JF3 Fashion Festival (istimewa)
PINTU Incubator bersama École Duperré menampilkan karya-karya segar dalam gelaran busana JF3 di Gafoy, Summarecon Mall Kelapa Gading pada Minggu (27/7). Kesembilan desainer muda, baik dari École Duperré maupun peserta PINTU 2025, unjuk karya dengan gaya dan interpretasi masing-masing.
Beberapa desainer itu yakni para mahasiswa École Duperré seperti Pierre Pinget dengan koleksi bertajuk “Mafia”, Bjorn Backes melalui karya “REQUIEM”, dan Mathilde Reneaux yang menampilkan “Syrius”.
Dari dalam negeri, PINTU 2025 diwarnai oleh Lil Public, Dya Sejiwa, dan CLV sebagai peserta aktif tahun ini. Selain itu, beberapa alumni PINTU juga kembali hadir, seperti Nona Rona, Rizkya Batik, serta Denim it Up yang membawakan karya bertajuk “FUTURA 488-1”, menunjukkan kesinambungan semangat kreatif lintas generasi.
Masing-masing desainer membawa sudut pandang dan interpretasi unik dalam koleksinya dan memadukan eksperimen material, teknik, dan siluet khas masing-masing.
Mathilde Reneaux contohnya, ia mempersembahkan sebuah koleksi yang sepenuhnya dibuat secara handmade bertajuk Syrius, it dog yang memiliki makna sentimental kepada sang peliharaan.
"Syrius, it dog, berkisah tentang hubungan saya dengan anjing saya, Syrius," ungkapnya.

Dalam proyeknya ini, ia menggunakan material dan teknik yang bermakna, seperti kulit, bordir, dan logam, serta mengacu pada bahasa visual dari produk kulit dan perhiasan untuk menyoroti mekanisme fetisisasi.
pada gelaran ini, Reneaux menampilkan 6 koleksi lengkap beserta aksesori-aksesori pendukungnya. Bahkan, diketahui bahwa koleksi ini mengadopsi pendekatan kerajinan tangan dan memiliki keunikan tersendiri di setiap potongan dan detailnya.
Selain itu, mahasiswa École Duperré lainnya, Pierre Pinget memamerkan koleksi tafsiran ulang simbol visual dari sosok mafia Italia melalui sudut pandang tailoring kontemporer dan pemberdayaan perempuan.
"Koleksi ini mengacu pada tradisi sartorial untuk mengeksplorasi gagasan tentang kekuasaan, penyamaran, dan otoritas," pungkasnya.
Dalam gelaran JF3 Fashion Festival, Pinget menampilkan 7 koleksi lengkap termasuk jas, celana, kemeja, mantel, dan aksesori yang mengusung filosofi slow fashion.
Koleksi ini menggunakan material berkualitas tinggi seperti wol flanel, beludru ungu iridescent alami, organza sutra, serta kancing dan benang premium, yang dipilih untuk mencerminkan keanggunan karakter dalam tiap siluetnya.
Desainnya menampilkan jas double-breasted berkerah lebar, celana high-waist, kemeja fitted, mantel bervolume, dan rok tailoring.
Pinget menjelaskan bahwa setiap pakaian dibuat dengan teknik tailoring tradisional Neapolitan, dijahit tangan secara rapi, dan 95% proses pengerjaannya dilakukan secara handmade untuk hasil yang halus dan berkualitas tinggi.
Sedangkan, untuk koleksi dalam negeri, Nona Rona muncul dengan membawakan tema Lavanya yang bermakna sebuah penghormatan untuk cahaya dalam diri setiap perempuan.
Sang desainer, Stephanie Indrajaya percaya bahwa setiap perempuan memiliki kisah penuh kekuatan dan keanggunan yang tak selalu terungkap.
Koleksi terbaru Nona Rona, Lavanya, terinspirasi dari kekuatan dan kelembutan perempuan Indonesia, menggabungkan sulaman detail dan motif bunga sebagai simbol perjalanan hidup dan keindahan di setiap tahap.
Dari gaun lembut hingga luaran berkarakter, Lavanya merefleksikan keseimbangan antara kelembutan dan kekuatan, merayakan semangat, keberanian, dan keanggunan perempuan Indonesia.
Selain itu, Dya Sejiwa, yang didirikan pada 2017 oleh Nadya Kinanti Arifin juga membawakan warna Nusantara ke dalam gelaran JF3 Fashion Festival dengan mempersembahkan koleksi eksklusifnya yang berjudul Merekah.

Terinspirasi dari mekarnya bunga dan metamorfosis kupu-kupu sebagai simbol pertumbuhan dan transformasi, Dya Sejiwa menggabungkan Tenun Bulu khas dengan bahan berkualitas untuk membuat koleksinya yang mengedepankan pelestarian warisan dan keterampilan tradisional dalam desain timeless-nya.
Koleksi ini menampilkan lapisan lembut, sulaman halus, dan siluet mengalir menggunakan bahan organza sutra, tenun bulu, dan sutra mentah, dengan warna pastel dan aksen yang menggambarkan kepercayaan diri dan pembaruan.
"Merekah adalah wujud perayaan metamorfosis, menyatukan tradisi dan kreativitas dalam busana yang elegan dan penuh makna," pungkasnya.
Dengan adanya gelaran JF3 kali ini menegaskan bagaimana tradisi dan kreativitas saling bersinergi, memberi ruang bagi para desainer muda mengekspresikan identitas dan semangat mereka melalui busana yang sarat makna.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.