Menu

Penanganan Kanker Payudara Tak Berhenti pada Pengobatan, Ini Pentingnya Perawatan Multidisiplin

30 Oktober 2026 08:05 WIB

Sumber: istimewa

HerStory, Jakarta —

Kanker payudara masih menjadi salah satu tantangan kesehatan yang perlu mendapat perhatian, terutama bagi perempuan di Indonesia. Selain deteksi dini dan pengobatan, perjalanan pasien juga mencakup proses pemulihan hingga menjaga kualitas hidup setelah menjalani terapi.

Setiap pasien memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, penanganan kanker payudara tidak cukup hanya berfokus pada satu tindakan medis, tetapi membutuhkan kolaborasi berbagai spesialisasi, mulai dari diagnosis, pemilihan terapi, tindakan bedah, hingga rehabilitasi.

Pentingnya pendekatan tersebut menjadi pembahasan dalam media & community gathering bertajuk “Every Story is Unique, Every Journey Matters” yang diselenggarakan MRCCC Siloam Semanggi bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam rangka Bulan Kesadaran Kanker Payudara di Jakarta, Rabu (28/10).

Berdasarkan data GLOBOCAN 2024, Indonesia mencatat 93.236 kasus baru kanker payudara dan 38.012 kematian akibat penyakit tersebut. Kanker payudara juga menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan di Indonesia.

Tingginya angka tersebut menunjukkan pentingnya deteksi dini, diagnosis yang tepat, serta penanganan yang disesuaikan dengan karakteristik penyakit dan kondisi setiap pasien.

Deteksi Dini Masih Menjadi Tantangan di Indonesia

Tim Kerja Penyakit Kanker, Direktorat Penyakit Tidak Menular (PTM), Kementerian Kesehatan RI, dr. Uswatun Hasanah, M.Epid, menjelaskan bahwa keterlambatan deteksi dan diagnosis masih menjadi tantangan dalam penanganan kanker payudara di Indonesia.

Menurutnya, sebagian besar kasus kanker payudara ditemukan ketika sudah memasuki stadium lanjut. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keberhasilan pengobatan.

“Sebagian besar kasus kanker payudara ditemukan dalam stadium lanjut, sehingga angka keberhasilan pengobatan pun menurun,” ujarnya.

Ia juga menyoroti keterbatasan fasilitas layanan dan masih rendahnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini. Akibatnya, tidak sedikit pasien yang baru mendatangi fasilitas kesehatan ketika penyakit sudah berada pada stadium lanjut.

Kementerian Kesehatan telah memasukkan kebijakan deteksi dini kanker payudara ke dalam rencana aksi nasional. Targetnya, sebanyak 60% kasus kanker payudara dapat ditemukan pada stadium awal.

Namun, capaian nasional masih berada di bawah target tersebut. Pada 2025, kasus yang ditemukan pada stadium awal baru mencapai 10%. Sementara itu, hingga 30 September 2026, angkanya tercatat sekitar 16,19%.

“Target Kemenkes adalah 60% kasus kanker payudara bisa ditemukan di stadium awal. Dengan penemuan kasus yang lebih awal maka kesintasannya lebih tinggi dibandingkan yang ditemukan di stadium lanjut,” terang dr. Uswatun.

Ia menjelaskan, deteksi kanker payudara dapat dilakukan di Puskesmas melalui program Cek Kesehatan Gratis. Perempuan berusia 30–69 tahun dapat memperoleh skrining atau deteksi kanker payudara. Apabila ditemukan hasil abnormal, pasien akan segera dirujuk ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Lanjut (FPKTL).

Kementerian Kesehatan juga telah mengeluarkan pedoman tata laksana kanker payudara yang dapat digunakan tenaga medis sebagai panduan dalam memberikan penanganan.

“Kita semua perlu berkolaborasi menyampaikan bagaimana pentingnya deteksi dini kanker payudara. Deteksi kanker payudara bisa dilakukan di Puskesmas melalui Cek Kesehatan Gratis. Wanita usia 30–69 tahun akan mendapatkan skrining atau deteksi kanker payudara. Jika ditemukan kasus yang abnormal maka segera dirujuk ke FPKTL, Kemenkes juga sudah mengeluarkan pedoman tatalaksana kanker payudara ini bisa digunakan sebagai panduan tenaga medis dalam tatalaksana kanker payudara,” tutur dr. Uswatun.

