Menu

Makin Marak Deepfake, PINTU Edukasi Warga Bekasi Soal Literasi Digital

13 Juli 2026 17:27 WIB
Makin Marak Deepfake, PINTU Edukasi Warga Bekasi Soal Literasi Digital

Sumber: istimewa

HerStory, Jakarta —

PT Pintu Kemana Saja (PINTU) berkolaborasi dengan Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina untuk mendukung peningkatan literasi digital masyarakat melalui program bertajuk "Cek Sebelum Cekcok". Program ini berfokus pada edukasi mengenai bahaya hoaks, video deepfake, hingga ancaman siber yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Kegiatan yang digelar pada 4 Juli 2026 di Trimedia Green Park, Bintara, Bekasi, Jawa Barat, tersebut diikuti sekitar 150 warga Kota Bekasi. Acara ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia, Anggota DPRD Kota Bekasi Ir. Hj. Chairun Nisa, M.M., Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina Dr. Rini Sudarmanti, serta Senior Product Marketing Specialist PINTU Reyner Jonathan.

Chief Marketing Officer (CMO) PINTU, Timothius Martin, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan literasi digital masyarakat agar lebih waspada terhadap ancaman siber sekaligus mampu memanfaatkan teknologi secara positif.

"Kolaborasi PINTU dengan Universitas Paramadina merupakan bentuk komitmen serta tanggung jawab PINTU akan pentingnya literasi digital guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi ancaman siber, sekaligus agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi untuk manfaat sebesar-besarnya. Kami berharap program ini dapat menjadi inspirasi serta landasan bagi masyarakat yang lebih cerdas digital," ujar Timothius Martin.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota DPRD Kota Bekasi Ir. Hj. Chairun Nisa, M.M., menyampaikan bahwa Kota Bekasi memiliki sekitar 2,8 juta penduduk dengan 2,2 juta pengguna internet. Menurutnya, tingginya penggunaan media sosial membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk penipuan digital.

Sementara itu, Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina Dr. Rini Sudarmanti mengimbau masyarakat, khususnya para ibu, untuk mengenali ciri-ciri hoaks agar tidak terjebak informasi yang menyesatkan. Ia mengingatkan agar masyarakat mewaspadai judul yang sensasional, foto atau video hasil rekayasa AI, sumber informasi yang tidak jelas, hingga narasi bombastis yang mendorong orang untuk langsung menyebarkan informasi.

Rini juga mengajak masyarakat menerapkan verifikasi mandiri dengan mengecek fakta melalui sumber yang kredibel sebelum membagikan informasi. Menurutnya, ibu sebagai tiang keluarga memiliki peran penting dalam mengedukasi anggota keluarga agar terhindar dari ancaman informasi yang menyesatkan.

Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Komdigi, Dimas Aditya Nugraha, mengatakan kemampuan masyarakat dalam mengenali hoaks masih beragam. Berdasarkan data yang dipaparkannya, sekitar 7% masyarakat sangat yakin terhadap informasi hoaks, 25% merasa yakin, dan 45% masih bimbang. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip "saring sebelum sharing" untuk menghindari manipulasi informasi.

Senior Product Marketing Specialist PINTU, Reyner Jonathan, turut membagikan sejumlah tips agar masyarakat terhindar dari penipuan digital. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya, tidak panik, memverifikasi nomor atau identitas institusi yang menghubungi, serta menghindari mengklik tautan yang tidak dikenal atau berpotensi phishing.

Selain membahas risikonya, Reyner juga menjelaskan bahwa AI dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas positif dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, teknologi tersebut dapat membantu mencari resep masakan, membandingkan produk sebelum membeli, hingga mendukung aktivitas usaha seperti membuat caption media sosial maupun membantu pembukuan sederhana.

"Jadi AI ini hanya alat yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif," ujarnya.

Dalam materi yang disampaikan, disebutkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat adopsi AI yang tinggi. Berdasarkan laporan Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 dari PwC Indonesia, sebanyak 69% pekerja Indonesia yang disurvei mengaku telah memanfaatkan AI dalam pekerjaannya selama satu tahun terakhir untuk meningkatkan produktivitas. Di sisi lain, Komdigi mencatat kerugian akibat penipuan digital di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar Rp7,5 triliun.

Menutup kegiatan tersebut, Reyner menegaskan komitmen PINTU untuk terus mendukung program edukasi dan literasi digital agar masyarakat semakin waspada terhadap berbagai bentuk kejahatan digital serta mampu memanfaatkan perkembangan teknologi untuk kehidupan yang lebih baik. Ia juga mengapresiasi Universitas Paramadina yang telah menggagas kegiatan tersebut sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahaya hoaks dan penipuan digital. 

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Share Artikel:

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Artikel Pilihan