Menu

Tak Sekadar Menghibur, Rumah Sakit Jiwa dari Teater Koma Suguhkan Refleksi tentang Empati

31 Juli 2026 20:58 WIB
Tak Sekadar Menghibur, Rumah Sakit Jiwa dari Teater Koma Suguhkan Refleksi tentang Empati

Sumber: istimewa

HerStory, Jakarta —

Setelah 35 tahun sejak pertama kali dipentaskan, Teater Koma kembali menghadirkan lakon Rumah Sakit Jiwa sebagai produksi ke-237 melalui kolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation. Pementasan yang berlangsung pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki ini hadir dengan interpretasi artistik baru tanpa meninggalkan pesan utamanya tentang kemanusiaan, relasi kuasa, dan berbagai persoalan sosial yang masih relevan hingga kini.

Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation, Billy Gamaliel, mengatakan kehadiran kembali Rumah Sakit Jiwa menjadi bukti bahwa Teater Koma terus berkembang sekaligus melahirkan generasi baru seniman teater di Indonesia.

"Selama hampir lima dekade, Teater Koma telah membuktikan bahwa teater bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga terus berkembang dan melahirkan generasi baru. Kehadiran kembali Rumah Sakit Jiwa sebagai pementasan ke-237 menjadi bukti bahwa semangat berkesenian, regenerasi, dan eksplorasi kreatif terus hidup sekaligus memperkaya khazanah budaya Indonesia. Bakti Budaya Djarum Foundation bangga dapat menjadi bagian dari perjalanan ini. Kami percaya seni memiliki kekuatan untuk menyentuh, menginspirasi, dan menjembatani generasi dalam mengenal serta merayakan kekayaan budaya bangsa. Melalui dukungan terhadap Teater Koma dan berbagai program seni lainnya, kami ingin terus memperkuat ekosistem seni pertunjukan sekaligus mendorong berkembangnya ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Kami berharap teater Indonesia semakin berkembang, semakin dicintai masyarakat, dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri," ujar Billy.

Lakon karya almarhum N. Riantiarno ini mengisahkan Rogusta, seorang dokter baru di rumah sakit jiwa yang dipimpin Profesor Sidarta. Dengan keyakinan bahwa empati dan persahabatan dapat membantu proses penyembuhan pasien, Rogusta berusaha membawa perubahan. Namun, upaya tersebut justru memicu benturan dengan sistem yang telah lama mengakar dan pihak-pihak yang merasa kekuasaannya terancam. Melalui konflik tersebut, Rumah Sakit Jiwa mengajak penonton merefleksikan bagaimana manusia memperlakukan sesamanya di tengah dunia yang dipenuhi ketakutan, prasangka, dan perebutan kuasa.

Pementasan kali ini menghadirkan pendekatan artistik baru melalui perpaduan tata panggung, tata cahaya, tata musik, multimedia, serta rancangan kostum yang mendukung perjalanan cerita. Tata panggung menggunakan struktur bertingkat dan elemen tangga sebagai metafora hubungan antartokoh, sekaligus merepresentasikan hierarki dan dinamika kuasa di dalam rumah sakit jiwa. Sementara komposisi musik garapan Fero A. Stefanus dirancang mengikuti dinamika emosi setiap adegan sehingga memperkuat atmosfer pertunjukan.

Meski menggunakan naskah yang sama seperti pementasan pada 1991, produksi tahun ini lahir dari pembacaan ulang terhadap perubahan zaman. Perbedaan konteks sosial, perkembangan teknologi, hingga meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan mental menjadi bagian dari proses kreatif yang membentuk pementasan terbaru tersebut.

Produser Teater Koma, Ratna Riantiarno, menegaskan bahwa karya ini terus berkembang mengikuti zamannya.

"Meskipun pertama dipentaskan 35 tahun lalu, bukan berarti karya ini berhenti melakukan pencarian terhadap berbagai kemungkinan pemanggungan. Sebagai kelompok bernama ‘Koma’, kami tidak ingin ekspresi artistik berhenti. Naskah tetap menjadi pedoman, tetapi konsep pementasan tahun 1991 bukanlah batas. Justru menjadi titik awal agar Rumah Sakit Jiwa 2026 dapat berkembang dengan kreativitas baru. Dunia yang berbeda menghadirkan tantangan sekaligus peluang untuk menafsirkan kembali naskah ini dengan kreativitas baru tanpa terbebani pementasan sebelumnya," ujar Ratna Riantiarno.

Di balik pementasan terbarunya, Rumah Sakit Jiwa juga menyimpan sejarah penting dalam perjalanan Teater Koma. Naskah ini lahir setelah kelompok teater tersebut mengalami sejumlah pencekalan pementasan pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Berangkat dari diskusi mengenai berbagai persoalan sosial, almarhum N. Riantiarno kemudian merangkumnya menjadi naskah yang berbicara tentang manusia, kekuasaan, dan harapan akan perubahan.

Sutradara Rangga Riantiarno menjelaskan bahwa proses kreatif produksi tidak berhenti pada pembacaan naskah. Para pemain melakukan observasi langsung ke rumah sakit jiwa, berdiskusi dengan psikolog klinis dan psikiater, serta memperdalam berbagai referensi mengenai kesehatan mental agar setiap karakter dibangun berdasarkan empati dan pemahaman yang utuh.

"Komposisi pemain kali ini juga menjadi pengalaman yang menarik. Dari total 115 orang yang terlibat, hanya enam orang yang pernah terlibat dalam Rumah Sakit Jiwa tahun 1991. Selebihnya adalah generasi baru Teater Koma yang memiliki kesempatan mengeksplorasi karakter-karakter dalam lakon ini dengan sudut pandang mereka sendiri. Harapannya, penonton tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga diajak pulang membawa refleksi untuk terus memperlakukan manusia lain sebagai manusia," ujar Rangga Riantiarno.

Selain pendalaman karakter, identitas visual para tokoh juga menjadi perhatian dalam produksi ini. Samuel Wattimena bersama Rima Ananda merancang kostum yang tidak hanya merepresentasikan profesi masing-masing tokoh, tetapi juga mengekspresikan kondisi kejiwaan, dinamika psikologis, serta perjalanan karakter sepanjang pertunjukan.

Pementasan Rumah Sakit Jiwa digelar pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Pertunjukan berlangsung setiap pukul 19.30 WIB, dengan jadwal tambahan pada 1 Agustus dan 2 Agustus 2026 pukul 13.30 WIB. 

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Share Artikel:

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Artikel Pilihan