Setiap Pasien Membutuhkan Pendekatan Pengobatan yang Berbeda

Chief Executive Officer MRCCC Siloam Semanggi, Tries Nainggolan, menyampaikan bahwa kondisi dan kebutuhan setiap pasien kanker tidak selalu sama. Karena itu, kolaborasi dari berbagai spesialisasi medis diperlukan agar penanganan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.

“Setiap pasien memiliki perjalanan perawatan yang berbeda. Karena itu, kami berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi multidisiplin agar setiap pasien mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya, tidak hanya dari sisi pengobatan, tetapi juga kualitas hidupnya,” ujarnya.

Hospital Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Adityawati Ganggaiswari, M.Biomed, MARS, menjelaskan bahwa pendekatan multidisiplin memungkinkan dokter dari berbagai spesialisasi mempertimbangkan pilihan terapi berdasarkan karakteristik penyakit, kondisi kesehatan, dan kebutuhan pasien.

Pertimbangan tersebut menjadi dasar dalam menyusun rencana perawatan, termasuk menentukan tindakan medis serta dukungan pemulihan yang diperlukan.

Ia juga mengingatkan bahwa deteksi dini tidak selalu harus menggunakan alat pemeriksaan khusus. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan perempuan adalah pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI secara rutin setiap bulan.

“Sebagai RS khusus kanker, kami memiliki kewajiban untuk terus melakukan edukasi mengenai kanker, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat,” ujar dr. Dita.

Mengenal Subtipe Kanker untuk Menentukan Terapi

Selain deteksi dini, pemeriksaan lanjutan juga berperan penting dalam menentukan pengobatan yang sesuai. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi, Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM, menjelaskan bahwa kanker payudara memiliki beberapa subtipe, antara lain Luminal A, Luminal B, HER2-positif, dan triple negative.

Karakteristik tumor bersama stadium penyakit menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan terapi. Karena itu, biopsi dan pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk mengetahui karakteristik sel kanker.

“Biopsi dan pemeriksaan lanjutan penting untuk mengetahui karakteristik tumor sehingga pasien dapat memperoleh pengobatan yang sesuai,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa biopsi merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan hasil diagnosis yang pasti. Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar untuk menentukan jenis dan subtipe kanker sekaligus pilihan pengobatannya.

“Ini krusial untuk menentukan jenis dan subtipe kanker, serta pengobatan yang sesuai,” tegasnya.

Dr. Jeffry juga menyoroti anggapan bahwa kanker merupakan vonis kematian yang masih melekat di masyarakat. Padahal, diagnosis kanker dapat memengaruhi kondisi psikologis pasien sehingga dukungan dari orang-orang terdekat menjadi bagian penting dalam perjalanan pengobatan.

Ia mengingatkan agar keluarga dan lingkungan sekitar memberikan waktu kepada pasien untuk memproses kondisi yang sedang dihadapi.

“Beri waktu saat seseorang sedang kalut. Kadang kita ingin beri semangat, tapi tanpa disadari malah menjatuhkan mental. Cukup kasih waktu dan temani dia,” ujarnya.

Untuk menjelaskan pentingnya pemeriksaan lanjutan, Dr. Jeffry mengibaratkan kanker seperti rayap. Menurutnya, tenaga medis perlu mengetahui jenis kanker dan memeriksa apakah sel kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Proses tersebut berkaitan dengan penentuan stadium penyakit.

Pilihan pengobatan juga bersifat spesifik dan individual. Pada kondisi tertentu, misalnya ketika tumor belum menyebar dan ukurannya kurang dari 2 cm, penanganan dapat diawali dengan kemoterapi sebelum operasi dilakukan setelah ukuran tumor mengecil.

Operasi dan Rekonstruksi untuk Mempertimbangkan Kualitas Hidup

Dari sisi bedah onkologi, Dokter Spesialis Bedah Onkologi MRCCC Siloam Semanggi, Dr. dr. Denni Joko Purwanto, Sp.B (K) Onk, menjelaskan bahwa tindakan operasi perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.

Ia menekankan bahwa deteksi dini memberikan peluang kesembuhan yang lebih baik. Namun, kanker tidak selalu terbatas pada satu bagian tubuh karena sel kanker dapat menyebar atau mengalami metastasis.

