Menu

Irish Bella: Dalam IVF, Dokter dan Pasien Harus Jadi Tim

10 September 2026 02:40 WIB
Irish Bella: Dalam IVF, Dokter dan Pasien Harus Jadi Tim

The Alhaya Fertility Journey 2026 (istimewa)

HerStory, Jakarta —

Moms, menjalani program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) bukan hanya soal teknologi medis yang digunakan. Pengalaman Irish Bella menunjukkan bahwa menemukan dokter yang sesuai dengan kebutuhan dan merasa nyaman berkomunikasi juga menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Hal ini ia sampaikan dalam The Alhaya Fertility Journey 2026 di Jakarta, September 2026.

Dalam acara yang mempertemukan pasien, keluarga, dan tim Alhaya Fertility Kuala Lumpur tersebut, Irish menceritakan perjalanan dirinya bersama suami dalam mendapatkan keturunan. Sebelum menjalani IVF, pasangan ini telah mencoba inseminasi sebanyak dua kali dan menjalani perjalanan IVF selama sekitar satu tahun.

Irish mengaku pengalaman IVF pertamanya tidak mudah, baik secara fisik maupun emosional.

“Rasanya campur aduk. Bukan hanya secara fisik karena sakit, tetapi secara emosi juga luar biasa. Saat stimulasi hormon, mood swing itu sangat terasa,” cerita Irish.

Setelah mengalami kegagalan IVF, Irish dan suami kembali mencari pilihan yang sesuai. Salah satu pertimbangannya adalah keinginan suami agar program ditangani dokter perempuan, termasuk saat menjalani prosedur dan tindakan medis.

Keduanya kemudian mendapat rekomendasi dan pendampingan dari TripMedis hingga dipertemukan dengan Alhaya Fertility Kuala Lumpur dan Dr. Wan SYahirah Binti Yang Mohsin atau Dr. Sera.

Irish menjalani dua siklus IVF di Alhaya. Pada siklus pertama, tim medis sudah memperoleh embrio, meski jumlah blastokistanya belum banyak. Menurut Irish, hasil tersebut menunjukkan perkembangan dibandingkan pengalaman sebelumnya ketika ia tidak berhasil mendapatkan blastokista sama sekali. 

Pada siklus berikutnya, tim medis menerapkan pendekatan berbeda dan memperoleh hasil yang lebih baik.

Namun, teknologi bukan satu-satunya hal yang membuat Irish merasa nyaman. Ia menilai dukungan emosional dari dokter juga penting selama menghadapi proses yang penuh ketidakpastian.

“Menurut saya, kita harus cocok dengan dokternya. Dokternya harus support sama kita,” ujar Irish.

Ia juga mengungkapkan bahwa ketidakpastian menjadi salah satu sumber stres selama program hamil.

“Saya tidak suka hal-hal yang tidak pasti,” ungkapnya.

Dr. Sera menjelaskan, pasien dengan riwayat tidak berhasil mendapatkan blastokista membutuhkan evaluasi dan strategi yang lebih individual. Pendekatan dapat mencakup penyesuaian protokol stimulasi, obat dan dosis, serta teknologi laboratorium seperti Embryoscope+ Timelapse dan AI Scoring. PICSI juga digunakan untuk seleksi sperma, sedangkan GX-Media mendukung perkembangan embrio dalam lingkungan kultur.

Meski demikian, Dr. Sera menegaskan bahwa IVF tidak dapat menjamin keberhasilan 100 persen.

“Namanya IVF, hasilnya tetap tidak bisa 100 persen keberhasilan. Tetapi kami mencoba memberikan yang terbaik dengan teknologi terbaik dan kepakaran yang kami miliki,” jelasnya.

Menurut Dr. Sera, komunikasi antara pasien dan dokter juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

“Dalam bayi tabung, dokter dan pasien adalah tim,” ujarnya.

Mizz Rosie, Founder Menuju Dua Garis, turut menyoroti pentingnya dukungan pasangan dan keluarga karena terdapat banyak hal dalam perjalanan program hamil yang tidak dapat dikontrol. Irish sendiri mendapat dukungan dari keluarga, termasuk bantuan suami dan anaknya ketika menjalani suntikan selama program.

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Share Artikel:

Oleh: Azka Elfriza

Artikel Pilihan