Mengurus anak emang butuh kesabaran ekstra. Tapi Moms pernah ngerasain udah capek banget dan ngga mau ngurus anak lagi? Atau mungkin suami mengalami hal serupa? Bisa jadi Moms mengalami parental burnout. Ternyata burnout ngga cuma dialami pekerja kantoran aja. Orang tua ternyata juga bisa mengalaminya. Secara umum, burnout dikategorikan sebagai kelelahan yang ekstrem. Pada kasus ini, parental burnout diartikan sebagai kelelahan besar dengan semua yang berkaitan dengan mengasuh anak. Kondisi ini akan membuat orang tua ngga berminat lagi untuk mengasih anak. Biasanya, faktor emosional seperti stres dan adanya rasa ketidakpuasan menjadi pemicu parental burnout.

Kondisi ini ngga terjadi begitu saja lho Moms. Ada beberapa gejala yang harus diwaspadai seperti merasa muak saat mengasuh si kecil, kehilangan rasa puas karena menjadi orang tua, dan menjaga jarak emosional dengan anak. Parental burnout ini ngga cuma sekedar kelelahan biasa lho Moms. Pada fase tertinggi yaitu saat mengalami fase kekecewaan kronis (chronic disenchantment phase), orang tua akan melakukan beberapa tindakan ekstrim seperti kekerasan verbal maupun fisik pada anak, kecenderungan bunuh diri, dan masalah pernikahan. Risiko ini semakin diperkuat dengan stigma orang tua harus sepenuhnya mengurus anak dan tidak boleh lelah. Sama seperti yang lainnya, orang tua juga pasti pernah kehabisan energi dan lelah mengurus anak.

Nah Moms udah tahu kan apa saja gejala dan dampak yang bisa ditimbulkan dari kelelahan dalam mengawasi anak. Kondisi ini sebenarnya bisa dicegah secara dini dengan melakukan dua cara. Pertama, Moms bisa meminta dukungan pasangan, keluarga, atau teman terdekat. Menjaga komunikasi dengan orang lain disaat seperti ini sangat penting lho Moms. Kedua, Moms bisa lebih memperhatikan kesehatan fisik seperti tidur cukup, olahraga, makan makanan yang bergizi, refreshing, dan lain sebagainya. Tapi jika kedua cara itu masih belum berhasil Moms bisa melakukan konsultasi dengan profesional.