Sumber: istimewa
Selama ini, aku pikir pashmina bukan untukku. Sampai akhirnya aku sadar, mungkin aku hanya belum menemukan hijab yang bisa mengikuti ritme hidupku.
Aku sendiri tipe perempuan yang tidak terlalu suka ribet soal hijab. Bukan berarti aku tidak suka bereksperimen dengan penampilan atau mencoba sesuatu yang bisa membuatku terlihat lebih cantik. Hanya saja, keseharianku mengharuskan aku memakai sesuatu yang praktis.
Sebagai reporter, aku cukup sering bekerja di lapangan. Dalam satu hari, aku bisa berpindah tempat, mengejar agenda, berdiri cukup lama, bertemu banyak orang, lalu melanjutkan aktivitas berikutnya. Karena itu, hijab segiempat sudah lama menjadi pilihanku.
Aku sudah tahu cara memakainya. Sudah tahu bagaimana membuatnya tetap rapi. Dan yang paling penting, aku tidak perlu terlalu memikirkannya ketika sedang bekerja.
Mungkin karena sudah terlalu nyaman, aku tidak pernah merasa perlu mencoba yang lain, apalagi pashmina.
Aku pernah mencobanya beberapa tahun lalu dari sebuah brand lain. Wajahku cenderung bulat dan ketika melihat hasilnya di cermin, aku merasa bentuknya tidak cocok. Bukannya merasa lebih percaya diri, aku justru merasa tidak cantik.
Sejak saat itu, aku seperti membuat kesimpulan sendiri bahwa pashmina memang bukan untukku.
Aku melihat perempuan lain bisa tampil cantik dengan pashmina, tetapi tidak pernah membayangkan hal yang sama untuk diriku sendiri.
Sampai akhirnya, pada Agustus 2026, aku mencoba tiga UNIQLO Hijab.
Saat pertama kali kembali menggunakan pashmina, kali ini varian Georgette, aku justru merasa cocok dengan wajahku yang bulat. Pengalaman sederhana itu membuatku berhenti sejenak dan berpikir, kenapa selama ini aku begitu nyaman dengan satu jenis hijab?
Mungkin selama ini masalahnya bukan pashmina.
Mungkin aku hanya belum menemukan hijab yang membuatku nyaman.
Hal yang cukup menarik justru terjadi setelah aku mulai mencobanya.
Orang-orang di sekitarku memberikan komentar positif. Ada yang mengatakan penampilanku terlihat berbeda. Ada yang bilang aku terlihat lebih dewasa. Ada juga yang memuji dan mengatakan aku terlihat lebih menarik. Padahal aku merasa hanya mengganti hijab.
Komentar-komentar itu akhirnya membuatku lebih memperhatikan penampilanku sendiri. Ternyata, bentuk hijab memang bisa memberikan kesan yang berbeda pada wajah dan keseluruhan penampilan.
Salah satu yang paling membuatku penasaran adalah AIRism Hijab Proteksi Sinar UV.
Hijab ini berbentuk segitiga instan. Buatku yang selama ini selalu menganggap pashmina akan merepotkan, model seperti ini terasa jauh lebih simpel. Bahannya ringan, breathable, stretchy, dan quick-drying, serta memiliki fungsi proteksi sinar UV.
Aku paling suka menggunakannya ketika olahraga, mulai dari badminton hingga lari.
Saat olahraga, aku memang tidak ingin ribet. Aku ingin bisa bergerak tanpa harus berkali-kali membenarkan hijab yang terus turun. Ketika hijab terasa nyaman dan tidak lagi menyita perhatian, aku bisa lebih fokus pada aktivitas yang sedang kulakukan.
Setelah AIRism, aku mencoba Hijab Georgette. Ini yang semakin membuatku berpikir ulang tentang pashmina. Bayanganku selama ini sederhana. Pashmina berarti lebih banyak kain yang harus diatur, lebih banyak waktu di depan cermin, dan lebih banyak kemungkinan hasil akhirnya tidak sesuai dengan wajahku.
Ternyata tidak selalu begitu. Georgette terasa ringan dan flowy. Kainnya jatuh secara natural dan mudah diatur untuk berbagai kebutuhan styling.
Aku justru kerap menggunakannya ketika nongkrong bareng teman, me time, atau pergi bersama keluarga.
Tidak terasa terlalu formal, tetapi tetap membuat penampilan terlihat lebih tertata. Dan yang paling penting, aku tidak merasa harus berusaha keras untuk terlihat rapi.
Dari sini aku mulai sadar bahwa pengalaman buruk dengan satu pashmina dulu ternyata membuatku terlalu cepat mengambil kesimpulan. Aku pernah merasa tidak cocok sekali. Lalu aku menganggap semua pashmina akan terasa sama.
Setelah itu, aku mencoba Hijab Satin. Karakter Satin terasa berbeda dari dua hijab sebelumnya. Materialnya halus dengan kilau lembut yang membuat tampilan terasa lebih polished. Model ini terasa lebih sesuai ketika aku menghadiri acara formal. Dan ternyata aku suka melihat diriku dengan tampilan seperti itu.
Bukan karena aku tiba-tiba ingin terlihat lebih dewasa atau feminin. Aku hanya suka menampilkan sisi diriku yang lebih rapi, yang mungkin selama ini jarang terlihat karena aku terlalu terbiasa memilih sesuatu yang praktis.
