Sumber konten: istimewa
Perempuan kerap menjadi benteng pertama dalam menjaga kesehatan keluarga. Peran ini kembali disorot dalam talk show “Peran Ibu Sebagai Penjaga Keluarga” yang digelar PT Takeda Innovative Medicines bersama CegahDBD, mendukung Yayasan Pengembangan Medik Indonesia (YAPMEDI) dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Acara ini menjadi bagian dari rangkaian 13th Annual Women’s Health Expo & Bazaar 2025, di Gedung Smesco, Jakarta, 9–10 Agustus 2025.
Dengue masih menjadi ancaman serius. Data Kementerian Kesehatan RI mencatat hingga minggu ke-25 tahun ini, ada 79.843 kasus dan 359 kematian akibat penyakit ini. Dr. dr. Sukamto, SpPD, K-AI, FINASIM, menegaskan bahwa perempuan berperan penting sebagai penggerak informasi dan tindakan di rumah tangga.
"Perempuan menjadi jembatan informasi dan penggerak aksi di lingkup rumah tangga maupun komunitas. Salah satu tantangan besar yang dihadapi saat ini adalah meningkatnya risiko penyakit menular seperti dengue, yang dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, gaya hidup, atau tempat tinggal. Kita semua berisiko. Bahkan orang dewasa yang tampak sehat bisa membawa virus dengue tanpa disadari, dan berpotensi menularkan kepada orang lain melalui gigitan nyamuk. Tidak hanya itu, orang dewasa yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid, memiliki risiko keparahan yang lebih tinggi jika terkena DBD. Misalnya, hipertensi 2-3 kali lipat; obesitas 1,5-2 kali lipat; penyakit ginjal 7 kali lipat; diabetes melitus 3-5 kali lipat; dan penyakit paru-paru 2-12 kali lipat. Karena itu, penting bagi setiap keluarga untuk memahami bahwa pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh, melalui kebiasaan menjaga lingkungan dengan 3M Plus, penggunaan pelindung diri, dan mempertimbangkan penggunaan metode pencegahan yang inovatif
Ia juga mengingatkan bahwa orang dewasa sehat sekalipun bisa membawa virus tanpa gejala, dan risiko keparahan meningkat pada penderita penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, hingga penyakit paru. Pencegahan yang dianjurkan mencakup menjaga kebersihan dengan 3M Plus, penggunaan pelindung diri, serta mempertimbangkan vaksinasi.
Sementara itu, Dr.dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH, Spesialis Anak Konsultan, mengingatkan bahwa anak-anak justru berada dalam kelompok paling rentan. “Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa dalam tujuh tahun terakhir, kematian akibat dengue paling banyak terjadi pada anak-anak dan remaja usia 5–14 tahun. Ini menunjukkan bahwa anak-anak masih sangat rentan dan perlu dilindungi dengan serius,” jelasnya. Ia juga memaparkan gejala khas dengue, termasuk siklus demam seperti pelana kuda, serta tanda bahaya yang harus diwaspadai. “Dengue memiliki tiga fase utama, yaitu fase demam tinggi, fase kritis (demam turun), dan fase penyembuhan (demam naik lagi). Gejala yang muncul biasanya meliputi demam tinggi, nyeri kepala, mual, muntah, nyeri otot dan sendi, hingga ruam di kulit (petekie). Tidak jarang orang tua datang membawa anaknya dalam kondisi yang cukup kritis, bahkan mengarah pada Dengue Shock Syndrome (DSS) yang berisiko tinggi menyebabkan kegagalan organ karena perdarahan hebat dan penurunan tekanan darah secara drastis.”
dr. Bernie mengingatkan bahwa satu kali terinfeksi dengue bukan berarti seseorang akan kebal selamanya, “Anak yang pernah terkena dengue tetap bisa terinfeksi kembali, dan yang perlu digarisbawahi, infeksi kedua justru berisiko menimbulkan gejala yang lebih berat dibanding infeksi pertama. Inilah yang membuat pencegahan menjadi semakin penting,” jelasnya. Menurut dr. Bernie, sampai saat ini masih belum ada pengobatan yang spesifik untuk menyembuhkan dengue, “Pengobatan yang tersedia bertujuan untuk meredakan gejala dan mencegah komplikasi, seperti penurun panas, pengganti cairan, anti-radang, dan terapi pendukung lainnya. Oleh karena itu, pencegahan menjadi kunci, salah satunya melalui vaksinasi. Vaksinasi dengue sendiri telah direkomendasikan penggunaannya bagi anak dan orang dewasa, oleh asosiasi medis, termasuk Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI),” tutupnya.
Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menyampaikan bahwa perempuan adalah inti dari keluarga dan komunitas yang sehat. “Sebagai perusahaan yang berkomitmen pada kesehatan masyarakat, kami percaya bahwa membangun keluarga yang sehat dimulai dari pemberdayaan perempuan, karena merekalah penggerak utama dalam setiap upaya perlindungan dan perawatan di rumah tangga.”
Andreas menekankan bahwa Takeda secara konsisten mengambil peran aktif dalam mendukung upaya pencegahan dengue di Indonesia. “Kami berkomitmen menjadi mitra jangka panjang bagi para pemangku kepentingan di sektor kesehatan, termasuk pemerintah, asosiasi medis, sektor swasta, dan masyarakat, untuk memperluas akses terhadap edukasi dan solusi pencegahan dengue. Melalui inisiatif seperti talk show ini, kami ingin terus mendorong kesadaran dan aksi nyata, khususnya di kalangan perempuan, agar mereka dapat terus menjalankan perannya yang mulia sebagai penjaga keluarga yang kuat dan terlindungi. Pencegahan perlu dimulai dari kita sendiri. Ada banyak langkah yang bisa dilakukan: mulai dari menjaga kebersihan rumah, aktif melakukan 3M Plus, mencari informasi yang tepat, dan mempertimbangkan perlindungan tambahan yang inovatif. Bersama, kita bisa melindungi keluarga dari ancaman dengue, mengubahnya dari penyakit yang menakutkan menjadi sesuatu yang bisa dikendalikan, dan mewujudkan tujuan bersama: Nol Kematian Akibat
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.