Ketua Yayasan Rintisan Amal Bunda, Anita Ratna Faoziyah, S.T., M.Sc. mendapat penghargaan Filantropi 2026. Dok. Istimewa
Bagi Anita Ratna Faoziyah, kebaikan bukan sekadar soal memberi bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Baginya, kepedulian baru benar-benar berarti ketika mampu membuat seseorang kembali berdaya dan merasa tidak sendirian menghadapi kehidupannya.
Prinsip tersebut menjadi pijakan Anita dalam mengembangkan berbagai gerakan sosial melalui Yayasan Rintisan Amal Bunda. Selama enam tahun, yayasan yang dipimpinnya menjalankan program yang menyasar kebutuhan masyarakat, mulai dari pangan, kesehatan, pendidikan, pemberdayaan perempuan, hingga pendampingan kelompok rentan.
Konsistensi tersebut membawa Anita menerima penghargaan Tokoh Filantropi 2026 dalam rangkaian Kabar Award 2026 yang digelar di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas kiprah Anita bersama Yayasan Rintisan Amal Bunda dalam mengembangkan gerakan filantropi yang mengedepankan pelayanan, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat.
“Saya selalu percaya bahwa setiap kebaikan harus punya dampak. Bukan hanya bagaimana bantuan sampai kepada mereka yang membutuhkan, tetapi bagaimana setelah itu mereka bisa kembali berdaya, memiliki harapan, dan merasakan bahwa mereka tidak berjalan sendirian,” ujar Anita.
Salah satu program yang mencerminkan pendekatan tersebut adalah Papan Sedekah Sayur. Program ini mempertemukan hasil pertanian dengan kebutuhan pangan masyarakat sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh penerima bantuan.
Melalui program tersebut, petani dan berbagai pihak juga dilibatkan dalam ekosistem berbagi. Dengan begitu, hasil pertanian dapat disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan sekaligus membuka ruang kolaborasi bagi lebih banyak pihak.
Kepedulian Anita juga menyentuh kelompok lanjut usia melalui Rumah Sahabat Lansia. Program ini memberikan pendampingan kepada lansia, termasuk perhatian terhadap kebutuhan kesehatan dan perlindungan sosial.
Pendekatan tersebut tidak sekadar menempatkan lansia sebagai penerima bantuan. Mereka juga mendapatkan pendampingan dan perhatian agar tetap memiliki dukungan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Di bidang kesehatan, Amal Bunda turut menghadirkan program yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung. Salah satunya adalah khitan gratis bagi anak-anak di Cilacap yang digelar bersama PLN Indonesia Power dan Puskesmas Adipala.
Berbagai program tersebut berkembang dengan melibatkan banyak pihak, termasuk relawan, komunitas, dunia usaha, fasilitas kesehatan, serta masyarakat. Hingga memasuki tahun keenam, gerakan Amal Bunda disebut telah menjangkau sekitar 3,74 juta penerima manfaat, dengan dukungan ratusan relawan perempuan.
Bagi Anita, besarnya jumlah penerima manfaat bukanlah alasan untuk berhenti. Justru, gerakan sosial tersebut diharapkan terus membuka akses dan kesempatan bagi masyarakat agar dapat memperoleh dukungan yang lebih berkelanjutan.
Karena itu, penghargaan Tokoh Filantropi 2026 tidak ditempatkan Anita sebagai tujuan akhir. Penghargaan tersebut justru menjadi pengingat agar gerakan yang telah dibangun bersama Amal Bunda terus berkembang.
Dari pangan hingga pendampingan lansia, dari layanan kesehatan hingga pemberdayaan masyarakat, Anita ingin memastikan bahwa kebaikan tidak berhenti pada bantuan yang diberikan hari ini.
Sebab, bagi Anita, kebaikan yang paling berarti adalah kebaikan yang meninggalkan dampak—membantu seseorang memiliki harapan, mendapatkan kesempatan, dan perlahan mampu kembali berdiri dengan kekuatannya sendiri.