencegahan DBD Dimulai dari Keluarga

Menurut dr. Gia, pengalaman di fasilitas kesehatan menunjukkan bahwa penanganan DBD bukan hanya mengenai jumlah pasien, tetapi juga kesiapan layanan dalam mengenali tanda bahaya, memantau perkembangan kondisi, serta memberikan tata laksana yang tepat.

Ia menilai pencegahan tetap menjadi perlindungan pertama. Setiap keluarga dapat berperan dengan menjalankan 3M Plus secara konsisten, mengurangi paparan gigitan nyamuk, memperhatikan kondisi lingkungan di rumah maupun tempat beraktivitas, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai pilihan pencegahan lainnya, termasuk vaksinasi dengue.

Upaya tersebut sejalan dengan target Indonesia untuk mencapai Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030. Untuk mendukung target itu, Kementerian Kesehatan telah memimpin proses penyusunan Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026–2029 dengan melibatkan kementerian dan lembaga di tingkat pusat dan daerah, organisasi profesi, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, akademisi, masyarakat sipil, serta lembaga filantropi.

Penurunan risiko kematian akibat dengue membutuhkan deteksi kasus secara dini, akses terhadap pelayanan medis dan tata laksana yang tepat, serta rujukan cepat bagi pasien dengan tanda bahaya atau kondisi berat. Penguatan surveilans juga diperlukan agar peningkatan penularan dapat dikenali dan direspons sedini mungkin.

Selain itu, pencegahan perlu dilakukan secara terintegrasi melalui pengelolaan lingkungan dan pengendalian vektor, pemanfaatan inovasi seperti teknologi Wolbachia dan vaksinasi dengue, penguatan sistem surveilans serta peringatan dini, dan pelibatan masyarakat secara berkelanjutan.

Menuju Indonesia yang Merdeka dari DBD

Simon Gallagher, Country Head Malaysia & Indonesia, Takeda, mengatakan momentum kemerdekaan dapat menjadi pengingat bahwa perlindungan dari dengue merupakan tanggung jawab bersama.

Menurutnya, dampak DBD tidak hanya dirasakan pasien, tetapi juga seluruh keluarga, mulai dari kekhawatiran, waktu yang digunakan untuk merawat, hingga beban finansial. Karena itu, keluarga perlu menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju nol kematian akibat dengue.

“Takeda berkomitmen untuk terus menjadi mitra pemerintah, tenaga kesehatan, asosiasi medis, dunia usaha, dan masyarakat dalam memperkuat edukasi serta akses terhadap pencegahan dengue yang komprehensif. Target 2030 dapat semakin dekat apabila setiap pihak mengambil peran dan bergerak bersama,” ujar Simon.

Setelah 58 tahun menghadapi DBD, Indonesia memiliki pengetahuan, pengalaman, dan pilihan intervensi yang lebih lengkap dibandingkan sebelumnya. Namun, tingginya jumlah pasien yang masih membutuhkan perawatan menunjukkan bahwa upaya tersebut masih perlu dilanjutkan.

Semangat “Merdeka dari DBD” pun dapat dimulai dari langkah sederhana di tingkat keluarga. Mulai dari mewaspadai demam, mengenali tanda bahaya, segera mencari pertolongan medis ketika diperlukan, menjalankan 3M Plus secara konsisten, melindungi diri dari gigitan nyamuk, hingga berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai pilihan pencegahan yang sesuai.

Informasi lebih lanjut mengenai DBD dan pencegahannya dapat diakses melalui cegahdbd.com.

Catatan: Saya mempertahankan bagian informasi mengenai komitmen Takeda terhadap vaksin dan profil perusahaan dari siaran pers sebagai materi korporat, tetapi tidak memasukkannya ke dalam badan artikel utama agar formatnya tetap terasa seperti berita lifestyle, bukan advertorial.

Share Artikel:

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Artikel Pilihan