Menu

Cari Drama Romantis dengan Age Gap? Kenalan Yuk dengan Series Tante Sonya

01 Oktober 2026 20:48 WIB

Sumber: istimewa

HerStory, Jakarta —

Bagi sebagian perempuan, memasuki usia 35 tahun dan masih lajang kerap diikuti pertanyaan yang sama: kapan menikah, apakah terlalu sibuk bekerja, atau jangan-jangan terlalu pemilih? Ketika menjalin hubungan dengan laki-laki yang lebih muda, pilihan tersebut pun tak jarang kembali menjadi bahan penilaian.

Situasi ini memperlihatkan bagaimana kehidupan romantis perempuan masih sering ditempatkan dalam sebuah “garis waktu” tertentu. Ada anggapan bahwa menemukan pasangan, menikah, dan membangun keluarga seharusnya terjadi pada usia tertentu. Ketika seorang perempuan menjalani kehidupan di luar urutan tersebut, ia dapat dianggap tertinggal.

Padahal, perjalanan setiap orang dalam hubungan tidak selalu berjalan dengan waktu yang sama. Ada yang menemukan pasangan sejak usia muda, ada yang memulai kembali setelah berpisah, dan ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang sebelum merasa siap membuka hati.

Tekanan Menikah Bisa Berdampak pada Kesejahteraan Psikologis

Anggapan mengenai “usia ideal” untuk menikah bukan sekadar komentar yang berlalu begitu saja. Penelitian yang dipublikasikan dalam Persona: Jurnal Psikologi Indonesia terhadap 196 perempuan lajang berusia 25–55 tahun menemukan bahwa stereotip negatif dapat menurunkan kesejahteraan psikologis perempuan lajang.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa ketakutan menjadi lajang dapat memperkuat dampak tersebut. Dengan demikian, pertanyaan mengenai kapan menikah, anggapan terlalu pemilih, maupun penilaian terhadap pilihan pasangan dapat berkembang menjadi tekanan emosional yang nyata.

Tekanan tersebut dapat terasa semakin kuat ketika perempuan memasuki usia yang dianggap melewati “batas ideal” untuk menikah. Padahal, usia tidak otomatis menentukan kapan seseorang siap menjalani hubungan.

Jatuh cinta memang dapat datang tanpa direncanakan. Namun, keputusan untuk membangun hubungan di usia yang lebih matang sering kali melibatkan pertimbangan yang lebih kompleks. Pengalaman hidup, tanggung jawab, serta pemahaman mengenai kebutuhan dalam sebuah hubungan ikut membentuk cara seseorang menentukan pilihan.

Luka Masa Lalu Bisa Membuat Seseorang Lebih Berhati-hati

Pengalaman dari hubungan sebelumnya juga dapat memengaruhi cara seseorang memberikan kepercayaan. Karena itu, kehati-hatian perempuan dewasa dalam memilih pasangan tidak selalu berarti dirinya terlalu pemilih.

Bisa jadi, ia sedang memastikan bahwa hubungan yang dijalani mampu memberikan rasa aman, penghargaan, sekaligus ruang untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

Gambaran tersebut hadir melalui karakter Sonya yang diperankan Raihaanun dalam WeTV Original Tante Sonya. Dalam cerita tersebut, Sonya telah membangun kehidupan dan kariernya sendiri setelah mengalami pengkhianatan menjelang pernikahan.

Setelah pengalaman tersebut, ia memilih menjaga jarak dari hubungan romantis dan mengalihkan perhatiannya pada pekerjaan. Namun, kehidupannya mulai berubah ketika kembali bertemu dengan Ben, yang diperankan Maxime Bouttier.

Ben bukan sosok yang sepenuhnya asing bagi Sonya. Delapan tahun sebelumnya, Sonya pernah membantunya melewati masa sulit. Ketika mereka kembali bertemu, Ben telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa, sementara Sonya masih melihatnya sebagai seseorang dari masa lalu yang pernah ia bantu.

“Sonya tahu dirinya punya perasaan kepada Ben, tetapi menerima perasaan itu tidak mudah. Ia pernah dikhianati dan kini berhadapan dengan laki-laki yang usianya 14 tahun lebih muda. Jadi, konflik Sonya bukan soal cinta saja. Ia juga mempertanyakan apakah hubungan ini aman untuk dijalani dan apakah dirinya siap mengambil risiko sekali lagi,” ujar Surya Ardy Octaviand, Sutradara WeTV Original Tante Sonya.

