Menu

Bukan Sekadar Bugar, Lapangan Olahraga Kini Jadi Ruang Sosial Baru

15 September 2026 01:19 WIB
Bukan Sekadar Bugar, Lapangan Olahraga Kini Jadi Ruang Sosial Baru

Sumber konten: istimewa

HerStory, Jakarta —

Niken awalnya hanya ingin mengisi waktu luang. Karena sedang punya banyak waktu kosong, perempuan 26 tahun itu kembali mencoba tenis, olahraga yang pernah dimainkannya saat SMP. Ia tidak sedang mencari networking. Tidak pula berniat membangun circle baru.

Namun, beberapa kali datang ke lapangan membuat Niken mengenal orang-orang baru. Sebagian bahkan berusia lebih tua darinya dan memiliki posisi yang cukup strategis di tempat mereka bekerja. Dari teman bermain tenis di lapangan, hubungan itu berkembang menjadi pertemanan. Niken bahkan sempat didorong untuk bergabung dengan Persatuan Lawn Tennis Indonesia atau PELTI dan mengikuti turnamen.

“Dari relasi ini saya menambah banyak teman dan jadi punya teman dekat,” kata Niken saat dihubungi Herstory, dikutip Senin (14/9/2026).

Meski begitu, ia masih memilih bermain santai, "ya, mental saya belum semantap Sabalenka,” ujarnya sambil bercanda.

Kisah Niken mungkin terdengar sederhana. Ia hanya kembali melakukan olahraga lama karena punya banyak waktu luang. Tetapi, dari keputusan tersebut muncul sesuatu yang tidak direncanakannya, yaitu teman baru, relasi, dan kesempatan untuk mengenal lingkungan olahraga yang lebih luas.

Pengalaman tersebut menunjukkan perubahan kecil dalam cara orang berinteraksi. Olahraga tidak selalu berhenti setelah sesi latihan selesai. Bagi sebagian masyarakat urban, baik lapangan maupun komunitas olahraga mulai menjadi tempat untuk bertemu orang lain.

Ketika Olahraga Menjadi Alasan untuk Bertemu

Data Badan Pusat Statistik atau BPS menunjukkan, 37,27% penduduk Indonesia berusia lima tahun ke atas berolahraga pada 2025. Di DKI Jakarta, angkanya mencapai 57,27%, tertinggi dibandingkan provinsi lainnya. Alasan kesehatan dan kebugaran menjadi alasan utama masyarakat berolahraga.

Angka tersebut menunjukkan bahwa olahraga telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat. Namun, semakin banyaknya orang yang berolahraga juga membawa perubahan pada cara aktivitas itu dijalani.

Riset Populix tentang aktivitas olahraga pekerja Indonesia menunjukkan bahwa olahraga mulai menjadi bagian dari rutinitas yang lebih luas. Dari 809 responden yang berolahraga, 60% biasanya langsung pulang setelah berolahraga. Namun, rutinitas tersebut juga kerap berlanjut ke aktivitas sosial. Sebanyak 39% responden biasanya nongkrong atau ngopi setelah berolahraga, 37% memilih makan bersama teman atau komunitas, sementara 22% melanjutkan aktivitas sosial hingga malam hari.

Artinya, meski olahraga belum tentu menggantikan kebiasaan nongkrong. Tetapi bagi sebagian orang, olahraga bisa menjadi alasan baru untuk bertemu.

Survei yang sama juga menunjukkan bahwa 40% responden menyebut membangun relasi profesional sebagai salah satu alasan berolahraga. Sebanyak 33% menyebut keterlibatan dalam komunitas, sementara 91% setuju bahwa olahraga dapat membantu membangun hubungan dan networking.

Pengalaman Niken menggambarkan hal tersebut secara langsung. Ia tidak datang ke lapangan dengan tujuan mencari koneksi profesional. Namun karena bertemu dengan orang yang sama berulang kali, bermain bersama, dan berbincang setelah latihan, hubungan pun terbentuk dengan sendirinya.

Tetapi, hubungan tersebut tidak selalu berlanjut ke luar lapangan, "aku bedain antara temen main tennis, temen main nongkrong,” kata Niken.

Jika bermain dengan teman yang usianya terpaut cukup jauh, Niken biasanya langsung pulang setelah tenis. Sementara ketika bermain dengan teman sebaya, ia lebih sering melanjutkan kegiatan dengan makan atau ngopi bersama.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa olahraga tidak serta-merta menggantikan tempat nongkrong atau circle pertemanan yang sudah ada. Olahraga justru menciptakan ruang sosial tambahan. Ada hubungan yang berhenti sebagai teman bermain. Ada pula yang berkembang menjadi pertemanan di luar lapangan.

