Menu

Benarkah 'Gancet' Cuma Mitos Belaka? Simak Faktanya dari Ahli Medis

06 September 2022 22:35 WIB

Seksolog, Dokter Boyke Dian Nugraha SpOG MARS., (IG @drboykediannugraha/Edited By HerStory)

HerStory, Jakarta —

Kata gancet mungkin sudah cukup populer dan tak asing lagi di telinga orang Indonesia. Istilah gancet sendiri bisa diartikan dengan kondisi dimana organ intim pria alias penis yang tesangkut di dalam vagina.

Jika bicara soal gancet, pasti berhubungan dengan kejadian wanita dan pria yang berhubungan intim. Bahkan, hal ini cukup dipercaya bagi sebagaian masyarakat Indonesia dan selalu di kaitkan dengan hal mistis.

Namun, jika ditelaah dari segi medisnya. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr Boyke Dian Nugraha mengatakan bahwa gancet sampai membuat penis benar-benar tak bisa lepas merupakan mitos.

"Biasanya ini dipakai untuk menakut-nakuti anak muda biar tidak melakukan hubungan seks sembarangan. Tapi itu tidak benar kalau tidak bisa lepas," kata dokter Boyke dikutip dari Fajar.co.id pada Selasa (06/09/2022).

Menurut Boyke, apabila penis tersangkut di vagina dan tak bisa lepas, efeknya kemungkinan besar hanya sementara. Apabila kedua pasangan rileks dan menunggu beberapa waktu, otot-otot akan rileks dengan sendirinya.

"Tidak mungkin penis itu tidak dapat lepas karena vagina itu licin (lubrikasi) dan saat penis mengecil pasti lepas. Secara medis tidak mungkin terjadi gancet kecuali ada hal yang di luar nalar," tegasnya.

Dokter spesialis kulit dan kelamin di RSUD Purwokerto, dr Ismiralda Oke Putranti, menyebut salah satu penyebab terjadinya gancet adalah kondisi yang disebut vaginismus, di mana vagina menutup tanpa sadar karena kejang otot di dasar panggul.

"Pada vaginismus terjadi kejang/spasme otot dasar panggul dan dinding vagina secara mendadak terhadap sesuatu yang penetrasi ke dalam vagina. Hanya saya kejadian gancet ini relatif jarang terjadi, karena jika seorang wanita memang mengalami vaginismus, penetrasi sulit terjadi," jelasnya.

Gancet hanya bisa terjadi ketika terjadi vaginismus yang ekstrem saat berhubungan intim. Pada titik paling parah, vaginismus yang ekstrem bisa disertai henti napas yang dapat menyebabkan kematian

"Vaginismu biasanya terkait dengan faktor fisik dan psikis atau emosional. Faktor fisik bisa terkait dengan infeksi dalam vagina, kondisi kesehatan tertentu seperti keganasan dan penyakit lichen sclerosus, menopause, kurangnya lubrikasi san foreplay, dan lainnya," ujar Oke.

Sedangkan faktor psikis, menurut Oke, bisa disebabkan oleh perasaan takut, cemas, trauma yang dialami wanita. Maka yang berpotensi menyebabkan kematian adalah kondisi vaginismus. Sementara gancet atau penis captive hanya bersifat sementara dan tak menyebabkan kematian.

Artikel Pilihan