Jabatannya sebagai seorang Menteri Keuangan Negara Republik Indonesia tentu banyak tanggung jawab berat dan rintangan yang harus dihadapi oleh Sri Mulyani Indrawati. Menteri tersebut banyak menuai kritik sedap dari publik perihal masalah perekonomian Indonesia sampai dibilang terlalu banyak utang.

Kabarnya, kondisi saat ini di kala Covid-19, APBN 2020 mengalami defisit. Banyak sektor perekonomian yang mati dan berpengaruh pada pendapatan negara dan terjadinya utang.

"Dalam situasi ini bukannya tidak gratis, APBN menghadapi Covid-19 mengalami tekanan, penerimaan negara turun hingga 15%. Bahkan penerimaan pajak kita menurun mendekati 20%, tapi kita harus tetap belanja, bahkan meningkat. Dan saya utang, saya diomeli seluruh masyarakat Indonesia untuk ini," ungkap Sri Mulyani.

Menurut kabar, negara-negara besar banyak yang melakukan utang akibat pandemi Covid-19. Bukan hanya Indonesia, negara besar seperti Amerika dan Prancis juga melakukan utang yang enggak kalah besar. 

"Di berbagai negara bahkan sudah tembus 100i PDB-nya. Sebagian besar lagi sudah di atas 60%," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa, Rabu (06/01/21). 

Amerika Serikat tembus sampai 131,2%  diikuti oleh Prancis yang berada di angka rasio utang 118,7%. Negara tetangga seperti Singapura juga tembus 131,2%, sangat berbeda jauh dengan Indonesia yang berada dalam angka 38,5% yang terdiri dari utang pemerintah, bank sentral, dan BUMN selama tahun 2020 kala di tengah pandemi Covid-19.

Sri Mulyani masih berharap Indonesia terus membaik dan selalu responsif dalam menghadapi krisis keuangan akibat pandemi. 

Baca Juga: Sri Mulyani Ditanya Hal Menohok oleh Anak SD: Gimana Kalau Negara Kekurangan Uang? Jawabannya...

"Ini situasi yang kita hadapi, namun Indonesia akan terus keep up untuk selalu relatif lebih baik, merespons lebih efektif, sehingga perekonomian dan masyarakat kita bisa bangkit kembali," ujarnya.