Menu

Libur Sekolah Bikin Anak Makin Lama Menatap Layar? Waspada Ini Bahayanya Moms!

24 Juni 2026 01:30 WIB
Libur Sekolah Bikin Anak Makin Lama Menatap Layar? Waspada Ini Bahayanya Moms!

Kino Indonesia (Istimewa)

HerStory, Jakarta —

Siapa sangka ternyata masa libur sekolah tidak selalu identik dengan aktivitas bermain dan eksplorasi lho Moms. Sejumlah studi dan survei terbaru menunjukkan bahwa saat libur panjang tiba, durasi screen time anak meningkat signifikan hingga mencapai dua setengah jam per hari. Pada saat yang sama, aktivitas fisik dan waktu tidur anak justru mengalami penurunan.

Fenomena ini dijelaskan para ahli melalui konsep Structured Days Hypothesis, yakni kondisi ketika anak kehilangan rutinitas harian yang teratur selama liburan. 

Tanpa jadwal sekolah dan aktivitas yang terstruktur, anak cenderung lebih banyak menghabiskan waktu dengan aktivitas pasif, termasuk menatap layar gawai dalam waktu yang lebih lama.

Padahal, pedoman kesehatan dari WHO merekomendasikan agar anak usia sekolah tetap aktif bergerak setidaknya 60 menit setiap hari. Aktivitas fisik dinilai penting untuk mendukung kesehatan fisik, kualitas tidur, hingga perkembangan emosional anak.

Di sisi lain, banyak orang tua menghadapi dilema saat mengajak anak bermain di luar rumah. Keinginan untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget sering kali berbenturan dengan kekhawatiran akan cuaca panas, kelelahan, atau risiko anak jatuh sakit.

Senior Brand Manager Cap Kaki Tiga Anak, Jesica Christianty, mengatakan kekhawatiran tersebut menjadi pengalaman yang banyak dirasakan para ibu saat musim liburan sekolah.

"Kami sangat mengerti dilema yang dihadapi para ibu saat liburan sekolah tiba. Para ibu sadar betul anaknya butuh jeda dari gadget dan ingin mereka aktif bereksplorasi di luar ruangan. Namun pada saat yang sama, kekhawatiran bahwa anak akan drop atau jatuh sakit akibat cuaca yang tidak menentu kerap kali menghantui," ujar Jesica.

Psikolog Anak dari Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima, M.Psi., Psikolog, menilai solusi untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap layar bukan dengan memenuhi liburan menggunakan berbagai les tambahan. Menurutnya, anak justru membutuhkan ruang untuk bergerak bebas dan mengeksplorasi lingkungan sekitar.

"Yang paling dibutuhkan anak di masa libur sekolah adalah ruang untuk bergerak bebas lewat Adventurous Play. Ini adalah jenis permainan yang sedikit menantang dan seru, seperti berlari bebas atau memanjat, namun tetap dalam kendali," papar Saskhya.

Ia menjelaskan bahwa permainan aktif membantu anak belajar menghadapi tantangan, mengambil keputusan, serta membangun kepercayaan diri. Bahkan, survei dari University of Exeter di Inggris terhadap 2.500 orang tua menunjukkan bahwa anak yang terbiasa melakukan permainan fisik yang menantang memiliki tingkat gejala kecemasan dan depresi yang lebih rendah.

Selain memberikan kesempatan bermain, Saskhya juga mengingatkan pentingnya keseimbangan dalam pengawasan. Orang tua tidak perlu selalu berada di samping anak setiap saat, melainkan dapat menjadi tempat aman yang mudah dijangkau ketika dibutuhkan.

"Ketenangan ibu itu menular dan sangat krusial. Kalau kita terlalu mudah cemas atau sedikit-sedikit melarang, anak justru akan menyembunyikan rasa sakit atau lelahnya karena takut disuruh berhenti bermain," jelas Saskhya.

Menurutnya, liburan sekolah dapat menjadi momen penting bagi anak untuk mengurangi ketergantungan pada layar sekaligus mengembangkan kemandirian, selama orang tua memberikan ruang eksplorasi yang aman dan tetap memperhatikan kebutuhan fisik mereka selama beraktivitas.

Baca Juga: Pasca Lebaran, Keluarga Mulai Reset Pola Konsumsi

Baca Juga: Puasa Tetap Segar, Hair Mist Bisa Jadi Andalan!

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Artikel Pilihan