Investortrust Power Talk (Istimewa)
Apakah kamu tipe orang yang saat mengalami keluhan kesehatan, lebih memilih langsung datang ke rumah sakit?
Siapa sangka, padahal menurut para pemangku kepentingan di sektor kesehatan, tidak semua kondisi memerlukan penanganan langsung di fasilitas kesehatan lho, Beauty.
Konsultasi melalui telemedicine dinilai dapat menjadi langkah awal untuk memastikan apakah pasien benar-benar membutuhkan pemeriksaan lanjutan atau cukup menjalani perawatan sederhana di rumah.
Pandangan tersebut disampaikan dalam pembahasan mengenai pengendalian overtreatment atau tindakan medis berlebihan yang kini menjadi perhatian industri kesehatan. Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), dr. Emira Oepangat, menegaskan bahwa fungsi utama telemedicine bukan sekadar memberikan resep obat, melainkan membuka akses konsultasi yang tepat waktu sehingga pasien dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhannya.
Menurut dr. Emira, pemanfaatan telemedicine juga berpotensi mengurangi penggunaan layanan kesehatan yang sebenarnya tidak diperlukan. Hal itu berdampak pada efisiensi biaya sekaligus mendorong masyarakat lebih bijak dalam mengambil keputusan saat mengalami keluhan kesehatan.
"Kalau kita bisa menurunkan ini, ibu bapaknya cerdas, terus bisa melewati misalnya pakai telemedicine dulu, betapa banyak klaim yang bisa kita hemat. Penurunan utilisasi setelah implementasi co-payment itu bisa 8 persen. Premi asuransi terbukti bisa turun dengan adanya cost sharing. Kenapa? Orang jadi mikir, bener gak sih gue harus ke rumah sakit untuk ini?" ujar dr. Emira dalam keterangan resmi, Rabu (15/7/2026).
Beauty, kekhawatiran terhadap overtreatment bukan hanya berkaitan dengan pembengkakan biaya kesehatan, tetapi juga keselamatan pasien. dr. Emira mencontohkan kasus seorang bayi berusia 15 bulan yang mengalami demam, batuk, dan pilek, tetapi justru mendapatkan resep berisi 15 bahan aktif sekaligus.
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai penerapan prinsip rasionalisasi penggunaan obat, evidence-based medicine, dan clinical pathway. Sebagai perbandingan, kasus serupa di Australia maupun Amerika Serikat umumnya ditangani dengan anjuran beristirahat, pemberian ASI, tanpa perlu menerima asupan bahan kimia secara berlebihan.
Menjawab tantangan tersebut, platform kesehatan digital DokterIN memperkenalkan pendekatan Connected Care 360° yang menempatkan telemedicine sebagai smart gate keeper dalam ekosistem layanan kesehatan. Direktur DokterIN, Yurid'ka Azkaa, menjelaskan bahwa telemedicine tidak hanya berfungsi sebagai kanal konsultasi daring, tetapi juga menjadi pintu masuk menuju layanan kesehatan yang terintegrasi.
Melalui pendekatan tersebut, pasien dapat mengakses edukasi preventif, smart assessment berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), telekonsultasi, rujukan yang lebih terarah, hingga pemantauan setelah perawatan. Sistem itu juga menghubungkan layanan preventif, fasilitas kesehatan, apotek, laboratorium, hingga program wellness dan gaya hidup dalam satu alur pelayanan.
"Masa depan telemedicine bukan diukur dari banyaknya konsultasi, tetapi dari kemampuannya mengendalikan kualitas layanan, utilisasi, dan biaya kesehatan secara terintegrasi," ujar Yurid'ka Azkaa.
Data Marsh and Mercer Benefits Health Trends 2025 juga menunjukkan inflasi biaya medis di Indonesia diproyeksikan mencapai 17,8 persen pada 2026. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pemanfaatan layanan kesehatan yang tepat, termasuk melalui telemedicine sebagai langkah awal, semakin dipandang penting untuk membantu pasien memperoleh penanganan yang sesuai kebutuhan klinis.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.