Anak yang mudah bergaul mempunyai nilai lebih untuk berinteraksi di lingkungan sosial karena mudah beradaptasi. Tetapi, Moms, kamu juga harus menaruh rasa khawatir jika anakmu mudah bergaul.

Kenapa begitu? Anak yang mudah bergaul akan dengan cepat bermain dengan teman baru tanpa memandang usia dan gender. Itu dia mengapa anak yang mudah bergaul tetap harus diawasi dengan ketat atas pergaulannya, apalagi jika mereka masih anak-anak.

Moms harus bisa mengontrol anak dengan cara memberitahu batasan-batasan apa saja yang harus mereka ketahui sebelum bersosialisasi dengan orang baru lebih jauh. Karena kita enggak tahu, Moms, apa alasan di balik orang baru yang ingin mengenal dekat dengan si kecil, maka Moms tetap harus menaruh rasa khawatir demi melindungi buah hati.

Caranya dengan memberitahu anak bahwa enggak semua orang memiliki niat baik, ada juga yang mempunyai niat buruk. Untuk itu orang tua bisa meningkatkan rasa waspada anak kepada orang baru yang ia temui.

Jaga anakmu dengan memberi pengertian tentang consent pada tubuh dan batasan interaksi fisik. Enggak semua orang yang baru dikenal boleh untuk melakukan kontak fisik secara langsung. Apalagi di masa pandemi seperti ini di mana setiap orang harus berjaga jarak.

Pemberian pendidikan tentang consent juga perlu diterapkan sejak dini agar anak tahu bagian tubuh mana saja yang bersifat pribadi dan enggak boleh disentuh orang lain dengan sembarangan. 

Selain itu, orang tua juga harus mengingatkan anak untuk selalu berjaga-jaga dengan identitas pribadinya. Anak enggak boleh secara gamblang memberitahu alamat rumahnya, dan identitas lainnya yang terlalu pribadi kepada orang baru.

Baca Juga: Apa yang Terjadi Jika Anak-anak Melihat Orang Tuanya Bertengkar hingga Alami KDRT?

Anak yang mudah bergaul memang mempunyai nilai plus, bergaul enggaklah salah, tetapi tetap harus ada batasan yang anak harus mengerti dalam bergaul.