“Jika ditemukan dini, kanker memiliki kesempatan sembuh lebih baik. Namun harus diingat bahwa kanker bukan penyakit lokal. Operasi bukan berarti menyelesaikan segalanya karena sel kanker biasanya berinvasi ke sel-sel lain di seluruh tubuh (metastasis). Itu yang harus kita cegah dengan melakukan diagnostik dini dengan deteksi dini, USG, mammografi, atau MRI,” ujarnya.

Pemeriksaan diagnostik melalui radiologi, patologi, molekuler, dan metode lainnya diperlukan untuk mengetahui tipe sel kanker serta kemungkinan penyebarannya. Hal ini penting karena setiap sel kanker memiliki karakteristik yang berbeda.

Setelah diagnosis ditegakkan, dokter akan menyusun perencanaan terapi. Pilihan tindakan operasi antara lain mastektomi, yaitu pengangkatan seluruh jaringan payudara, serta Breast Conserving Surgery (BCT), yaitu operasi yang mempertahankan sebagian jaringan payudara.

Perkembangan teknologi dan metode bedah juga memberikan lebih banyak pilihan penanganan. Salah satunya melalui kolaborasi dengan tim bedah plastik dan rekonstruksi untuk mempertimbangkan bentuk payudara serta kualitas hidup pasien setelah operasi.

“Perkembangan teknologi dan metode bedah memberikan lebih banyak pilihan penanganan. Kolaborasi dengan tim bedah plastik dan rekonstruksi juga penting untuk mempertimbangkan bentuk payudara dan kualitas hidup pasien setelah operasi,” ujarnya.

Dr. Denni juga menjelaskan adanya pendekatan deeskalasi dalam terapi kanker, yaitu upaya menurunkan skala atau intensitas terapi sesuai kondisi pasien. Salah satu contohnya adalah penggunaan metode operasi minimal invasif untuk mengurangi dampak dan efek samping yang dirasakan pasien.

Penanganan tersebut dapat dilanjutkan dengan operasi rekonstruksi payudara untuk mengembalikan estetika bentuk dan fungsi payudara.

Menurutnya, berbagai pendekatan tersebut bertujuan mendukung kualitas hidup pasien agar tetap optimal setelah menjalani pengobatan.

Rehabilitasi Sebelum dan Sesudah Operasi

Perjalanan perawatan kanker payudara tidak berhenti setelah pasien menjalani operasi atau menyelesaikan terapi. Proses rehabilitasi juga menjadi bagian penting untuk membantu memulihkan fungsi tubuh dan mendukung kemandirian pasien dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik (Subspesialis Kardiorespirasi) MRCCC Siloam Semanggi, dr. Anita Ratnawati, Sp.KFR (K), menjelaskan bahwa rehabilitasi perlu disesuaikan dengan kondisi setiap pasien dan dapat dimulai bahkan sebelum operasi dilakukan.

“Selain pascaoperasi, rehabilitasi sebelum operasi juga penting. Ada tahapan panjang sebelum operasi. Di sinilah peranan rehab medik. Minimal untuk mengatasi kelelahan dan perubahan mood,” tuturnya.

Setelah operasi, rehabilitasi medik dapat mencakup latihan rentang gerak bahu untuk mengurangi kekakuan, penguatan otot, serta penilaian dan penanganan pembengkakan lengan atau limfedema apabila diperlukan.

Dr. Anita menjelaskan terdapat tiga aspek yang perlu dilatih melalui rehabilitasi medik, yaitu latihan pernapasan (breathing), kekuatan (strengthening), dan ketahanan (endurance).

“Breathing training tujuannya untuk relaksasi. Tidak hanya untuk fisik, tapi juga pikiran. Strength training sangat penting untuk menjaga massa otot untuk mencegah sarcopenia dan frailty,” jelas dr. Anita.

Ia juga mengingatkan bahwa berakhirnya pengobatan bukan berarti seluruh dampak terapi langsung menghilang. Karena itu, pasien tetap membutuhkan rehabilitasi lanjutan yang direncanakan sesuai kondisi masing-masing.

“Setelah semua pengobatan selesai, bukan berarti dampak dari pengobatan pun selesai. Diperlukan early rehabilitation yang dilakukan secara kontinu, yang direncanakan sesuai kondisi tiap pasien,” ucap dr. Anita.

Rehabilitasi yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan dapat membantu mencegah dan meminimalkan komplikasi, sekaligus mendukung pemulihan fungsi tubuh agar pasien dapat kembali beraktivitas secara optimal.

