Menu

Tantrum, Meltdown, atau Overload? Moms Kenali Yuk Perbedaannya agar Tak Salah Merespons Anak

24 September 2026 19:30 WIB

Sumber: istimewa

HerStory, Jakarta —

Anak menangis karena keinginannya tidak terpenuhi mungkin terlihat seperti tantrum. Namun, ketika anak menutup telinga di tengah keramaian, berteriak, hingga sulit diajak berkomunikasi, kondisi tersebut belum tentu sekadar tantrum.

Anak bisa saja sedang mengalami tantrum, overload, atau meltdown. Meski dari luar tampak serupa, ketiganya dapat memiliki pemicu dan membutuhkan respons yang berbeda dari orang tua.

Diah Cahyaningrum, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa orang tua perlu melihat situasi yang terjadi sebelum anak menunjukkan perilaku tersebut, termasuk pemicu dan kemampuan anak dalam mengendalikan responsnya.

Hal itu disampaikan dalam webinar Atelier of Minds bertajuk “Meltdown, Tantrum, atau Overload? Pahami Apa yang Terjadi Saat Anak Kewalahan dan Bagaimana Meresponsnya.”

Berikut lima hal yang dapat diperhatikan orang tua untuk memahami perbedaan ketiganya.

1. Tantrum Sering Berawal dari Frustrasi

Tantrum merupakan kondisi yang umum terjadi pada masa kanak-kanak. Salah satu pemicunya adalah rasa frustrasi, terutama ketika kemampuan anak dalam mengatur emosi dan menghadapi situasi sulit masih berkembang.

Kondisi fisik juga dapat memengaruhi toleransi anak. Saat lapar, lelah, atau sedang sakit, anak bisa menjadi lebih sulit menghadapi hal-hal yang biasanya masih dapat ditoleransi.

Karena itu, orang tua tidak hanya perlu memperhatikan apa yang terjadi ketika anak mulai menangis, tetapi juga situasi yang terjadi sebelumnya.

2. Overload Terjadi ketika Beban Terasa Terlalu Banyak

Tidak semua ledakan emosi terjadi karena anak menginginkan sesuatu. Anak juga dapat mengalami sensory overload ketika input sensorik yang diterima terasa terlalu banyak.

Selain itu, terdapat emotional overload, ketika emosi terasa terlalu besar untuk dikelola, serta cognitive overload, saat anak harus memproses terlalu banyak informasi atau tuntutan dalam waktu bersamaan.

Dwi Ayu Nur Komariyah, M.Sc.OT, Terapis Okupasi Atelier of Minds, mengatakan suara, cahaya, keramaian, perubahan aktivitas, maupun tuntutan tertentu dapat terasa jauh lebih intens bagi sebagian anak.

Menurutnya, orang tua perlu belajar mengenali tanda-tanda ketika anak mulai kewalahan, bukan menunggu hingga respons yang muncul menjadi sangat besar.

3. Meltdown Terjadi ketika Anak Sudah Kehilangan Kendali

Meltdown merupakan respons ekstrem ketika anak sudah berada dalam kondisi sangat kewalahan hingga kehilangan kendali atas responsnya.

Bentuknya dapat berbeda pada setiap anak. Beberapa anak dapat menangis atau berteriak, sementara lainnya memukul, menggigit, melempar barang, mencoba melarikan diri, hingga menunjukkan perilaku yang berisiko membahayakan dirinya.

Dalam kondisi tersebut, anak juga dapat mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dan berpikir dengan jernih.

Karena itu, ketika anak sudah berada di titik tersebut, memberikan penjelasan panjang atau terus-menerus memberikan instruksi justru dapat menambah beban yang perlu diproses anak.

4. Respons Orang Tua Perlu Disesuaikan

Cara orang tua merespons perlu disesuaikan dengan kondisi anak.

Ketika tantrum terjadi dan anak berada dalam kondisi aman, orang tua dapat berusaha tetap tenang, tidak langsung memberikan apa yang dituntut anak, menawarkan pilihan yang sesuai, serta mengajarkan cara lain untuk menyampaikan kebutuhan setelah situasi mereda.

Sementara ketika anak mengalami meltdown, prioritas utamanya adalah memastikan anak tetap aman dan mengurangi tuntutan. Orang tua tidak perlu memaksa anak menjawab banyak pertanyaan ketika ia sedang berada dalam kondisi sangat kewalahan.

Kalimat sederhana seperti “Kamu aman” atau “Aku ada untukmu” dapat digunakan sambil memberikan waktu kepada anak untuk kembali tenang.

5. Tangisan Berhenti Bukan Berarti Anak Sudah Pulih

Orang tua juga perlu memahami bahwa kondisi anak setelah episode meltdown belum tentu langsung kembali seperti semula.

Meski sudah terlihat tenang, anak dapat merasa lelah dan memiliki toleransi yang lebih rendah setelah mengalami respons yang intens. Karena itu, materi Atelier of Minds menyarankan orang tua memberikan waktu pemulihan, mengurangi tuntutan, serta membantu anak melakukan co-regulation.

Orang tua dapat berada di dekat anak, menawarkan aktivitas yang familiar atau menenangkan, kemudian menunggu sampai anak siap kembali beraktivitas.

Setelah situasi mereda, penting pula untuk melihat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Orang tua dapat memperhatikan apakah anak kurang tidur, terlambat makan, terlalu lama berada di lingkungan yang ramai, atau menghadapi terlalu banyak tuntutan. Mencatat pemicu dan pola perilaku secara sederhana dapat membantu keluarga memahami kebutuhan anak dengan lebih baik.

Kapan Orang Tua Perlu Mencari Bantuan Profesional?

Tantrum dapat menjadi bagian dari perkembangan anak. Namun, orang tua dapat mempertimbangkan bantuan profesional apabila tantrum terjadi sangat sering atau berlangsung sangat lama, menimbulkan risiko cedera pada anak maupun orang lain, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari anak dan keluarga.

Hal serupa berlaku ketika keluarga terus menghadapi episode overload atau meltdown dan kesulitan memahami pemicunya.

Psikolog dapat membantu melihat perkembangan emosi, perilaku, serta kemampuan regulasi anak. Sementara itu, occupational therapist dapat membantu memahami bagaimana anak memproses input sensorik dan bagaimana hal tersebut memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Memahami apa yang terjadi di balik perilaku anak dapat mengubah cara orang tua merespons. Fokusnya bukan hanya pada pertanyaan, “Bagaimana supaya anak berhenti menangis?”, tetapi juga pada “Apa yang membuat anak saya kewalahan, dan apa yang bisa saya lakukan untuk membantunya?”

Atelier of Minds (AOM) sendiri merupakan inclusive student care dan enrichment center di Jakarta Selatan yang mendampingi anak, remaja, dan dewasa muda neurodivergent. Pendekatannya mengintegrasikan psikologi, terapi okupasi, pendidikan, serta pembelajaran berbasis aktivitas, dengan fokus antara lain pada regulasi emosi, keterampilan sosial, fungsi eksekutif, kemandirian, dan kesiapan menghadapi kehidupan sehari-hari.

Share Artikel:

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Artikel Pilihan