Ilustrasi Sakit lutut akibat asam urat. (Pexels/Kindel Media)
Beauty, ingin mulai menurunkan berat badan lewat olahraga? Kamu nggak harus langsung mengikuti tren lari atau memaksakan diri menempuh jarak jauh lho!
Bagi individu dengan berat badan berlebih (overweight) hingga obesitas, jalan santai dan latihan beban dapat menjadi pilihan awal untuk membangun kebugaran secara bertahap, menurut Medical Expert PT Pyridam Farma Tbk (PYFA), dr. Carlinda Nekawaty.
Ia mengingatkan bahwa olahraga berintensitas tinggi seperti lari perlu disesuaikan dengan kondisi fisik. Pada individu dengan obesitas, beban tubuh yang diterima lutut saat berlari dapat meningkatkan risiko nyeri sendi apabila tubuh belum siap menghadapi aktivitas tersebut.
“Pada individu dengan hasil indeks massa tubuh obesitas, struktur anatomi lutut mereka seringkali tidak sanggup menahan beban berat tubuhnya sendiri saat melakukan olahraga intensitas tinggi seperti berlari. Oleh karena itu, saya sangat tidak menyarankan mereka untuk langsung menjadikan lari sebagai olahraga utama. Orang dengan overweight dan/atau obesitas memiliki prevalensi risiko nyeri sendi lutut yang melonjak drastis jika memaksakan lari secara rutin setiap pekan. Sangat direkomendasikan untuk berfokus terlebih dahulu pada penurunan berat badan melalui olahraga low-impact yang tidak membebani lutut, seperti latihan angkat beban atau jalan santai guna membakar timbunan lemak. Nantinya, otot-otot baru inilah yang akan membantu menopang fondasi tubuh dan menyelamatkan sendi lutut dari kerusakan dini,” tegas dr. Carlinda Nekawaty, Medical Expert PYFA.
Alih-alih langsung berlari dengan intensitas tinggi, individu dengan berat badan berlebih dapat mempertimbangkan aktivitas yang lebih sesuai dengan kemampuan fisiknya. Dalam materi yang disampaikan PYFA, jalan santai dan latihan angkat beban disebut sebagai pilihan untuk mendukung penurunan berat badan sekaligus membangun kekuatan otot.
Penguatan otot menjadi salah satu perhatian karena otot berperan menopang tubuh, termasuk membantu mendukung fungsi sendi. Peningkatan intensitas latihan pun perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan toleransi tubuh masing-masing.
Karena kondisi setiap orang berbeda, pemilihan jenis dan intensitas olahraga sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan fisik. Individu yang memiliki keluhan lutut atau kondisi kesehatan tertentu dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum memulai program latihan.
Imbauan tersebut muncul di tengah meningkatnya popularitas ajang lari. Berdasarkan rangkuman data IndonesiaMarathon.com yang dikutip dalam materi PYFA, jumlah ajang lari nasional yang terdata mendekati 1.000 event untuk periode 2025–2026.
Antusiasme ini perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kesiapan fisik, terutama bagi pelari rekreasional yang baru memulai aktivitas. Memaksakan jarak tempuh atau intensitas tinggi tanpa persiapan dapat meningkatkan risiko cedera.
Kementerian Kesehatan RI melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi obesitas pada penduduk dewasa berusia 18 tahun ke atas mencapai 23,4%.
Data tersebut menjadi salah satu konteks pentingnya mendorong aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi individu. Bagi Beauty yang ingin mulai lebih aktif, mengenali kemampuan tubuh dan membangun kebugaran secara bertahap menjadi bagian penting sebelum meningkatkan intensitas olahraga.