Menu

Jamu Kembali Dilirik, Kini Bukan Lagi Sekadar Obat Tradisional Lho Beauty!

13 Juni 2026 07:30 WIB
Jamu Kembali Dilirik, Kini Bukan Lagi Sekadar Obat Tradisional Lho Beauty!

Acaraki (Istimewa)

HerStory, Jakarta —

Beauty, jamu kini tidak lagi identik sebagai minuman yang dicari saat tubuh mulai terasa tidak fit. Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat, jamu mulai dipandang sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Perubahan cara pandang tersebut menjadi salah satu pesan yang diangkat dalam acaraki Jamu Festival 2026 bertema “The Rise of Jamu Culture” yang berlangsung pada 6–7 Juni 2026 di Hutan Kota GBK, Jakarta. 

Festival ini menggabungkan unsur kesehatan, budaya, olahraga, kuliner, hiburan, dan kreativitas untuk mengajak masyarakat lebih dekat dengan budaya jamu.

Jamu sendiri telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia selama ratusan tahun. Warisan leluhur ini tidak hanya dikenal sebagai ramuan kesehatan, tetapi juga sebagai bagian dari budaya, pengetahuan, dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.

Di tengah tren hidup sehat yang terus berkembang, jamu dinilai memiliki potensi lebih luas daripada sekadar minuman tradisional. 

Indonesia bahkan memiliki kekayaan hayati yang besar untuk mendukung pengembangan herbal. Dari sekitar 40.000 spesies tanaman di dunia, sekitar 30.000 spesies tumbuh di Indonesia.

Pengakuan terhadap budaya jamu juga datang dari dunia internasional. Pada 6 Desember 2023, UNESCO menetapkan Budaya Sehat Jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia. Pengakuan tersebut menegaskan bahwa jamu bukan sekadar minuman tradisional, melainkan bagian dari identitas budaya bangsa yang memiliki nilai sejarah, pengetahuan, dan keberlanjutan.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Irene Umar, menilai jamu memiliki posisi unik karena tidak hanya hadir sebagai produk kesehatan, tetapi juga merepresentasikan identitas budaya Indonesia.

“Kita semua memiliki kedekatan emosional dengan budaya jamu, termasuk sosok ibu jamu gendong yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun. Hari ini keberadaannya mungkin semakin jarang ditemui, sehingga festival seperti acaraki Jamu Festival menjadi ruang yang penting untuk kembali memperkenalkan dan merayakan warisan budaya tersebut kepada masyarakat luas,” ujar Irene Umar.

Menurut Irene, jamu juga menunjukkan bagaimana identitas budaya dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi kreatif.

“Jamu sangat identik dengan Indonesia. Bahkan secara filosofi, kata ‘jamu’ merefleksikan tradisi menjamu dan merawat sesama yang telah diwariskan oleh leluhur kita. Nilai budaya inilah yang kemudian menjadi fondasi lahirnya berbagai produk, pengalaman, dan inovasi kreatif yang memiliki karakter kuat serta tidak dimiliki negara lain. Ketika budaya dan kreativitas bertemu, maka akan tercipta nilai tambah yang mampu memperkuat identitas bangsa sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas,” tambahnya.

Perkembangan jamu saat ini juga menunjukkan kemampuan warisan budaya untuk beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Jika dahulu identik dengan jamu gendong, kini jamu hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari minuman siap minum, botol, sachet, kapsul, hingga café jamu dan produk perawatan tubuh berbasis herbal.

Pandangan bahwa jamu dapat menjadi bagian dari aktivitas harian turut diwujudkan melalui berbagai program dalam festival tersebut. Mulai dari Jamu Fit Fest yang menghadirkan 5K Fun Run, Fun Walk, Yoga, Poundfit, dan Zumba, hingga Perjamuan Nusantara yang menampilkan beragam jamu, kuliner tradisional, produk UMKM, serta karya kreatif dari berbagai daerah di Indonesia.

Baca Juga: Mbok Jamu Tampil Avant-Garde di Runway, GP Jamu Kolaborasi dengan Acaraki Hadirkan 'Tradition Meets Couture'

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Share Artikel:

Oleh: Azka Elfriza

Artikel Pilihan