Kisah Flavia Sungkit, Penyintas yang Menemukan Kembali Harapan

Salah satu bagian dari kegiatan tersebut adalah berbagi pengalaman dari Flavia Sungkit, penyintas kanker payudara yang didiagnosis pada 2022 di payudara sebelah kiri.

Saat menerima diagnosis, Flavia baru memasuki usia awal 30-an dan baru saja menyelesaikan masa menyusui. Ia mengaku bahwa menerima kabar tersebut menjadi salah satu momen terberat dalam hidupnya.

“Betul apa yang disampaikan oleh dokter. Saat terberat adalah ketika menerima vonis,” ujarnya.

Sebelum didiagnosis, Flavia memiliki kebiasaan melakukan pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU) setiap tahun sejak usia 25 tahun. Kebiasaan tersebut dilatarbelakangi pengalaman memiliki anggota keluarga yang meninggal akibat kanker.

Namun, rutinitas pemeriksaannya sempat terhenti selama dua tahun ketika ia menjalani kehamilan dan menyusui.

Suatu hari, saat melakukan SADARI, Flavia merasakan benjolan keras dengan bentuk yang tidak rata pada payudara sebelah kiri. Ia kemudian segera memeriksakan diri ke dokter dan menjalani pemeriksaan lengkap, termasuk biopsi.

Awalnya, ia masih merasa tenang karena terdapat kemungkinan benjolan tersebut merupakan tumor jinak. Namun, hasil biopsi kemudian menunjukkan bahwa dirinya mengalami kanker payudara stadium 1.

“Rasanya seperti mendapat jackpot. Saya sudah merasa hidup sehat, tapi Tuhan berkata lain. Memang di awal sangat berat, terutama satu dua tahun pertama. Tapi inilah perjalanan yang harus dilalui,” ucapnya.

Selama menjalani pengobatan, Flavia juga mengikuti rehabilitasi medik sejak awal. Ia merasakan manfaat dari proses tersebut, termasuk ketika menjalani kemoterapi. Untuk menjaga kondisi mental, ia melakukan meditasi agar lebih tenang dan mindful.

Setelah operasi, Flavia sempat mengalami keterbatasan gerak hingga tidak dapat mengangkat tangan tinggi-tinggi. Kondisi tersebut terjadi meskipun ia tidak menjalani operasi pengangkatan kelenjar getah bening di ketiak. Tindakan yang dilakukan adalah Breast Conserving Surgery karena ukuran tumor masih kecil dan belum ditemukan penyebaran.

Untuk memulihkan kondisi tubuh, Flavia mulai melakukan latihan kekuatan. Awalnya, ia memilih berenang karena aktivitas tersebut menjadi olahraga yang bisa dilakukannya saat itu.

Setelahnya, ia mulai mencoba pilates untuk memperbaiki postur tubuh yang sempat miring. Ia kemudian meningkatkan intensitas latihan melalui aktivitas di gym bersama personal trainer (PT), fisioterapi, dan calisthenics. Pada 2026, ia bahkan sudah dua kali melakukan pendakian gunung.

Bagi Flavia, menjaga pola pikir juga menjadi bagian penting selama menjalani terapi maupun setelah pengobatan selesai.

“Boleh kok mengasihani diri sendiri, tapi jangan terlalu lama. Jangan kehilangan harapan, sekecil apa pun itu. Harapanlah yang membuat kita berani mengambil keputusan. Kanker bukanlah akhir dari chapter hidup kita,” pungkasnya.

Perkuat Kesadaran dan Akses Deteksi Dini

Melalui momentum Bulan Kesadaran Kanker Payudara, MRCCC Siloam Semanggi mengajak perempuan untuk lebih memperhatikan kesehatan payudara, termasuk memahami kapan dan bagaimana pemeriksaan perlu dilakukan.

Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui dukungan nyata untuk memperluas kesempatan masyarakat dalam mengakses deteksi dini kanker payudara.

Upaya ini melengkapi pendekatan multidisiplin yang dijalankan MRCCC Siloam Semanggi. Dengan melibatkan berbagai spesialisasi medis, penanganan diharapkan dapat mempertimbangkan karakteristik penyakit, kebutuhan individu, serta kualitas hidup pasien sepanjang proses perawatan.

Bagi pasien kanker payudara, perjalanan menghadapi penyakit tidak hanya berkaitan dengan pengobatan, tetapi juga bagaimana memulihkan fungsi tubuh, menjaga kondisi psikologis, dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari.

Share Artikel:

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Artikel Pilihan