Menu

The Sounds Project Vol. 9 Buktikan Festival Musik Bukan Sekadar Nonton!

18 September 2026 02:20 WIB

The Sounds Project Vol. 9 (istimewa)

HerStory, Jakarta —

Beauty, datang ke festival musik kini tidak selalu berakhir setelah musisi terakhir turun dari panggung. The Sounds Project Vol. 9 yang digelar pada 7–9 Agustus 2026 di Ecovention & Ecopark Ancol, Jakarta, menunjukkan bagaimana festival berkembang menjadi pengalaman tiga hari yang mempertemukan musik, komunitas, kreativitas, hingga aktivitas anak muda.

Mengusung tema Beyond Memories, The Sounds Project Vol. 9 menghadirkan lebih dari 120 musisi Indonesia dan internasional di tujuh panggung. 

Siapa sangka, gelaran tersebut menarik hampir ratusan ribu penonton selama tiga hari, termasuk pengunjung dari Malaysia dan Singapura lho, Beauty!

Selain itu, pengalaman penonton juga tidak hanya dibangun melalui deretan penampil. Antusiasme terlihat sejak sebelum gerbang dibuka ketika sejumlah penonton datang lebih awal untuk menikmati festival sejak menit pertama. Mereka dapat berpindah dari satu panggung ke panggung lain dan menemukan pertunjukan dengan karakter musik yang berbeda.

Lineup yang dihadirkan turut memperluas pilihan pengalaman tersebut. Neck Deep dari Inggris, Nusantara Beat dari Belanda, dan JET dari Australia tampil bersama musisi Indonesia seperti Tulus, Bernadya, Hindia, .Feast, Mahalini, Raisa, Yura Yunita, hingga sejumlah nama lainnya.

Sejumlah kolaborasi spesial juga membuat pengalaman di panggung tidak berhenti pada penampilan reguler. J-Rocks menghadirkan Tribute to L’Arc-en-Ciel, Bilal Indrajaya dan G-Pluck mengajak penonton singalong lagu-lagu The Beatles, sementara Rizky Febian berkolaborasi dengan Mahalini dan Adrian Khalif. The Sounds Project juga menghadirkan Special Set dari Barasuara, Raisa, dan Isyana Sarasvati.

Di luar panggung, festival memberi ruang bagi komunitas dan mahasiswa untuk ikut menjadi bagian dari ekosistem acara. Hampir 300 band dan komunitas dari seluruh Indonesia mendaftar melalui TSP Squad Stage. Sementara itu, program volunteer dan internship selama enam bulan melibatkan mahasiswa dalam proses penyelenggaraan, mulai dari perencanaan hingga eksekusi.

Mahasiswa juga dapat mengabadikan festival melalui TSP Academy serta belajar menjadi jurnalis musik lewat Kolom Kampus. Program terakhir menjaring sekitar 50 tulisan mahasiswa, dengan tiga penulis terpilih berkesempatan meliput langsung festival dan mengikuti sesi wawancara bersama musisi internasional.

Dari sisi pengalaman yang lebih luas, The Sounds Project turut menjalankan pengelolaan sampah bersama Matters Project. Sampah yang terkumpul selama festival dikirim ke RDF Plant Rorotan untuk diolah menjadi bahan bakar dalam proses waste-to-energy (WTE).

Festival Director The Sounds Project Gerhana Banyubiru mengatakan, “Berawal dari sebuah acara kampus kecil, The Sounds Project terus tumbuh hingga menjadi festival berskala besar tanpa meninggalkan semangat untuk memberikan ruang bagi generasi muda. Dengan niat baik, semangat itu yang terus kami bawa hingga sekarang,” ujar Gerhana Banyubiru (Ghana) selaku Festival Director The Sounds Project.

Sementara itu, Founder & CEO The Sounds Project Gerhana Banyubiru menyampaikan evaluasi setelah penyelenggaraan tahun ini. 

“Tidak ada festival yang sempurna. Tahun ini The Sounds Project Vol. 9 telah selesai. Terima kasih untuk seluruh audience yang sudah datang, luar biasa dan benar-benar di luar ekspektasi kami selaku promotor. Kami akan beristirahat sejenak, mengevaluasi festival tahun ini, dan mulai mempersiapkan sesuatu yang lebih baik untuk tahun depan. Kayanya sih, line-up lokal maupun internasional lebih banyak untuk tahun depan,” ujarnya.

Top Stories

Artikel Pilihan