Sudah menjadi budaya, penampilan guru TK di Indonesia adalah sosok yang rapi dan feminim. Tetapi ternyata, ada guru TK asal Indonesia yang bekerja di Jerman, memiliki penampilan yang sangat berbeda dengan yang biasanya ada di Tanah Air.

Andra Stefanowski, wanita asal Indonesia yang bekerja di Berlin, Jerman, sebagai guru TK, berpenampilan yang sungguh beda dari guru-guru kebanyakan. Andra memiliki tato di tubuhnya, tindikan dan bergaya seperti anak punk.

Awalnya, orang tua yang menyekolahkan anak mereka di TK tersebut keheranan, tetapi semenjak tahu pola ajar Andra yang memang bisa diacungi dua jempol, mereka enggak lagi menaruh stigma buruk kepada wanita yang berdandan tomboy seperti anak punk tersebut.

Enggak hanya orang tua, murid-murid yang diajar oleh Andra juga sempat merasa kebingungan dengan tampilan Andra ketika mengajar. Muridnya merasa bingung karena Andra mempunyai rambut yang pendek dan gaya yang nyentrik.

“Aku bilang aku perempuan. Mereka tanya lagi, kok rambutnya pendek? Aku jelaskan: ada banyak perempuan yang rambutnya pendek, ada juga laki-laki yang rambunya panjang," kata Andra.

"Kebetulan di TK aku ada anak-anak laki yang rambutnya panjang. Jadi aku bisa kasih contoh, karena kalau sama anak kecil, menjelaskan itu susah karena tidak seperti bicara dengan orang dewasa. Mereka butuh contoh. Jadi aku memberi contoh, perempuan rambutnya bisa pendek, ternyata. Tanpa menggurui, ada pengetahuan gender yang mereka dapatkan dari situ," sambungnya.

Sebelum melamar kerja, Andra sempat berpikir untuk menutupi tato di lengannya karena ia melamar sebagai guru TK. Namun hal tersebut ia urungkan dan memilih untuk tampil apa adanya. 

Saat wawancara, kepala sekolah tempat Andra bekerja sama sekali enggak menanyakan soal tato ditubuhnya.

“Teman-teman kerja aku di TK itu, tatonya malah dari kepala sampai ujung kaki. Jadi ketika diinterview (kerja) itu dengan penampilan aku seperti begini, tidak dikomentari apa pun dari kepala sekolah. Kepala sekolah aku pertanyaannya langsung tentang kemampuan aku, tidak dilihat dari penampilan aku seperti ini, tetapi juga dari sudut pandang nasionalitas, karena saya bukan orang Jerman dan bahasanya juga bukan bahasa ibu saya, tetapi mereka tidak ada poin pertanyaan: Oh penampilannya kok seperti ini, bahasa Jermannya mungkin tidak bebas aksen. Tidak ada. Jadi benar-benar kualitas!” jelas Andra menenang saat ia melamar kerja untuk pertama kali sebagai tenaga pendidik.

Kebetulan, TK tempat Andra mengajar menggunakan metode 'Open Concept' di mana anak-anak diajarkan untuk selalu menerima perbedaan. Enggak ada yang dibeda-bedakan di dalam sekolah tersebut. Metode ini diterapkan agar anak bisa beradaptasi, mengeluarkan pendapat, dan mengetahui kebutuhan mereka sebagai makhluk sosial.