Menu

Beauty, Jualan Makanan Rumahan Tak Cukup Modal Enak, Ini Kuncinya!

09 Oktober 2026 23:34 WIB

Frisian Flag Indonesia (istimewa)

HerStory, Jakarta —

Beauty, punya bisnis makanan rumahan bukan cuma soal meracik menu yang lezat dan menarik. Pelaku usaha juga perlu memperhatikan keamanan pangan, mulai dari pemilihan bahan baku hingga penyajian, agar produk tetap aman dan berkualitas. 

Hal ini menjadi salah satu materi yang dibahas dalam kegiatan Frisian Flag Sapa UMK yang digelar PT Frisian Flag Indonesia (FFI) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA).

Kegiatan tersebut memberikan pembekalan kepada pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) kuliner mengenai keamanan pangan, gizi, dan kreativitas dalam mengembangkan produk. Melalui program Usaha Merdeka Legendary, FFI turut mendorong pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis dari rumah dengan memperhatikan kualitas dan keberlanjutan.

Keamanan Pangan Jadi Fondasi Bisnis Kuliner

Dalam menjalankan bisnis makanan rumahan, keamanan pangan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Pelaku usaha perlu memahami praktik pengolahan yang tepat, termasuk pemilihan bahan baku, proses memasak, penyimpanan, hingga penyajian makanan.

Melalui kolaborasi dengan BPOM, peserta mendapatkan pemahaman mengenai penerapan standar keamanan pangan dalam kegiatan usaha sehari-hari. Praktik tersebut juga dapat membantu membangun kepercayaan konsumen terhadap produk yang dijual.

Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro, mengatakan bahwa usaha kuliner memiliki peran penting dalam mendukung perekonomian keluarga dan masyarakat.

“Kami percaya banyak usaha kuliner berawal dari dapur rumah. Melalui Usaha Merdeka Legendary, Frisian Flag Indonesia ingin terus mendukung para pelaku UMK untuk mengembangkan usahanya melalui kreativitas, sekaligus memahami pentingnya keamanan pangan dan gizi. Kami berharap kolaborasi bersama BPOM dan UNSIKA dapat memberikan pengetahuan dan inspirasi yang dapat diterapkan dalam mengembangkan usaha yang lebih berkualitas dan berkelanjutan,” ujar Andrew.

FFI juga telah berpartisipasi dalam Program Orang Tua Angkat (OTA) Pemberdayaan UMK Pangan Olahan yang diinisiasi BPOM. Program ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui edukasi dan pendampingan.

Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha Pangan Olahan BPOM, Anisyah, S.Si, Apt, MP, mengapresiasi kolaborasi tersebut.

“Badan POM sangat mengapresiasi Frisian Flag Indonesia yang terus menjalankan program yang sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendukung UMK pangan. Salah satunya melalui kegiatan Sapa UMK dari Frisian Flag Indonesia dan Sapa Semesta dari BPOM, kolaborasi ini diharapkan dapat membantu UMK semakin memahami dan menerapkan standar keamanan pangan dalam menghasilkan produk yang aman dan berkualitas,” ujar Anisyah.

Bukan Cuma Lezat, Nilai Gizi Juga Perlu Diperhatikan

Beauty, selain menjaga keamanan pangan, pelaku bisnis kuliner juga perlu memperhatikan nilai gizi ketika mengembangkan produk. Aspek ini menjadi bagian dari pembekalan yang diberikan bersama UNSIKA.

Dekan FIKES Universitas Singaperbangsa Karawang, Dr. Al Mukhlas Fikri, S.Gz., M.Si., CIQnR, menilai dapur rumah memiliki potensi untuk menjadi awal pengembangan usaha kuliner.

“Banyak usaha kuliner yang sukses berawal dari dapur rumah. Namun, untuk berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan, kreativitas perlu berjalan bersama dengan perhatian terhadap keamanan dan nilai gizi. Melalui pendampingan dan kolaborasi antara akademisi, industri, dan pelaku UMK, kita dapat membantu usaha kuliner untuk terus berinovasi, meningkatkan kualitas, dan memiliki daya saing yang lebih baik.”

Dalam kegiatan tersebut, FFI juga menghadirkan demonstrasi kreasi kuliner bersama Chef Dimas yang melibatkan ratusan perwakilan pelaku UMK dan komunitas Natural Cooking Club (NCC). Sesi ini memberikan inspirasi bagi peserta untuk mengeksplorasi resep dan mengembangkan produk kuliner.

Andrew berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari.

“Kami ingin apa yang didapatkan para peserta hari ini tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam usaha mereka sehari-hari. Ketika kreativitas, keamanan pangan, dan kualitas berjalan bersama, dapur rumah dapat menjadi awal dari usaha yang mampu tumbuh dan memberikan manfaat yang lebih besar,” tutup Andrew.

Artikel Pilihan