Menu

Kardiovaskular Jadi Penyakit Paling Mematikan, Indonesia Kekurangan Tenaga Medis Untuk Pengobatan Penyakit Jantung

25 November 2022 19:11 WIB
Kardiovaskular Jadi Penyakit Paling Mematikan, Indonesia Kekurangan Tenaga Medis Untuk Pengobatan Penyakit Jantung

Indonesian Society of Inteventional Cardiology Annual Meeting di Shangri La Hotel, Jakarta (Egi Apriyanti)

HerStory, Jakarta —

Penyakit kardiovaskular menjadi penyakit utama di dunia dengan mortalitas tertinggi. Di Indonesia, penyakit jantung merupakan penyakit penyumbang angka kematian nomor 2 setelah stroke.

Penyakit jantung ialah penyakit kardiovaskular yang membutuhkan penanganan ekstra cepat dan cepat, serta memerlukan layanan Kesehatan tingkat lanjut, yaitu proses kateterisasi jantung dan pemasangan ring untuk menyelamatkan nyawa.

Kateterisasi merupakan salah satu prosedur Intervnsi kardiologi, yaitu prosedur invasive dengan memasukan alat ke dalam tubuh manusia tanpa pembedahan yang sangat berkembang dalam satu decade terakhir selain tentunya banyak prosedur lain yang semakin maju di bidang kardiovaskular.

Dibutuhkan prosedur yang baik untuk penanganan penyakit jantung agar menekan angka kematian akibat penyakit berbahaya ini. Apalagi jumlah kasus penderita penyakit jantung di Indonesia sangat tinggi, dengan angka 300.000 pasien per tahun.

Namun, hal tersebut tidak sejalan dengan ketersediaan tenaga medis dan alat pemeriksaan yang tersedia untuk menangani pasien jantung di wilayah Indonesia. Hal tersebut diungkap oleh Ketua Perhimpunan Intervensi Kardiologi Indonesia (PIKI), Doni Firman saat ditemui pada Pers Conference Indonesian Society of Interventional Cardiology Annual Meeting (ISICAM) 2022.

“Kita masih kekurangan alat keteter dan tenaga kesehatan, mungkin kita bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah dan semangat dari perhimpunan profesi. Mudah-mudahan angka ini bisa dikejar dengan kualitas yang baik,” ujar Doni, dikutip Jumat (25/11/2022).

Saat ini, Indonesia memiliki 329 orang tenaga kesehatan di bidang intervensi kardiologi dan diperkirakan di tahun 2023 mendatang aka nada 400 orang spesialis kardiologi.

Pertambahan jumlah tenaga kesehatan di bidang intervensi kardiologi ini diharapkan mampu menekan angka kematian akibat penyakit jantung. Apalagi penanganan penyakit jantung harus cepat dilakukan kurang dari 12 jam agar pasien bisa tetap selamat.

“Dalam 12 jam itu pembuluh darah yang tertutup harus dibuka, kalau tidak bisa meninggal atau gagal jantung,” ungkap Doni.

“Pemeriksaan pasien penyakit jantung dilakukan di ruang kateterisasi, kalau tidak, pasien bisa meninggal,” pungkasnya.

Sementara itu, dengan digelarnya ISICAM 2022 secara offline ini diharapkan mampu memperluas jejaring kolaborasi di dunia intervensi kardiologi yang juga dihadiri 34 pembicara internasional. Hal ini guna meningkatkan kebaikan pelayanan dan penanganan pasien-pasien jantung dan pembuluh darah di Indonesia.

Baca Juga: Bagi Penderita Penyakit Jantung Ini Hal yang Perlu Kamu Tahu Mengenai Virus Corona, Waspada Ya!

Baca Juga: Pola Tidurmu Berantakan? Hati-hati, Kebiasaan Itu Bahaya untuk Jantung!

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.