Dari situ aku mulai memahami sesuatu. Kita sering mengenal diri sendiri dari apa yang paling sering kita pakai.
Aku merasa sebagai perempuan yang cocok dengan hijab segiempat karena memang itulah yang hampir selalu kulihat ketika bercermin. Padahal, mungkin ada sisi lain dari diriku yang belum banyak kuberi kesempatan untuk muncul.
Pengalaman tiga hijab itu membuatku berpikir tentang keseharianku sendiri. Ketika bekerja di lapangan, aku membutuhkan sesuatu yang simpel. Hijab segiempat masih menjadi pilihanku. Ketika olahraga, aku suka AIRism. Ketika main, aku memilih Georgette. Ketika ada acara formal, Satin terasa lebih sesuai.
Tidak ada yang benar-benar menggantikan satu sama lain. Mereka hanya punya tempat yang berbeda.
Semakin kupikirkan, ternyata kebutuhan seperti ini juga yang menjadi salah satu alasan di balik hadirnya UNIQLO Hijab. Dalam press release-nya, UNIQLO menyebut koleksi ini dikembangkan berdasarkan masukan pelanggan, terutama dari perempuan Muslim di Indonesia dan Malaysia. Pemahaman tersebut berangkat dari kenyataan bahwa setiap perempuan memiliki kebutuhan yang berbeda, tergantung aktivitas, gaya hidup, dan preferensi masing-masing.
Buatku, hal itu terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari. Hijab yang kupakai ketika bekerja di lapangan belum tentu menjadi pilihan yang sama ketika aku berolahraga atau menghadiri acara formal.
Dari situ muncul satu pertanyaan yang menurutku menarik. Kenapa perempuan harus selalu menyesuaikan dirinya dengan pakaian yang dikenakan, kalau seharusnya pakaian juga bisa mengikuti ritme hidupnya?
Sebab kita sebagai perempuan tidak selalu berada dalam suasana yang sama. Hari ini mungkin kita harus berlari mengejar pekerjaan. Besok ingin olahraga. Akhir pekan bertemu teman. Di kesempatan lain, kita mungkin perlu menghadiri acara yang membuat kita ingin tampil lebih rapi. Kebutuhan kita berubah, begitu juga dengan cara kita berpakaian.
Dan mungkin, karena itulah UNIQLO tidak menghadirkan satu model hijab untuk semua perempuan. Tiga pilihan dalam koleksi UNIQLO Hijab hadir dengan karakter yang berbeda. AIRism berbentuk segitiga instan dengan material ringan dan fungsi proteksi sinar UV. Georgette hadir sebagai pashmina yang ringan dan flowy, sementara Satin memberikan tampilan dengan material halus dan kilau lembut.
"Kami menyadari bahwa kebutuhan setiap perempuan terhadap hijab tidak pernah sama, tergantung pada aktivitas, gaya hidup, dan preferensi masing-masing. Kesadaran ini turut dibentuk oleh berbagai masukan yang kami terima langsung dari pelanggan sepanjang proses pengembangan koleksi ini. Masukan tersebut menjadi pijakan kami dalam menghadirkan hijab yang benar-benar relevan dengan keseharian penggunanya, apa pun aktivitas yang mereka jalani," ujar Lisqia Lalantika, Marketing Manager UNIQLO Indonesia.
Aku sekarang tidak lagi merasa harus menemukan satu hijab yang paling cocok untuk semua keadaan. Aku hanya perlu menemukan pilihan yang sesuai dengan apa yang sedang kujalani.
Pemikiran itu kemudian membuatku teringat pada konsep enclothed cognition dalam psikologi. Konsep yang diperkenalkan Hajo Adam dan Adam D. Galinsky ini melihat bagaimana pakaian dapat berkaitan dengan pengalaman psikologis kita, termasuk melalui makna yang kita berikan pada pakaian dan pengalaman fisik ketika mengenakannya. Penelitian awalnya memang tidak secara khusus membahas hijab atau rasa percaya diri.
Aku tidak sedang melakukan eksperimen ketika mencoba tiga hijab ini. Tapi aku merasakan sendiri bahwa ketika sesuatu yang kupakai terasa nyaman dan sesuai dengan aktivitas, aku menjadi lebih tenang. Aku tidak lagi terlalu sibuk memikirkan apakah penampilanku terlihat tepat atau tidak.
Aku bisa fokus bekerja. Bisa menikmati olahraga. Bisa pergi bersama teman tanpa terus-menerus membenarkan hijab. Mungkin di situlah rasa percaya diri tumbuh.
Bukan karena hijab tertentu membuatku menjadi lebih cantik, tetapi karena aku merasa lebih nyaman menjadi diriku sendiri. Yang menarik, pengalaman ini tidak membuatku meninggalkan hijab segiempat.
Aku masih memakainya ketika bekerja di lapangan atau ketika memang sedang ingin sesuatu yang sederhana. Bedanya, sekarang aku tidak lagi melihatnya sebagai satu-satunya pilihan. Aku punya pilihan lain.
AIRism untuk hari ketika aku ingin bergerak lebih bebas. Georgette ketika ingin tampil lebih santai. Satin ketika ingin terlihat lebih rapi. Dan hijab segiempat tetap menjadi bagian dari keseharianku seperti sebelumnya.