Menu

Sudah Rutin Olahraga tapi Badan Masih Pegal? Ini Alasan Recovery Bisa Terasa Lebih Lama

25 Juli 2026 00:35 WIB
Sudah Rutin Olahraga tapi Badan Masih Pegal? Ini Alasan Recovery Bisa Terasa Lebih Lama

Sumber: istimewa

HerStory, Jakarta —

Rutin berolahraga, menjaga pola makan, dan mencukupi waktu istirahat sering kali dianggap cukup untuk membantu tubuh pulih setelah beraktivitas. Namun, sebagian orang tetap mengalami pegal berkepanjangan, otot terasa kaku keesokan harinya, atau proses pemulihan yang berlangsung lebih lama dari biasanya. Menurut Seraphim Medical Center, kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa tubuh membutuhkan dukungan tambahan dalam proses pemulihan jaringan.

Seraphim Medical Center menjelaskan bahwa setelah latihan intens, tubuh secara alami mengalami robekan kecil pada serat otot sebagai bagian dari proses pembentukan otot yang lebih kuat. Agar proses tersebut berjalan optimal, tubuh membutuhkan sirkulasi darah yang baik, suplai nutrisi yang cukup ke jaringan, serta kondisi yang mendukung regenerasi sel. Ketika salah satu faktor tersebut terganggu, proses pemulihan dapat berlangsung lebih lambat meski seseorang telah beristirahat.

Spesialis Kedokteran Olahraga Seraphim Medical Center, dr. Nahum, Dipl. CIBTAC, Sp.KO, mengatakan pemulihan setelah berolahraga tidak hanya bergantung pada waktu istirahat, tetapi juga pada proses biologis yang terjadi di dalam tubuh.

"Recovery yang efektif adalah recovery yang aktif—yang membantu tubuh menyelesaikan proses biologisnya lebih cepat dan lebih tuntas. INDIBA hadir untuk mendukung proses itu secara klinis," ujar dr. Nahum.

Untuk mendukung proses tersebut, Seraphim Medical Center menghadirkan INDIBA, terapi noninvasif berbasis radiofrequency 448 kHz atau INDIBA Activ Therapy. Teknologi ini telah digunakan dalam dunia olahraga profesional dan rehabilitasi medis di berbagai negara, serta diterapkan di Seraphim Medical Center dengan pendekatan yang dipersonalisasi di bawah penanganan dokter spesialis kedokteran olahraga. 

Spesialis Kedokteran Olahraga Seraphim Medical Center, dr. Nahum, Dipl. CIBTAC, Sp.KO, mengatakan pemulihan setelah berolahraga tidak hanya bergantung pada waktu istirahat, tetapi juga pada proses biologis yang terjadi di dalam tubuh.

"Recovery yang efektif adalah recovery yang aktif—yang membantu tubuh menyelesaikan proses biologisnya lebih cepat dan lebih tuntas. INDIBA hadir untuk mendukung proses itu secara klinis," ujar dr. Nahum.

Untuk mendukung proses tersebut, Seraphim Medical Center menghadirkan INDIBA, terapi noninvasif berbasis radiofrequency 448 kHz atau INDIBA Activ Therapy. Teknologi ini telah digunakan dalam dunia olahraga profesional dan rehabilitasi medis di berbagai negara, serta diterapkan di Seraphim Medical Center dengan pendekatan yang dipersonalisasi di bawah penanganan dokter spesialis kedokteran olahraga.

Menurut dr. Nahum, frekuensi 448 kHz dipilih karena mampu menjangkau lapisan jaringan yang lebih dalam tanpa menimbulkan panas berlebih di permukaan kulit. Energi tersebut bekerja membantu memperlancar aliran darah dan mendukung proses regenerasi alami tubuh.

"INDIBA tidak hanya bekerja di permukaan. Energinya masuk ke lapisan jaringan yang lebih dalam—otot, tendon, sendi, bahkan tulang—dan mendorong proses biologis yang memang sudah dimiliki tubuh, tapi butuh stimulasi yang tepat untuk berjalan optimal," jelasnya. 

Di lingkungan olahraga profesional, INDIBA telah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari membantu pemulihan otot setelah latihan intens, meredakan ketegangan dan kekakuan otot, mendukung rehabilitasi cedera olahraga, hingga mempersiapkan kondisi tubuh sebelum latihan maupun kompetisi.

Meski demikian, dr. Nahum menegaskan bahwa kebutuhan setiap individu berbeda sehingga pendekatan terapi tidak dapat disamaratakan.

"Setiap individu yang aktif memiliki kondisi jaringan yang berbeda, kebutuhan recovery yang berbeda, dan tujuan yang berbeda. Pendekatan kami selalu dimulai dari evaluasi kondisi aktual pasien," katanya.

Menurutnya, penggunaan INDIBA di Seraphim Medical Center merupakan bagian dari pendekatan kedokteran olahraga yang mempertimbangkan pola gerak, beban latihan, hingga kapasitas pemulihan setiap orang.

"Dalam kedokteran olahraga, kami tidak hanya melihat cedera atau keluhan. Kami melihat keseluruhan pola gerak, beban latihan, dan kapasitas pemulihan seseorang. INDIBA adalah salah satu alat yang membantu kami mengintervensi secara lebih presisi," ujar dr. Nahum.

Terapi ini dinilai relevan bagi mereka yang rutin berolahraga tetapi merasa proses pemulihan belum optimal, individu yang sedang menjalani rehabilitasi cedera olahraga, mereka yang ingin menjaga performa otot dan sendi, maupun orang yang mengalami nyeri otot atau sendi berulang. Namun, sebelum menentukan terapi, Seraphim Medical Center menekankan pentingnya konsultasi dengan dokter untuk memahami kondisi tubuh secara menyeluruh.

"Keputusan terapeutik yang baik selalu berawal dari diagnosis yang baik. Konsultasi bukan formalitas—ini adalah fondasi dari seluruh proses perawatan," kata dr. Nahum.

Sebagai salah satu unit bisnis di bawah Bethsaida Healthcare, Seraphim Medical Center berlokasi di Gading Serpong, Tangerang. Pusat layanan ini mengusung pendekatan functional medicine dengan fokus pada identifikasi akar permasalahan kesehatan serta menghadirkan tiga layanan utama, yaitu Wellness Center, Beauty & Aesthetic Center, dan Sports & Rehabilitation Center, untuk mendukung kesehatan dan gaya hidup aktif secara menyeluruh. 

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Share Artikel:

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Artikel Pilihan