Mata anak yang terlihat tidak sejajar atau sesekali bergeser ke arah tertentu sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai persoalan penampilan. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda strabismus atau mata juling, yang apabila tidak ditangani dapat memengaruhi fungsi penglihatan dan perkembangan penglihatan anak.
Pentingnya perhatian terhadap kondisi tersebut kembali disoroti bertepatan dengan World Strabismus Day yang diperingati setiap 10 Agustus. Pada momen tersebut, RS Mata JEC @ Menteng meresmikan Pusat Operasi Mata Juling, layanan khusus bagi pasien anak dan dewasa dengan strabismus.
Layanan tersebut mencakup pemeriksaan diagnostik, koreksi kelainan refraksi, terapi ambliopia atau mata malas, latihan penglihatan, hingga operasi otot mata berdasarkan diagnosis dan kebutuhan klinis pasien.
Mata Juling Bukan Sekadar Persoalan Penampilan
Strabismus merupakan kondisi ketika satu mata melihat suatu objek, sementara mata lainnya mengalami penyimpangan atau deviasi. Pergeseran tersebut dapat mengarah ke dalam, luar, atas, maupun bawah.
Kondisi ini dapat mengganggu kerja kedua mata, persepsi kedalaman, serta perkembangan fungsi penglihatan pada anak. Pada masa perkembangan penglihatan, strabismus juga dapat meningkatkan risiko terjadinya ambliopia atau mata malas.
Direktur Utama RS Mata JEC @ Menteng, Dr. Referano Agustiawan, SpM(K), menjelaskan bahwa setiap pasien dapat memiliki penyebab, pola, dan kebutuhan penanganan strabismus yang berbeda. Karena itu, pemeriksaan menyeluruh diperlukan untuk menentukan pilihan terapi yang sesuai.
Selain berdampak terhadap fungsi penglihatan, strabismus juga dapat memengaruhi kondisi psikososial. Pada anak, mata juling dapat menurunkan rasa percaya diri dan meningkatkan risiko perundungan. Sementara pada orang dewasa, kondisi tersebut dapat memengaruhi interaksi sosial, kepercayaan diri, hingga peluang dalam lingkungan profesional.
Kenali Tanda Mata Juling pada Anak
Strabismus tidak selalu muncul secara terus-menerus dan terlihat jelas. Salah satu jenisnya adalah strabismus latent atau tersembunyi, yaitu kecenderungan mata mengalami deviasi yang biasanya tidak terlihat dalam kondisi sehari-hari dan baru terdeteksi melalui pemeriksaan tertentu.
Ada pula strabismus intermittent atau hilang-timbul, ketika mata juling hanya muncul pada kondisi tertentu, misalnya saat anak lelah, mengantuk, melamun, sakit, atau kehilangan fokus. Sementara itu, strabismus alternating atau bergantian dapat membuat ketidaksejajaran berpindah antara mata kanan dan kiri.
Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics sekaligus Wakil Ketua INAPOSS, Dr. Dr. Lely Retno Wulandari, SpM(K), menjelaskan bahwa strabismus tersembunyi tidak selalu mudah dikenali. Posisi mata anak dapat terlihat normal ketika sedang fokus, kemudian tampak bergeser ketika lelah atau melalui foto dan rekaman video.
Pada bayi berusia sekitar tiga hingga empat bulan, mata terkadang belum sepenuhnya terkoordinasi karena sistem penglihatan masih berkembang. Namun, apabila ketidaksejajaran menetap setelah usia empat bulan, kondisi tersebut umumnya tidak membaik dengan sendirinya dan dapat memengaruhi penglihatan tiga dimensi, persepsi jarak, serta meningkatkan risiko ambliopia.
Orang tua perlu lebih memperhatikan apabila anak:
- sering memiringkan kepala;
- menutup salah satu mata;
- menyipit ketika melihat;
- kesulitan menangkap benda;
- sering menabrak;
- sulit memperkirakan jarak; atau
- mengeluhkan penglihatan ganda.
Juling yang muncul secara mendadak, terutama jika disertai sakit kepala, muntah, kelopak mata turun, kelemahan anggota tubuh, atau gangguan saraf lainnya, perlu segera diperiksa.
Deteksi Dini Penting untuk Anak
Deteksi awal dapat dilakukan dengan memperhatikan kesimetrisan refleks cahaya pada kornea kedua mata, posisi bola mata, serta perubahan arah pandangan yang terlihat pada foto atau video. Meski demikian, tanda tersebut tetap perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan mata secara menyeluruh.
Pemeriksaan diperlukan untuk menilai posisi mata, ketajaman penglihatan, fungsi penglihatan binokular, serta risiko ambliopia.
Strabismus sendiri dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti riwayat keluarga, kelahiran prematur, berat lahir rendah, kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, perbedaan ketajaman penglihatan antara kedua mata, serta gangguan pada otot atau saraf penggerak mata. Pada orang dewasa, kondisi neurologis, trauma, diabetes, hipertensi, dan penyakit sistemik tertentu juga dapat menjadi penyebab.
Penanganan Disesuaikan dengan Kondisi
Penanganan strabismus tidak dilakukan dengan metode yang sama untuk setiap pasien. Dokter akan mempertimbangkan usia, penyebab, arah dan besar deviasi, ketajaman penglihatan, kelainan refraksi, ambliopia, fungsi penglihatan binokular, serta kondisi kesehatan yang menyertai.
Terapi dapat berupa penggunaan kacamata, termasuk lensa khusus atau prisma pada pasien tertentu, terapi ambliopia melalui patching, latihan penglihatan berdasarkan indikasi medis, hingga operasi otot mata apabila terapi nonbedah belum memberikan hasil yang memadai atau operasi menjadi pilihan yang sesuai berdasarkan diagnosis.
Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus sekaligus Ketua Layanan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K), menegaskan bahwa keputusan operasi tidak dibuat hanya untuk memperbaiki penampilan.
Menurutnya, tindakan operasi ditujukan untuk memperbaiki fungsi mata secara menyeluruh dan, sedapat mungkin, mencapai penglihatan binokular tunggal. Perencanaan tindakan dilakukan secara individual berdasarkan kondisi masing-masing pasien dan disertai pemantauan setelah operasi secara berkesinambungan.
Melalui Pusat Operasi Mata Juling, RS Mata JEC @ Menteng menyediakan penanganan terintegrasi bagi pasien anak dan dewasa, sekaligus membantu pasien serta keluarga memahami kondisi, tujuan terapi, dan pertimbangan medis sebelum menentukan tindakan.