LVAD di Indonesia (istimewa)
Beauty, kabar baik datang bagi penderita gagal jantung stadium lanjut di Indonesia. Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) berhasil melakukan implantasi Left Ventricular Assist Device (LVAD) CoreHeart 6, perangkat bantu jantung berukuran paling kecil di dunia.
Keberhasilan yang dilakukan di Jakarta pada Rabu (5/8/2026) ini menjadi implantasi pertama di Asia menggunakan teknologi tersebut sekaligus membuka pilihan terapi baru bagi pasien yang selama ini memiliki keterbatasan akses transplantasi jantung.
Selama ini, transplantasi jantung menjadi terapi utama bagi pasien gagal jantung stadium akhir. Namun, prosedur tersebut masih menghadapi tantangan besar, mulai dari minimnya donor hingga terbatasnya tenaga medis yang memiliki kompetensi khusus di bidang transplantasi.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Azhar Jaya, mengatakan kehadiran LVAD menjadi langkah maju dalam penanganan gagal jantung kronis karena tidak hanya berpotensi memperpanjang usia pasien, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup mereka.
"Selama ini terapi utama gagal jantung stadium akhir adalah transplantasi jantung. Namun tantangannya sangat besar karena keterbatasan donor dan dokter dengan kompetensi khusus. Kehadiran teknologi LVAD memberi harapan baru untuk memperpanjang usia sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien," ujar Azhar.
Menurutnya, keberhasilan implantasi ini juga menunjukkan bahwa Indonesia mampu menguasai teknologi medis berkelas dunia. Ia berharap kemampuan tersebut terus dikembangkan melalui transfer pengetahuan kepada lebih banyak tenaga kesehatan agar semakin banyak pasien yang bisa memperoleh terapi serupa.
"Ilmunya jangan berhenti di satu tim. Semakin banyak dokter yang menguasai teknologi ini, semakin banyak pula pasien yang bisa diselamatkan," katanya.
Harapan yang sama disampaikan Founder dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSpan.ai, Dr. Wei Siang Yu. Ia menjelaskan bahwa pengembangan teknologi LVAD tidak berhenti pada pemasangan alat, tetapi juga mencakup pembangunan ekosistem layanan gagal jantung melalui pelatihan dokter, transfer pengetahuan, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
"Ini bukan sekadar menghadirkan perangkat medis, tetapi membangun ekosistem pelayanan gagal jantung yang berkelanjutan melalui pelatihan, inovasi, dan kolaborasi internasasional," ujarnya.
Saat ini, CoreHeart 6 telah digunakan pada lebih dari 1.500 pasien di Tiongkok. Pada sebagian pasien, perangkat tersebut bahkan dapat dilepas setelah dua hingga tiga tahun ketika fungsi jantung menunjukkan pemulihan yang baik. HeartSpan.ai juga tengah mengembangkan teknologi LVAD dengan sistem wireless charging untuk mengurangi risiko infeksi akibat kabel eksternal.
Sementara itu, Kepala Departemen Kardiovaskular RSCM, Birry Karim, mengatakan keberhasilan implantasi pertama di Indonesia merupakan hasil kerja sama tim multidisiplin yang melibatkan dokter jantung, dokter bedah jantung, dokter anestesi, dokter intensif, perawat, hingga tenaga kesehatan lainnya.
Perkembangan pasien pertama pun menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sekitar 24 jam setelah operasi, pasien sudah dapat dilepas dari ventilator, mulai menjalani latihan mobilisasi, serta mengalami perbaikan berbagai parameter klinis. Meski demikian, tim medis masih terus memantau risiko infeksi, perdarahan, dan gangguan fungsi organ yang umum terjadi pada masa pemulihan.
"Sejauh ini kondisi pasien terus membaik. Begitu pasien berhasil melewati fase kritis dan dapat dilepas dari ventilator, kami merasa sangat lega. Ini menjadi milestone penting bagi pengembangan layanan gagal jantung di Indonesia," kata Birry.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.