Pesona Korea di JF3 (istimewa)
Parade busana JF3 pada hari kedua yang digelar di Gafoy, Summarecon Mall Kelapa Gading pada Sabtu (26/7) berlangsung meriah. Kala itu, JF3 menampilkan tiga desainer asal Korea Selatan yang memboyong koleksi dengan karakter kuat.
Adapun tiga desainer itu adalah Choi Chung-hoon (Doucan), Lee Joon Bok (Re Rhee), dan Baek Ju Hee (Reonve).
Bukan hanya dikenal di dalam negeri, ketiga desainer itu juga sudah bersolek di panggung internasiional lho Beauty!
Tahun ini, DOUCAN membawakan tema Rekonstruksi Memori. Adapun koleksi ini direkonstruksi yang melacak kembali kenangan yang telah dipamerkan sejak awal peluncuran hingga saat ini.
Choi Chung-hoon, desainer mode asal Korea Selatan ini dikenal menempuh pendidikan di Prancis di Studio Bercot dan memulai karirnya bekerja dengan merek-merek mewah seperti Chanel, Kenzo, dan Dior.
Dalam gelarana ini, DOUCAN menyuguhkan motif cetak asli dan khas yang megah dan etnik dengan warna seperti emas dan merah menampilkan barang-barang unik DOUCAN dengan kombinasi detail berani dan siluet trendi.
Gak cuma megah dan halus dalam detailnya saja, koleksi ini juga cukup untuk menangkap sensitivitas unik DOUCAN.
Sang desainer menampilkan 20 potongan dalam JF3. Ia megaku sangat senang bisa berpartisipasi dan ingin memberikan lebih banyak koleksi menarik.
"Saya menyesal tidak dapat menampilkan lebih banyak potongan. Jika saya memiliki kesempatan seperti ini lagi, saya ingin menampilkan lebih banyak potongan," tuturnya.
Junebok Rhee memulai kariernya di London setelah menyelesaikan studi desain fesyen dan cetak di Central Saint Martins. Ia kemudian mengembangkan mereknya di Korea dengan nama RE RHEE, yang berlandaskan pada filosofi “Rediscovering Myself” atau “Menemukan Kembali Jati Diriku”.
Kini, Re Rhee telah membangun kehadiran global yang kuat, mulai dari pengakuan awal di Seoul Fashion Week hingga debut yang mendapat pujian di Paris Fashion Week 2025.
Pada gelaran JF3, Re Rhee menampilkan koleksi musim Semi/Panas 2025 bertajuk This Appearance; Disappearance yang mengeksplorasi terbentuknya dan lenyapnya mode secara sementara, serta keberadaan dan hilangnya esensi di baliknya.
Tahun ini, Re Rhee menampilkan 20 potong busana yang memiliki reinterpretasi visual terhadap perjalanan waktu dan jejak-jejak sementaranya. Koleksi ini juga merefleksikan ketidakabadian dari penampilan, keberadaan, dan ketiadaan.
Selain itu, koleksi Re Rhee ini juga memadukan unsur-unsur ini—perubahan warna, tekstur, dan siluet yang melambangkan transformasi dan peluruhan yang terjadi seiring berjalannya waktu.
"Perubahan ini tidak hanya mencerminkan evolusi material, tetapi juga transisi emosional yang kita alami saat melewati memori, kehilangan, dan penemuan kembali," ujarnya.
Baek Juhee, desainer Korea dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang hanbok tradisional dan busana wanita kontemporer memboyong 20 tampilan yang setiap tampilan terdiri dari satu hingga tiga item individu dalam gelaran JF3 Fashion Festival.
Tahun ini, Baek menghadirkan show dengan tema Whispers of Heritage yang merupakan koleksi yang menangkap perpaduan halus keindahan tradisional Korea ke dalam ritme kehidupan wanita modern.
Berbagai tekstur dan berat kain dihiasi dengan detail tradisional seperti bordir, quilting, dan patchwork, mencerminkan harmoni antara warisan dan modernitas.
Karena kegemarannya dalam bereksplorasi, Baek menyuguhkan keseimbangan antara hanbok dan busana wanita kontemporer. Unik, tapi tetap harmonis!
Siluet yang elegan dan bentuk yang terstruktur menonjolkan keanggunan Timur, diperkaya dengan teknik handmade yang berakar pada keahlian pengrajin.
"Saya adalah seorang desainer yang telah bekerja selama lebih dari 20 tahun berdasarkan fondasi hanbok tradisional Korea, dengan misi untuk membagikan keindahan warisan ini melampaui Korea kepada audiens global," ujarnya.
Uniknya, Baek menjelaskan bahwa REONVE adalah merek yang dibangun berdasarkan filosofi keluarganya dalam tekstil dan kerajinan.
"Perusahaan induk kami, Seonyoung Judan, terlibat secara mendalam dalam setiap tahap pengembangan kain, dari perencanaan desain hingga penyempurnaan kualitas dalam memproduksi sutra Korea tradisional menggunakan metode lokal yang berakar kuat," pungkasnya.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.