Menu

Tinggi Badan Anak Tak Hanya Soal Nutrisi, Moms Kenali Yuk Beragam Faktor yang Memengaruhi Pertumbuhan Si Kecil

23 September 2026 08:31 WIB

Sumber: istimewa

HerStory, Jakarta —

Pertumbuhan anak kerap dikaitkan dengan pemenuhan nutrisi dan pencegahan stunting. Namun, gangguan pertumbuhan pada anak memiliki spektrum yang lebih luas. Selain faktor nutrisi, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan faktor hormonal, genetik, maupun kondisi medis lainnya, termasuk Growth Hormone Deficiency (GHD).

Hal ini menjadi perhatian karena data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting nasional sebesar 19,8%. Meski demikian, perawakan pendek pada anak tidak selalu disebabkan oleh masalah nutrisi.

Beberapa kondisi yang dapat berkaitan dengan perawakan pendek antara lain Growth Hormone Deficiency (GHD), Small for Gestational Age (SGA), dan hipotiroidisme (hypothyroidism). Faktor genetik seperti Turner Syndrome serta kondisi medis kronis lainnya juga dapat berperan.

Pada sebagian anak, penyebab spesifik perawakan pendek bahkan tidak dapat diidentifikasi meskipun telah dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Kondisi ini dikenal sebagai Idiopathic Short Stature (ISS). Gangguan pertumbuhan juga dapat memberikan dampak pada aspek psikososial anak.

Evie Yulin, Presiden Direktur PT Merck Tbk, mengatakan edukasi mengenai pertumbuhan anak perlu dilakukan secara berkelanjutan agar orang tua dapat memahami pola pertumbuhan sekaligus mengenali potensi gangguan sejak dini.

“Sebagai perusahaan sains dan teknologi terkemuka, Merck berkomitmen mendukung pertumbuhan optimal anak-anak Indonesia melalui edukasi yang berkelanjutan. Bersama berbagai pemangku kepentingan, termasuk media dan komunitas, kami mendorong pemahaman masyarakat tentang pentingnya memantau pertumbuhan anak secara rutin dan mengenali potensi gangguan, termasuk perawakan pendek (short stature), sejak dini,” ujar Evie.

Ia berharap edukasi tersebut dapat membantu lebih banyak orang tua memahami pola pertumbuhan anak dan mengetahui kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Bukan Hanya Melihat Tinggi Badan Saat Ini

Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp. End., FAAP, FRCPI, Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi sekaligus Ketua Umum Yayasan Kesehatan Anak Global, menjelaskan bahwa perawakan pendek pada anak tidak dapat serta-merta disamakan dengan stunting atau hanya dianggap sebagai masalah nutrisi.

Menurutnya, gangguan hormonal, kondisi genetik, hingga penyakit kronis juga dapat menyebabkan perawakan pendek. Gangguan hormonal yang dapat berkaitan dengan kondisi tersebut antara lain GHD, SGA, dan hipotiroidisme.

Data survei menunjukkan prevalensi panjang badan lahir kurang dari 48 cm sebesar 19,8% pada SGA. Sementara itu, faktor genetik juga dapat berperan, salah satunya Sindrom Turner dengan prevalensi sekitar 1:1.500–2.000 pada kelahiran bayi perempuan hidup. Secara global, GHD diperkirakan terjadi pada sekitar 1 dari 4.000–10.000 anak.

Prof. Aman menekankan bahwa orang tua sebaiknya tidak hanya melihat tinggi badan anak pada satu waktu. Pola pertumbuhan dan laju pertambahan tinggi dari waktu ke waktu juga perlu diperhatikan.

“Yang perlu diperhatikan bukan hanya tinggi badan anak pada satu waktu, tetapi bagaimana pertumbuhannya dari waktu ke waktu. Apabila terdapat pola pertumbuhan yang berbeda dari yang diharapkan, orang tua dapat segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut dan penanganan yang sesuai,” jelasnya.

Gangguan pertumbuhan juga dapat berdampak pada aspek psikososial. Anak dapat merasa berbeda, mengalami penurunan kepercayaan diri, bahkan berpotensi menjadi korban perundungan.

