Menu

Jangan Cuma Salahkan Perempuan, Hampir 40% Infertilitas Dipicu Faktor Pria Lho!

04 November 2026 02:33 WIB

Infertilitas (istimewa)

HerStory, Jakarta —

Moms, masalah kesuburan atau infertilitas selama ini kerap dikaitkan dengan perempuan. Padahal, kesulitan memperoleh keturunan bukan hanya dipengaruhi kondisi reproduksi wanita. Hampir 40% kasus infertilitas justru turut dipengaruhi oleh faktor pria.

Hal tersebut disampaikan Dr. Mathi Arasu Muthusamy, Medical Director sekaligus Fertility Specialist dari GenPrime Everlink Fertility Centre Kuala Lumpur, Malaysia, dalam acara edukasi bertajuk “Tentang Kesuburan, Tentang Anda: Memahami Kesuburan & Menentukan Langkah” yang diselenggarakan Stomp & Stride.

Menurut Dr. Mathi Arasu, anggapan bahwa infertilitas merupakan persoalan perempuan menjadi salah satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Pemeriksaan kesuburan seharusnya melibatkan kedua belah pihak agar penyebab kesulitan hamil dapat diketahui secara menyeluruh.

"IVF bukan sekadar jalan terakhir, namun ini adalah perawatan medis teruji yang sangat membantu, terutama bagi pasangan dengan masalah seperti tuba tersumbat, PMOS, atau infertilitas yang belum terjelaskan. Kesalahpahaman terbesar lainnya adalah bahwa infertilitas murni masalah perempuan. Faktanya, hampir 40% kasus dipengaruhi oleh faktor pria. Kesuburan adalah tanggung jawab bersama, dan kedua belah pihak harus dievaluasi serta didukung secara setara," tuturnya.

Ia juga menjelaskan bahwa In Vitro Fertilisation (IVF) atau bayi tabung bukan prosedur yang hanya perlu dipertimbangkan ketika seluruh upaya kehamilan lainnya gagal. Perawatan tersebut dapat menjadi pilihan medis bagi pasangan dengan kondisi infertilitas tertentu.

Selain pemeriksaan medis, gaya hidup sehari-hari juga menjadi hal yang perlu diperhatikan pasangan. Kebiasaan merokok, obesitas, dan stres dapat memengaruhi kualitas sel telur maupun sperma.

"Langkah sederhana namun sangat berdampak: berhenti merokok, jaga berat badan sehat, dan kelola stres. Obesitas dan rokok dapat menurunkan kualitas sel telur serta sperma secara drastis. Kami juga menyadari bahwa IVF adalah perjalanan emosional, sehingga menjaga kesehatan mental dan manajemen stres berhubungan langsung dengan tingkat keberhasilan perawatan," katanya.

Sementara itu, Ivon Thomas, perwakilan Stomp & Stride selaku penyelenggara, mengatakan edukasi mengenai fertilitas perlu dibicarakan lebih terbuka agar pasangan tidak terjebak stigma ketika menghadapi persoalan kesuburan.

"Di era modern, kita perlu semakin berani membuka percakapan soal fertilitas. Semakin banyak yang memahami, semakin banyak pula pasangan yang bisa menemukan solusi yang tepat. Kami berharap sesi ini menjadi ruang yang aman dan langkah awal untuk membawa lebih banyak harapan bagi mereka yang sedang berjuang," ujarnya.

Artikel Pilihan