ilustrasi baby eating (Pexels.com/Hasan Albari)
Moms selain sulitnya menyiasati bahan-bahan makanan untuk MPASI agar tinggi kandungan nutrisi, rupanya ada hal yang lebih menantang dibandingkan itu karena terkadang Moms juga harus menghadapi alergi bayi pada bahan makanan tertentu.
Hal ini sayangnya masih dianggap sepele, padahal dampak terburuknya bisa mengakibatkan pada kematian lho Moms. Sebelum lebih lanjut terkait makanan apa saja yang bisa jadi pemicu alergi, Moms harus tahu terlebih dahulu terkait ciri-ciri yang ditunjukkan si kecil ketika alergi makanan, diantaranya:
Faktanya, alergi makanan terjadi pada 8% anak, demikian penuturan Scott H. Sicherer, MD pakar dari Jaffe Food Allergy Institute di Mount Sinai School of Medicine, New York City.
Perlu diketahui bahwa pemicu alergi pada setiap anak berbeda. Namun, 99% anak mengalami alergi pada makanan seperti kacang, telur, susu, hidangan laut, gandum dan kedelai.
Ada bayi yang juga menunjukkan reaksi alergi pada jagung, stroberi dan buah bercita rasa asam. Sicherer menuturkan, alergen terbanyak ditemui pada susu, telur dan kedelai. Itu sebabnya beberapa makanan ini perlu menjadi perhatian orangtua.
Beberapa jenis makanan berikut juga sebaiknya dihindari diberikan pada anak, khususnya bayi yang usianya masih di bawah 1 tahun:
1. Susu sapi
Susu sapi memang mengandung nutrisi esensial untuk manusia, namun pengaruhnya bisa berbeda pada bayi. Memberikan susu sapi justru dapat menyebabkan defisiensi nutrisi, karenanya tunggulah hingga bayi menginjak usia setahun sebelum memberinya minuman ini.
2. Madu
Madu juga masuk dalam daftar makanan yang sebaiknya tak diberikan pada bayi Moms. Asupan ini mengandung botulisme spora, dan perut bayi belum cukup kuat untuk menghancurkan spora tersebut dalam organ tubuhnya.
3. Kacang-kacangan
Kendati jenis makanan ini mungkin menarik bagi bayi dan anak-anak, kacang sebaiknya langsung diberikan pada si kecil. Hal ini termasuk selai kacang yang sebaiknya tak diberikan untuk bayi berusia di bawah 2 tahun.
Apalagi jika ada sejarah keluarga yang memiliki alergi terhadap produk kacang, yang memungkinkan untuk turut dialami bayi.
Moms perlu ditanamkan dalam diri Moms jika alergi makanan pada si itu sangat berbahaya, untuk itu Moms bisa terapkan beberapa tips berikut untuk mencegah alergi terjadi pada si kecil
Setelah menyadari bayi menunjukkan reaksi alergi akan makanan tertentu, penting untuk Moms melakukan beberapa hal agar alergi tidak mengganggu tumbuh kembang bayi dan menghambat nutrisinya. Yuk, cegah alergi sekarang dengan tips berikut!
Tips mencegah alergi bayi #1 : Buat jurnal makanan
Dengan sistem pencernaan bayi yang belum sempurna, tak ada salahnya Moms membuat jurnal makanan saat mulai memasuki masa MPASI. Setiap memberikan makanan baru dalam satu hari, catat dan cermati reaksi yang ditunjukkan bayi. Hal ini bisa menjadi tindakan pencegahan alergi si kecil.
Hentikan jika bayi menunjukkan gejala aneh seperti eksim, kulit gatal dan gejala alergi lainnya. Ganti dengan makanan lain yang lebih aman dan menggugah seleranya.
Lakukan testing makanan
Menyaksikan bayi memasukkan makanan baru ke mulutnya tentu menyenangkan ya, Moms. Namun terlalu bersemangat memberikan aneka ragam makanan akan membuat Moms kesulitan mendeteksi mana makanan yang memicu alergi pada bayi.
Setiap memberikan jenis makanan baru, ada baiknya menunggu beberapa lama untuk mengantisipasi jika tubuh bayi memperlihatkan gejala tak ramah pada makanan tersebut. Jadikan kunci utama jika ada anggota keluarga yang juga alergi terhadap makanan tertentu dan berhati-hati memberikannya pada si kecil.
Jangan segan berkonsultasi ke dokter
Bertanya pada dokter anak menjadi langkah tepat Moms untuk rekomendasi nutrisi yang tepat, mengingat tumbuh kembang anak menjadi fase krusial. Untuk itu, konsultasi ke dokter jika anak menunjukkan gejala alergi yang mengkhawatirkan agar mendapat penanganan yang tepat.
Lihat Sumber Artikel di The Asian Parent
Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama HerStory dengan The Asian Parent. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel yang tayang di website ini menjadi tanggung jawab HerStory.