Pengalaman Orang Tua Menyadari Gangguan Pertumbuhan Anak

Hal tersebut juga dirasakan Merien Frentinia, orang tua dari anak dengan GHD. Ia mulai menyadari adanya hal yang perlu diperhatikan ketika putri keduanya berusia 7 tahun dan duduk di kelas satu SD.

Saat itu, putrinya terlihat lebih pendek dibandingkan teman-teman sebayanya. Perhatian Merien semakin tertuju pada kondisi tersebut setelah putri sulungnya melihat hasil pengukuran tinggi badan sang adik di sekolah.

Berdasarkan pengukuran tinggi badan setiap bulan selama satu tahun, tinggi putrinya tetap berada di angka 113 cm. Kondisi tersebut kemudian mendorong Merien dan keluarga untuk mencari informasi lebih lanjut serta berkonsultasi dengan Prof. Aman.

“ Saat itu saya sempat berpikir, apakah terlalu cepat untuk bertemu Prof. Aman. Namun, kami memilih untuk segera berdiskusi dan mencari tahu lebih lanjut. Setelah menjalani rangkaian pemeriksaan, putri bungsunya kemudian didiagnosis mengalami GHD dan membutuhkan terapi hormon pertumbuhan,” ujar Merien.

Sejak kelas dua SD hingga kini duduk di kelas lima SD, putrinya telah menjalani terapi hormon pertumbuhan. Menurut Merien, selama kurang lebih tiga tahun menjalani terapi, tinggi badan anaknya bertambah sekitar satu sentimeter setiap bulan.

Perubahan tersebut, menurutnya, tidak hanya terlihat dari pertumbuhan fisik, tetapi juga dari kepercayaan diri sang anak. Pengalaman itu menjadi pengingat bagi Merien bahwa ketika pola pertumbuhan anak menunjukkan sesuatu yang perlu diperhatikan, orang tua tidak perlu ragu mencari informasi dan berdiskusi dengan tenaga kesehatan.

Merck Hadirkan Edukasi untuk Membantu Orang Tua Memantau Pertumbuhan

Untuk mendukung pemantauan pertumbuhan anak, Merck menghadirkan laman interaktif Takartinggi.com. Laman tersebut membantu orang tua memantau pertumbuhan anak dengan mempertimbangkan tinggi badan orang tua sekaligus memahami potensi pertumbuhan anak.

Selain itu, Merck juga meluncurkan buku cerita anak “Arka dan Mimpi ke Luar Angkasa” sebagai sarana edukasi yang dirancang agar lebih mudah dipahami oleh anggota keluarga. Kedua inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya Merck mendorong keluarga Indonesia memahami dan lebih aktif memantau pertumbuhan anak sejak dini.

Buku tersebut mengisahkan Arka, seorang anak yang bercita-cita menjadi astronaut. Ketika menyadari tinggi badannya belum memenuhi syarat untuk menaiki wahana di taman bermain, Arka dan orang tuanya mulai lebih memperhatikan pertumbuhannya.

Dalam cerita tersebut, sejumlah tanda mulai diperhatikan, seperti Arka yang masih dapat mengenakan baju yang dibelikan ketika berusia lima tahun saat dirinya telah berusia delapan tahun, serta kebiasaannya berada di barisan depan ketika bersama teman-teman sekelasnya.

Dari pengalaman Arka, keluarga belajar bahwa memantau pertumbuhan anak bukan sekadar melihat tinggi badan saat ini, tetapi juga memahami pola pertumbuhan dari waktu ke waktu.

Dalam perjalanan tersebut, orang tua Arka mengenal Takar Tinggi Anak, laman interaktif yang membantu keluarga mencatat data dan melihat kurva pertumbuhan anak. Buku ini juga mengajak anak dan orang tua memahami bahwa pertumbuhan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari hormon, genetik, gizi seimbang, gaya hidup, hingga pemantauan kesehatan.

Pesan utama yang dibawa adalah pentingnya mengenali pola pertumbuhan anak sejak dini dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila terdapat hal yang perlu diperhatikan.

“Kami percaya edukasi dan kolaborasi yang berkelanjutan dapat membantu membangun pemahaman serta kewaspadaan yang lebih baik mengenai gangguan pertumbuhan anak. Melalui berbagai upaya ini, Merck berharap semakin banyak anak-anak Indonesia yang dapat tumbuh dengan optimal sesuai dengan potensinya,” tutup Evie Yulin.

Artikel Pilihan