Dari Komunitas ke Gaya Hidup

Ruang sosial baru tersebut semakin terlihat dari berkembangnya komunitas olahraga. Laporan global Year in Sport 2025 dari Strava, yang menganalisis miliaran aktivitas dan survei terhadap lebih dari 30.000 responden pengguna maupun non-pengguna Strava, mencatat jumlah klub baru di platform tersebut hampir naik empat kali lipat sepanjang 2025 hingga mencapai satu juta klub. Klub hiking tumbuh 5,8 kali lipat, sementara klub lari meningkat 3,5 kali lipat. Aktivitas yang diorganisasi klub juga naik 1,5 kali lipat.

Strava juga menemukan bahwa generasi Z semakin menggunakan olahraga untuk bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat serupa. Jumlah Gen Z yang menyebut olahraga sebagai cara bertemu orang dengan minat yang sama tercatat 39% lebih tinggi dibandingkan Gen X.

Data tersebut merupakan gambaran global, bukan angka khusus Indonesia. Namun, fenomenanya terasa relevan dengan munculnya berbagai komunitas olahraga di kota-kota besar Indonesia, mulai dari lari, tenis, padel, hingga olahraga lainnya.

Pada akhirnya, seseorang mungkin datang karena ingin berolahraga. Tetapi, perasaan memiliki komunitas bisa menjadi salah satu alasan untuk terus kembali. Dan ketika olahraga dilakukan semakin rutin, kebutuhan di sekitarnya pun ikut bertambah.

Ketika Olahraga Mulai Mengubah Cara Berbelanja

Niken merasakan perubahan tersebut. Semakin sering bermain tenis, semakin banyak pula kebutuhan yang muncul. Ada biaya coaching, lapangan, pakaian, hingga peralatan yang harus dipilih dengan lebih serius.

“Untuk coaching saja sudah menguras dompet,” curhat Niken.

Raket menjadi salah satu kebutuhan penting. Raket pertama Niken adalah Wilson, yang direkomendasikan pelatihnya ketika ia masih pemula.

Baginya, memilih raket tidak bisa sembarangan.

“Raket itu kayak milih jodoh.”

Kalimat tersebut memang terdengar seperti candaan. Namun, di baliknya ada perubahan perilaku yang cukup jelas. Aktivitas yang awalnya dilakukan untuk mengisi waktu luang perlahan membentuk kebutuhan baru.

Riset Populix mencatat, 64% pekerja Indonesia mengeluarkan dana untuk kebutuhan olahraga dalam tiga bulan terakhir, dengan rata-rata pengeluaran kelompok tersebut mencapai Rp391.844 per bulan.

Pengeluaran tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas olahraga. Sebanyak 72% responden membeli pakaian olahraga dan 67% membeli sepatu, sementara 30% membeli perangkat wearable.

Olahraga akhirnya tidak hanya memiliki aktivitas dan komunitas. Di sekitarnya muncul pula kebutuhan akan perlengkapan, teknologi, pengalaman, hingga tempat untuk berkumpul.

Perubahan perilaku tersebut kemudian ikut dibaca oleh industri.

Ketika Toko Olahraga Mulai Menawarkan Pengalaman

Erajaya Active Lifestyle menjadi salah satu contoh bagaimana perubahan tersebut diterjemahkan ke dalam bisnis. Pada Agustus 2026, perusahaan membuka performance store pertama ASICS di Indonesia di fX Sudirman. Gerai tersebut menghadirkan pemindaian kaki 3D, teknologi FitAI, treadmill untuk menguji performa, serta area untuk mencoba sepatu. Pembukaannya juga diikuti Fun Tennis dan Fun Run 5K yang melibatkan komunitas olahraga dan masyarakat Jakarta.

Format tersebut disebut CEO Erajaya Active Lifestyle Djohan Sutanto sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk menghadirkan gerai yang semakin sesuai dengan gaya hidup aktif masyarakat.

Hal serupa terlihat pada Wilson Plaza Indonesia. Gerai tersebut tidak hanya menyediakan kebutuhan olahraga raket, tetapi juga menghadirkan Trial Area dan Wilson Lounge sebagai bagian dari pengalaman konsumen dan interaksi komunitas. Produk yang tersedia mencakup kebutuhan tenis, padel, dan pickleball.

“Melalui brand house dengan konsep terbaru ini, kami ingin menghadirkan ruang yang tidak hanya menyediakan berbagai kebutuhan olahraga raket, tetapi juga mendorong interaksi antara brand, konsumen, dan komunitas,” ujar Djohan.

Perubahan itu membuat toko olahraga memiliki fungsi yang lebih luas. Konsumen tidak hanya datang untuk membeli produk, tetapi juga bisa mencoba, melihat pengalaman produk secara langsung, dan bertemu dengan komunitas.

