Menu

Bukan Sekadar Faktor Usia, Ini Penyebab Lansia Lebih Rentan Terjatuh, Moms Kenali Yuk!

03 Juli 2026 22:50 WIB
Bukan Sekadar Faktor Usia, Ini Penyebab Lansia Lebih Rentan Terjatuh, Moms Kenali Yuk!

Sumber: istimewa

HerStory, Jakarta —

Risiko jatuh pada lansia sering kali dianggap sebagai bagian alami dari proses penuaan. Padahal, kondisi ini dapat memicu berbagai dampak serius, mulai dari patah tulang, cedera kepala, hingga penurunan kualitas hidup yang memengaruhi kondisi fisik, mental, dan psikososial.

Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi di Seraphim Medical Center, dr. Raymond Posuma, Sp.KFR, MS(K), FIPM (USG), mengatakan sebagian besar kejadian jatuh pada lansia sebenarnya dapat dicegah apabila faktor risikonya dikenali sejak dini dan ditangani dengan pendekatan yang tepat.

Mengapa Lansia Lebih Rentan Jatuh?

Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami berbagai perubahan yang dapat meningkatkan risiko jatuh. Penurunan massa otot membuat tubuh kehilangan kemampuan menopang diri dengan stabil, sementara gangguan keseimbangan dan koordinasi membuat aktivitas sederhana, seperti berpindah dari duduk ke berdiri atau mulai berjalan, menjadi lebih berisiko.

Selain itu, penurunan fungsi penglihatan membuat lansia lebih sulit mengenali hambatan di sekitar, ditambah efek samping obat-obatan tertentu yang dapat menyebabkan pusing atau tekanan darah tidak stabil.

Menurut dr. Raymond, faktor-faktor tersebut umumnya tidak terjadi secara terpisah, melainkan hadir bersamaan sehingga meningkatkan risiko jatuh secara signifikan.

Tak hanya kondisi fisik, lingkungan juga memiliki peran penting. Lantai yang licin, pencahayaan yang kurang memadai, tidak adanya pegangan di area tertentu, maupun permukaan lantai yang tidak rata dapat menjadi pemicu terjadinya jatuh pada lansia.

Kenali Tanda-Tanda Sebelum Terjadi Jatuh

Banyak keluarga baru menyadari adanya masalah setelah lansia mengalami kejadian jatuh. Padahal, terdapat sejumlah tanda yang sering muncul lebih dulu, namun kerap dianggap sebagai hal yang wajar akibat bertambahnya usia.

Beberapa tanda tersebut antara lain sering berpegangan pada dinding atau furnitur saat berjalan, langkah yang menjadi lebih pendek dan hati-hati, menghindari aktivitas karena takut kehilangan keseimbangan, merasa pusing ketika berdiri dari posisi duduk, hingga tubuh yang lebih lambat merespons saat kehilangan keseimbangan.

Menurut dr. Raymond, kondisi tersebut bukan bagian normal dari proses penuaan yang harus diterima begitu saja, melainkan sinyal bahwa lansia perlu menjalani evaluasi lebih lanjut agar risiko jatuh dapat dicegah sejak dini.

Salah satu pendekatan yang kini digunakan dalam pencegahan jatuh adalah KINESIQ, yaitu program yang diawali dengan asesmen menyeluruh untuk mengukur keseimbangan, kekuatan otot, serta pola gerak lansia.

Hasil pemeriksaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam menyusun program latihan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu, sehingga latihan yang diberikan tidak bersifat umum, melainkan sesuai kebutuhan pasien.

Di Seraphim Medical Center, KINESIQ menjadi bagian dari program pencegahan jatuh yang didampingi tenaga medis, termasuk dr. Raymond Posuma. Setiap pasien menjalani asesmen awal, mengikuti program latihan yang telah dipersonalisasi, kemudian dipantau perkembangannya secara berkala.

Pendekatan ini tidak hanya bertujuan mengurangi risiko jatuh, tetapi juga membantu lansia tetap mampu bergerak secara mandiri dan percaya diri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Menurut dr. Raymond, rasa takut jatuh sering kali justru membuat lansia membatasi aktivitasnya. Akibatnya, mereka mulai enggan keluar rumah, mengurangi aktivitas fisik, hingga menjadi lebih bergantung kepada orang lain.

Karena itu, ia menilai deteksi dini menjadi langkah penting agar lansia tetap merasa aman dan percaya diri untuk bergerak.

"Ketika seseorang tahu bahwa keseimbangan dan kekuatan tubuhnya sudah dievaluasi, dan ada program yang memang dirancang untuk kondisinya, rasa percaya diri itu perlahan kembali. Bukan hanya soal mampu berjalan dengan lebih stabil, tapi juga soal merasa aman untuk tetap aktif, tetap mandiri, dan tetap menjalani hari-hari dengan cara yang biasa dilakukan," jelas dr. Raymond.

Dr. Raymond mengingatkan bahwa deteksi risiko jatuh sebaiknya tidak menunggu hingga seseorang pernah mengalami insiden tersebut atau terlihat sangat lemah.

Semakin cepat risiko dikenali, semakin banyak pilihan penanganan yang dapat dilakukan untuk mencegah kejadian jatuh di kemudian hari.

Ia juga mengimbau keluarga yang memiliki anggota lansia agar lebih peka terhadap perubahan kecil dalam cara berjalan atau keseimbangan tubuh, sehingga evaluasi medis dapat dilakukan lebih awal.

Menurutnya, dengan deteksi yang tepat serta program latihan yang sesuai, risiko jatuh dapat dikelola dengan baik sehingga lansia memiliki kesempatan untuk tetap aktif, mandiri, dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik di usia lanjut. 

Baca Juga: Saat Indonesia Masuki Era Ageing Population, Lansia Makin Butuh Perawatan Tepat

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Share Artikel:

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Artikel Pilihan