Ketika Perempuan Berpasangan dengan Laki-laki Lebih Muda

Perbedaan usia menjadi salah satu hal yang membuat hubungan Sonya dan Ben tidak sederhana. Dalam cerita, Sonya berusia 42 tahun, sedangkan Ben 14 tahun lebih muda.

Hubungan dengan jarak usia sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Namun, respons terhadap hubungan semacam ini kerap berbeda ketika perempuan menjadi pihak yang lebih tua.

Pilihan perempuan dapat dikaitkan dengan penampilan, usia reproduksi, bahkan muncul anggapan bahwa hubungan tersebut terjadi karena ia tidak mampu mendapatkan pasangan sebaya. Sebaliknya, laki-laki yang menjalin hubungan dengan perempuan lebih muda cenderung dianggap sebagai sesuatu yang lumrah.

Perbedaan respons tersebut memperlihatkan bagaimana usia masih kerap digunakan untuk menilai daya tarik dan kelayakan perempuan dalam menjalani hubungan.

Padahal, kedewasaan tidak selalu berjalan lurus dengan angka usia. Kemampuan berkomunikasi, menghargai batasan, menghadapi konflik, serta memberikan rasa aman juga menjadi bagian dari kesiapan seseorang dalam membangun hubungan.

Dalam hubungan Sonya dan Ben, kepercayaan pun tidak muncul secara instan. Ben perlu menunjukkan bahwa perasaannya bukan sekadar kekaguman sesaat, sementara Sonya perlu berdamai dengan ketakutan yang selama ini membuatnya menutup diri. Kedekatan keduanya tumbuh melalui perhatian kecil dan kemauan untuk saling memahami.

Memberi Ruang bagi Kisah Cinta Perempuan Dewasa

Kisah romansa perempuan berusia 40-an masih relatif jarang mendapat ruang dalam tayangan populer di Indonesia. Ketika diangkat, ceritanya sering kali berpusat pada pencarian suami, kekhawatiran terhadap usia, atau kejar-kejaran dengan waktu.

Padahal, kehidupan perempuan dewasa tidak hanya ditentukan oleh status hubungan.

“Cerita cinta perempuan usia 40an masih jarang diceritakan dari sudut pandang perempuannya sendiri. Pembahasannya sering langsung tertuju pada status pernikahan atau usia pasangan. Melalui Tante Sonya, kami ingin melihat apa yang sebenarnya dialami perempuan ketika mencoba membuka hati kembali, mulai dari luka yang masih dibawa hingga keberanian untuk mempercayai orang lain,” kata Febriamy Hutapea, Country Head WeTV Indonesia.

Perjalanan Sonya kemudian memperlihatkan bahwa membuka hati di usia matang tidak selalu berarti berusaha mengejar sesuatu yang dianggap tertinggal. Baginya, cinta hadir ketika ia mulai berani menghadapi kembali pengalaman yang selama ini dihindari.

Pada akhirnya, tidak ada satu garis waktu yang berlaku untuk semua orang. Seorang perempuan dapat menemukan cinta untuk pertama kalinya, memulai kembali setelah hubungan sebelumnya berakhir, atau memilih tetap sendiri tanpa harus dianggap gagal mencapai tahapan tertentu.

Karena itu, pertanyaan mengenai mengapa seorang perempuan baru jatuh cinta setelah usia 35 tahun mungkin bukan lagi hal utama. Yang lebih penting adalah apakah hubungan tersebut membuatnya merasa aman, dihargai, dan memiliki ruang untuk bertumbuh.

WeTV Original Tante Sonya dibintangi Raihaanun, Maxime Bouttier, Dinda Kirana, Hamish Daud, dan Kresna Julio, serta dapat disaksikan secara eksklusif di WeTV.

Dalam serial tersebut, Sonya digambarkan sebagai perempuan karier yang kembali ke Indonesia untuk memimpin Dermawan Group, perusahaan keluarganya yang berada di ambang kebangkrutan. Di tengah tekanan pekerjaan dan luka masa lalu, kehidupannya berubah setelah kembali bertemu Ben, laki-laki lebih muda yang tidak pernah melupakan kebaikannya. Cerita kemudian mempertemukan romansa beda usia dengan dinamika karier, keluarga, dan keberanian seorang perempuan menentukan kebahagiaannya sendiri. 

Share Artikel:

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Artikel Pilihan