Menu

Waduh! Lebih dari 75% Anak Disabilitas Belum Mendapat Akses Pendidikan Kesehatan Reproduksi yang Memadai

15 Oktober 2026 20:35 WIB

Unicharm (istimewa)

HerStory, Jakarta —

Remaja perempuan Tuli membutuhkan akses edukasi menstruasi yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi mereka. Tantangan akses informasi kesehatan reproduksi bagi penyandang disabilitas menjadi perhatian dalam kegiatan edukasi bertajuk Love Your Possibilities: We Can! yang diselenggarakan Unicharm bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang di SLB B Tunas Harapan, Karawang, Jawa Barat, Rabu (12/8).

Kegiatan yang diikuti puluhan siswi Tuli dan guru pendamping tersebut menggunakan alat bantu visual, media bergambar, serta dukungan bahasa isyarat agar materi kesehatan lebih mudah dipahami. Edukasi ini mencakup cara memilih pembalut sesuai kebutuhan, menjaga kebersihan diri, serta memahami mitos dan fakta seputar menstruasi.

Akses terhadap informasi kesehatan reproduksi menjadi salah satu tantangan yang dihadapi remaja penyandang disabilitas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Potret Penyandang Disabilitas di Indonesia: Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 yang terbit pada Desember 2024 menunjukkan lebih dari 75% anak penyandang disabilitas belum memperoleh akses pendidikan yang memadai.

Keterbatasan akses pendidikan tersebut menjadi perhatian dalam pemenuhan kebutuhan informasi kesehatan bagi remaja disabilitas. Padahal, perempuan penyandang disabilitas memiliki hak atas kesehatan dan reproduksi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Mewakili Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, Ketua Tim Kerja Promosi Kesehatan dr. Hardi Hermawan, MKM, menegaskan pentingnya kesetaraan akses pendidikan kesehatan bagi anak berkebutuhan khusus.

"Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak mutlak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak, termasuk edukasi kesehatan reproduksi, manajemen kebersihan menstruasi, dan perawatan kebersihan diri. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan sektor swasta seperti Unicharm sangat penting untuk menjangkau kelompok rentan ini agar tidak ada satu pun remaja putri yang tertinggal dalam menerima informasi kesehatan dasar," ungkapnya.

Dalam pelaksanaannya, materi disampaikan secara interaktif dengan menyesuaikan kebutuhan siswi Tuli. Pendekatan tersebut memungkinkan peserta mempelajari informasi menstruasi melalui media visual dan pendampingan komunikasi, termasuk dalam memahami kebersihan diri selama periode menstruasi.

Presiden Direktur Unicharm, Yasutaka Nishioka, mengatakan edukasi kesehatan inklusif menjadi salah satu upaya perusahaan dalam mewujudkan visinya bagi perempuan Indonesia.

"Visi ini kami wujudkan salah satunya melalui penyelenggaraan kegiatan edukasi kesehatan yang inklusif. Ke depannya, Unicharm akan terus menghadirkan inovasi produk unggulan dan inisiatif keberlanjutan demi memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat serta lingkungan, sejalan dengan slogan perusahaan kami, Ethical Living for SDGs." ujar Yasutaka.

Selain edukasi kesehatan, materi kegiatan juga menyinggung pemilihan pembalut untuk menghadapi potensi kebocoran akibat darah menstruasi yang menggumpal. Berdasarkan riset internal Unicharm pada 2025, lebih dari 30% perempuan Indonesia memiliki kekhawatiran terhadap gumpalan darah menstruasi yang dapat menyebabkan kebocoran, terutama saat tidur malam.

Unicharm menjelaskan bahwa darah menstruasi yang menggumpal dapat memiliki kekentalan hingga 80 kali dibandingkan darah cair biasa sehingga lebih sulit diserap. Perusahaan kemudian mengembangkan teknologi pori serap yang dirancang untuk menyerap darah menstruasi yang menggumpal dan menerapkannya pada pembalut malam Charm Safe Night.

Share Artikel:

Oleh: Azka Elfriza

Artikel Pilihan