Hal serupa terlihat dari kegiatan Urban Republic melalui URMAZING RUN 2026. Event tersebut menggunakan konsep team challenge yang mengharuskan peserta berlari sekaligus berkomunikasi, bekerja sama, dan menyusun strategi. Lebih dari 500 peserta berasal dari komunitas lari, pelanggan Urban Republic, dan masyarakat umum.

Dengan konsep tersebut, olahraga ditempatkan bukan hanya sebagai aktivitas fisik, tetapi juga sebagai pengalaman yang mempertemukan orang.

Di tengah perubahan perilaku konsumen tersebut, ekspansi bisnis tetap membutuhkan pengelolaan yang disiplin. Head of Legal Counsel & Corporate Affair Erajaya Group Amelia Allen mengatakan perseroan akan terus berfokus pada optimalisasi produktivitas jaringan ritel, penguatan portofolio produk dan layanan, serta efisiensi operasional.

Dalam perjalanan 30 Tahun Erajaya Group, perkembangan active lifestyle menjadi salah satu bagian dari diversifikasi bisnis perusahaan. Di balik lapangan olahraga yang semakin ramai, ada bisnis yang juga sedang berusaha membaca perubahan kebiasaan konsumen.

Tetapi, Apakah Olahraga Benar-Benar untuk Semua Orang?

Di balik semakin ramainya olahraga sebagai lifestyle, ada satu pertanyaan yang tidak kalah penting. Siapa yang bisa mengaksesnya?

Tidak semua olahraga membutuhkan biaya yang sama. Ada aktivitas yang bisa dilakukan hampir tanpa biaya. Namun, ada pula yang membutuhkan lapangan, pelatih, perlengkapan, pakaian khusus, atau biaya keanggotaan.

Penelitian mengenai padel pada masyarakat urban di Indonesia menunjukkan bahwa olahraga tersebut tidak hanya dipandang sebagai aktivitas fisik, tetapi juga sebagai ruang sosial dan bagian dari identitas gaya hidup. Penelitian itu juga melihat adanya konsumsi simbolis dan potensi munculnya pembedaan sosial dalam perkembangan olahraga tersebut.

Di sinilah olahraga sebagai lifestyle memiliki dua sisi. Ia bisa mempertemukan orang. Tetapi ketika biaya dan akses menjadi bagian dari pengalaman, olahraga juga bisa menciptakan batas baru. Batas tersebut bisa berupa harga, lokasi, fasilitas, hingga lingkungan sosial.

Pengalaman Niken memperlihatkan kedua sisi itu sekaligus. Ia mendapatkan banyak relasi dari tenis, termasuk orang-orang yang jauh lebih tua darinya. Ia mendapatkan teman baru dan bahkan kesempatan mengenal dunia turnamen.

Namun, ia juga merasakan biaya yang mengikuti aktivitas tersebut. Coaching membutuhkan uang. Raket harus dipilih dengan tepat. Dan tidak semua teman bermain otomatis menjadi teman nongkrong. Olahraga ternyata tidak sesederhana datang, bermain, lalu pulang.

Cara Baru untuk Bertemu

Mungkin itu yang membuat olahraga semakin menarik bagi masyarakat urban. Di tengah kehidupan yang semakin padat, orang tetap membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga membutuhkan teman, komunitas, dan kesempatan bertemu orang baru.

Dulu, pertemuan mungkin dimulai dari ajakan makan atau ngopi. Sekarang, bisa saja dimulai dengan ajakan olahraga bareng. 

Niken awalnya hanya ingin mengisi waktu luang. Ia tidak sedang mencari networking. Ia juga tidak berencana membangun circle baru. Namun, tenis mempertemukannya dengan orang-orang yang kemudian menjadi teman dan membuka jaringan baru.

Di saat yang sama, ia juga mulai mengenal dunia perlengkapan olahraga lebih jauh, termasuk Wilson, raket pertamanya.

Kisah Niken menunjukkan bahwa olahraga tidak harus menggantikan nongkrong untuk menjadi ruang sosial.

Cukup dengan mempertemukan orang-orang secara rutin, sebuah lapangan bisa menjadi tempat lahirnya percakapan, pertemanan, bahkan kesempatan baru.

Pada akhirnya, mungkin yang berubah bukan kebutuhan kita untuk bersosialisasi. Yang berubah adalah cara kita menemukan tempat untuk melakukannya.

Dan di tengah kehidupan kota yang semakin sibuk, mungkin tidak semua orang datang ke lapangan hanya untuk menjadi lebih bugar. Sebagian mungkin juga sedang mencari alasan untuk keluar rumah, bertemu orang lain, dan menemukan kembali rasa menjadi bagian dari sebuah komunitas.

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Share Artikel:

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Artikel Pilihan