Fetish (Unsplash/Artem Labunsky)
Manusia memiliki selera masing-masing terkait dengan hubungan seksual. Namun, dalam beberapa kasus ada pula yang menyukai dan tertarik dengan benda mati.
Kondisi ini disebut dengan fetisisme yang mana merupakan bentuk perilaku seksual dengan gairah serta kepuasannya dikaitkan dengan objek, aktifitas, bagian tubuh yang tak biasa, dan lainnya.
Gangguan fetistik adalah ketertarikan seksual yang intens terhadap benda mati atau bagian tubuh yang biasanya tak dipandang sebagai area sensual. Kondisi ini biasanya juga ditandai dengan adanya gangguan yang signifikan secara klinis dirasakan oleh penderita.
Bagi beberapa orang gambaran sebuah fetish dapat menyebabkan hingga meningkatkan gairah seksual. Di sisi lain ada pula fetish di mana seseorang lebih suka dan membutuhkan objek yang sebenarnya untuk mencapai gairah.
Orang yang memiliki fetish biasanya menggunakan, memegang, menggosok, merasakan, dan mencium objek untuk mencapai kepuasan seksual. Bahkan, ada pula yang meminta pasangan untuk memakai objek yang menjadi fetishnya selama berhubungan seksual.
Ada dua jenis fetish benda mati, yaitu fetish media dan bentuk. Fetish media meliputi bahan objek seperti sutra atau kulit. Sedangkan bagi seseorang dengan fetish bentuk menganggap bentuk objek sangat penting, seperti sepatu hak tinggi.
Dalam tingkat ekstrem, fetish dapat membahayakan jika berisiko bagi kesehatan maupun pasangan. Bahkan ada potensi mematikan karena rasa ketertarikan seksual terhadap benda mati tersebut sudah keterlaluan.
Salah satu tanda seseorang memiliki fetish adalah adanya adanya fantasi terhadap benda mati (misal pakaian dalam wanita) yang membangkitakan gairah seksual. Kondisi ini biasanya terjadi selama minimal 6 bulan.
Dorongan atau perilaku seksual tersebut dapat menyebabkan penderita mengalami perubahan secara klinis hingga terjadi gangguan dalam kehidupan sosial, pekerjaan hingga hal penting lainnya.
Penyebab fetisisme sendiri belum dapat ditetapkan secara pasti. Beberapa teori menyebut bahwa kondisi ini dapat disebabkan oleh faktor biologis serta faktor budaya.