Menu

Obat Ozempic Tak Hanya untuk Turunkan Berat Badan, Ini Temuan Terbarunya dari Studi Australia

11 September 2026 22:58 WIB
Obat Ozempic Tak Hanya untuk Turunkan Berat Badan, Ini Temuan Terbarunya dari Studi Australia

Ilustrasi pil. (Freepik/jcomp)

HerStory, Jakarta —

Selama ini, Ozempic lebih dikenal sebagai obat yang digunakan untuk diabetes sekaligus ramai diperbincangkan karena efeknya dalam membantu menurunkan berat badan. Namun, studi terbaru dari Griffith University, Australia, menemukan adanya potensi lain dari obat berbahan aktif semaglutide tersebut.

Penelitian ini menemukan bahwa penggunaan semaglutide berkaitan dengan risiko rawat inap psikiatris yang lebih rendah pada orang dengan gangguan bipolar.

Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisis data 14.694 orang dengan gangguan bipolar di Swedia selama periode 2009 hingga 2024. Dari jumlah tersebut, sekitar 5.200 orang tercatat menggunakan obat golongan GLP-1 receptor agonist (GLP-1RA).

Hasilnya cukup menarik. Orang dengan gangguan bipolar yang menggunakan semaglutide memiliki risiko 21 persen lebih rendah untuk menjalani rawat inap karena alasan psikiatris dibandingkan saat mereka tidak menggunakan obat tersebut.

Profesor Mark Taylor dari Griffith University yang memimpin penelitian mengatakan, temuan ini menambah bukti mengenai kemungkinan manfaat GLP-1 yang tidak hanya berkaitan dengan diabetes dan obesitas.

“Temuan ini menambah bukti yang berkembang bahwa agonis reseptor GLP-1 mungkin memiliki manfaat di luar pengobatan diabetes dan obesitas, serta dapat mewakili jalan baru yang menjanjikan untuk penelitian bipolar,” ujar Taylor.

Semaglutide sendiri merupakan zat aktif yang digunakan dalam beberapa obat, termasuk Ozempic untuk pengelolaan diabetes dan Wegovy untuk manajemen berat badan.

Ada Hubungannya dengan Kesehatan Mental?

Gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang ekstrem. Seseorang dapat mengalami episode depresi maupun mania dengan tingkat keparahan yang berbeda.

Dalam kondisi tertentu, gejalanya dapat menjadi cukup berat hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Para peneliti menduga, aktivitas GLP-1 mungkin berhubungan dengan sejumlah proses biologis yang terjadi di otak. Salah satunya adalah peradangan dan stres seluler yang sebelumnya juga dikaitkan dengan gangguan bipolar.

Karena itu, ada kemungkinan obat GLP-1 memiliki efek terhadap proses yang berhubungan dengan kestabilan suasana hati. Namun, mekanisme pastinya masih perlu dipelajari lebih lanjut.

Menariknya, hasil yang sama tidak terlihat pada semua obat GLP-1 yang diteliti. Liraglutide dan dulaglutide tidak menunjukkan kaitan dengan penurunan risiko rawat inap psikiatris seperti yang terlihat pada semaglutide.

Temuan tersebut membuat para peneliti menilai bahwa kemungkinan manfaat terhadap kesehatan mental mungkin tidak berlaku secara sama untuk seluruh obat dalam kelompok GLP-1.

Jangan Asal Pakai Ozempic untuk Gangguan Bipolar

Meski hasil penelitian terdengar menjanjikan, bukan berarti Ozempic kini dapat dianggap sebagai obat untuk gangguan bipolar.

Penelitian tersebut bersifat observasional. Artinya, para peneliti melihat hubungan antara penggunaan obat dan risiko rawat inap, tetapi belum dapat memastikan bahwa semaglutide secara langsung menyebabkan risiko tersebut menjadi lebih rendah.

Masih ada kemungkinan faktor lain yang ikut memengaruhi hasil penelitian.

Karena itu, dibutuhkan penelitian lanjutan, termasuk uji klinis, untuk mengetahui apakah semaglutide memang memiliki manfaat langsung terhadap gejala atau perjalanan gangguan bipolar.

Temuan ini juga menjadi bagian dari semakin banyaknya penelitian yang melihat kemungkinan hubungan obat GLP-1 dengan kesehatan mental. Sebelumnya, penelitian lain menemukan adanya kaitan antara penggunaan obat GLP-1 dengan risiko yang lebih rendah terhadap memburuknya beberapa kondisi kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan.

Jadi, meski Ozempic dan obat GLP-1 lainnya kini semakin populer, manfaatnya terhadap kesehatan mental masih menjadi area penelitian. Untuk saat ini, obat tersebut tetap tidak boleh digunakan untuk mengatasi gangguan bipolar tanpa rekomendasi dan pengawasan dokter.

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Share Artikel:

Oleh: Azka Elfriza

Artikel Pilihan