Sumber: istimewa
Memilah sampah dari rumah, mengumpulkan botol bekas, atau menyetorkan kemasan ke bank sampah mungkin terlihat sebagai kebiasaan sederhana. Namun, langkah-langkah tersebut ternyata menjadi bagian penting dari penerapan ekonomi sirkular, sebuah pendekatan yang mendorong material tetap berada dalam siklus penggunaan selama mungkin melalui proses pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang.
Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Dunia 2026, PT Heinz ABC Indonesia menggelar diskusi media bertajuk "Circular Economy in Action: Sinergi Kemitraan Multisektoral dalam Akselerasi Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan." Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas pentingnya kolaborasi dalam mempercepat pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan melalui penerapan ekonomi sirkular di Indonesia.
Diskusi tersebut menghadirkan Direktur Ekonomi Sirkular dan Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup Agus Rusly, General Manager Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) Reza Andreanto, Founder Kita Olah Indonesia Andriansyah, serta Head of Research and Development PT Heinz ABC Indonesia Lestri Fajrinia.
Menurut General Counsel and Head of Corporate Affairs PT Heinz ABC Indonesia, Mira Buanawati, keberhasilan penerapan ekonomi sirkular tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
"ABC Indonesia mendukung agenda nasional dalam implementasi Extended Producer Responsibility (EPR) dan ekonomi sirkular di Indonesia. Salah satunya melalui kemitraan dengan Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) sebagai platform kolaborasi produsen dalam pengelolaan kemasan pascakonsumsi. Kami percaya bahwa pengelolaan sampah yang berkelanjutan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi lintas sektor untuk membangun sistem yang mampu mendorong lebih banyak material kembali ke rantai daur ulang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi lingkungan," ujar Mira.
Komitmen tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Regulasi ini mendorong produsen untuk berperan aktif mengurangi sampah melalui pendekatan reduce, reuse, recycle (3R) sekaligus mendukung implementasi Extended Producer Responsibility (EPR) yang menempatkan produsen sebagai bagian dari solusi pengelolaan kemasan pascakonsumsi.
Direktur Ekonomi Sirkular dan Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup, Agus Rusly, mengatakan bahwa transformasi menuju ekonomi sirkular menjadi langkah penting dalam menjawab tantangan pengelolaan sampah di Indonesia.
"Indonesia terus memperkuat transformasi pengelolaan sampah dari pendekatan linear menuju ekonomi sirkular yang menempatkan sampah sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai. Implementasi EPR menjadi instrumen penting untuk memastikan produsen turut bertanggung jawab terhadap kemasan pascakonsumsi yang mereka hasilkan. Keberhasilan agenda ini membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, industri, pelaku pengelolaan sampah, dan masyarakat agar target pengurangan sampah nasional dapat tercapai secara efektif dan berkelanjutan," jelas Agus.
Dalam sistem tersebut, IPRO sebagai organisasi nirlaba yang dibentuk oleh produsen berperan mendukung pengelolaan kemasan pascakonsumsi melalui sistem pengumpulan terpilah dan pemulihan kemasan agar dapat kembali masuk ke rantai daur ulang.
General Manager IPRO, Reza Andreanto, mengatakan bahwa perjalanan sebuah kemasan tidak berhenti setelah digunakan konsumen.
"Kemasan tidak berhenti perjalanannya setelah dikonsumsi atau digunakan oleh konsumen. Melalui kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak, kami telah memastikan pertumbuhan kemasan yang akhirnya dapat dikumpulkan secara terpilah dan dikelola melalui jalur daur ulang. Semakin banyak kemasan yang berhasil dipulihkan, semakin berkurang pula beban kebocoran pengelolaan sampah yang terjadi pada lingkungan dan tempat pembuangan akhir," ujarnya.
Selain berdampak pada lingkungan, pengelolaan sampah yang baik juga dinilai mampu menciptakan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
Founder Kita Olah Indonesia, Andriansyah, mengatakan bahwa kegiatan pengumpulan material untuk didaur ulang tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan.
"Collection for recycling bukan hanya tentang mengumpulkan material yang dapat didaur ulang. Program ini juga menciptakan peluang ekonomi bagi komunitas pengelola sampah, pengepul, dan mitra daur ulang. Ketika masyarakat memilah sampah, lalu material tersebut berhasil masuk ke rantai daur ulang, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh masyarakat yang terlibat dalam proses tersebut," katanya.
Diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya peran masyarakat dalam mendukung ekonomi sirkular. Langkah sederhana seperti memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan material yang tidak diperlukan, serta memastikan kemasan yang dapat didaur ulang masuk ke saluran pengumpulan yang tepat dinilai dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, industri, organisasi pengelola sampah, komunitas, dan masyarakat, ABC Indonesia berharap semakin banyak kemasan pascakonsumsi yang dapat kembali menjadi bagian dari siklus ekonomi. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya mendukung lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga membantu membangun sistem pengelolaan sumber daya yang lebih efisien dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.